Varlotta akan memiliki sejuta alasan untuk menolak bertemu dengan Brandon guna membahas hal pribadi, yakni hubungan di antara mereka berdua. Namun, jika sudah menyangkut soal bisnis, maka Varlotta harus menerima ajakan pria itu berjumpa. Walau, dengan keterpaksaan.
Tempat yang dipilihnya adalah bar. Varlotta menentukan. Enggan menerima ide licik dari Brandon makan malam di restoran. Ia sudah tahu taktik pria itu. Varlotta jelas tak akan masuk dalam jebakan yang dibuat, kali ini. Cukup hanya dua bulan lalu, dirinya berhasil diajak makan pria itu.
Masih diingat dengan jelas bagaimana Brandon mengambil kesempatan dalam kesempitan. Ya, ia seperti dilecehkan. Pria itu berupaya selalu melakukan kontak fisik dengannya. Tentu saja hal tersebut membuat Varlotta merasa direndahkan. Ia wanita berkelas yang menjaga harga diri.
Dan, tak akan kejadian memalukan menimpanya kembali. Varlotta sudah menyiapkan beberapa antisipasi. Termasuk siap melakukan perlawanan dengan tamparan dan kata-kata cacian. Andai saja nanti, Brandon bersikap yang tidak sopan atau mencoba perbuatan tak pantas kepadanya.
"Satu nilai minus lagi untukmu." Varlotta menggumam pelan sembari memerhatikan arloji mewahnya berlapiskan berlian yang tengah dikenakan di tangan kanan putih mulusnya.
"Kau hampir telat satu jam dari waktu yang sudah kita tentukan." Varlotta pun kembali mengoceh pelan dengan nada kian kesal. Terlihat juga pada ekspresi yang terpamerkan di wajah.
"Sampai 15 menit lagi tidak datang, aku akan pulang. Persetan, menunggumu," tambah wanita itu dalam suara yang masih kecil. Namun, tegas. Sudah dibulatkannya tekad.
Varlotta merasa harus menunjukkan rasa jengkel secara lisan, berujar sendiri. Ia tak dapat menyembunyikan. Terutama untuk segaal sesuatu yang sudah menyebabkan dirinya menjadi kesal. Terutama, menanti seseorang dalam jangka waktu lebih lama dari yang sudah disepakati. Brandon tetap melakukan, walau sudah tahu bahwa dirinya tak menyukai hal tersebut.
Varlotta bahkan telah menandaskan sekitar delapan gelas berukuran besar wine dingin guna menghilangkan kejenuhan menunggu. Nyatanya, tidak berhasil. Ia justru mabuk. Walau memang, masih dapat diatasi. Ya, kesadaran tetap terjaga agar bisa berdiskusi dengan benar nantinya.
"Hey, Honey. Aku minta maaf karena sudah datang terlambat dan membuat kau harus menunggu."
"Menjijijikan," ujar Varlotta dalam intonasi suaranya yang cukup keras agar dapat didengar Brandon.
"Aku sebenarnya tidak ingin datang terlambat. Aku sempat berencana untuk membatalkan rencana kita bertemu di sini. Tapi, urusan di kantor bisa dengan cepat atasi. Jadi, aku langsung berangkay kemari."
"Lebih bagus jika dibatalkan." Varlotta meloloskan tanggapan dengan suara tetap sama seperti tadi. Namun, nada lebih sinis. Begitu pula ekspresinya.
"Tidak mungkin akan aku batalkan, Honey. Kau tahu sendiri bagaimana rasa rinduku yang besar."
"Menjijikan ucapanmu," ujar Varlotta dengan kedua kata diberikan penekanan yang begitu jelas.
"Kau tidak penasaran apa urusanku, Honey? Aku akan ceritakan semua jika kau ingin mengetahui alasannya. Agar aku tidak dianggap berbohong."
Varlotta menggeleng cepat. "Bukan urusanku. Dan, aku tidak akan pernah merasa tertarik sedikit pun."
"Jangan bicara begitu, Honey. Aku benar-benar ingin minta maaf atas keterlambatanku hari ini."
Varlotta langsung melemparkan tatapannya yang tajam ke arah depan, tepat pada sosok Brandon di hadapannya. Ingin menunjukkan bahwa tidak suka akan panggilan pria itu yang dialunkan mesra. Ia jijik mendengar. Tidak hanya sekarang merasakan demikian. Namun, setiap kali mereka berjumpa. Menyebabkan mood dan suasana hatinya menjadi terganggu.
"Kau terlambat? Sudah bukan menjadi hal yang baru lagi bukan? Aku tidak akan heran dan kau tidak perlu untuk meminta maaf. Aku sama sekali tidak tertarik alasan yang kau gunakan.”
Varlotta menyeringai sinis. “Kau menepati janji untuk datang saja sudah cukup. Setidaknya bisa diselesaikan secara cepat urusan di antara kita,” jawabnya memberikan sebuah penegasan.
"Walau, kau tadi mengatakan jika kau berencana untuk tidak datang. Aku senang acara bertemu kita dibatalkan. Tapi, tetap saja masalah pekerjaan kita tidak akan selesai karena ditunda. Lebih baik untuk segera dituntaskan agar tidak perlu bertemu lagi."
Varlotta sengaja memperlebar lagi senyum sinis di wajah, manakala tatapan kedua mata Brandon mengalami perubahan. Sorot yang mulai menampakkan amarah. Walau, tidak cukup kentara. Namun, ia yakin akan dapat memancing kemarahan pria itu yang lebih besar lagi. Akan menyenangkan. Ia tentunya sudah siap untuk meladeni. Menyerah pada Brandon tidak pernah sekalipun dipikirkan. Harus melawan. Harga dirinya tak membiarkan pria itu menang.
“Tentu aku akan menepati janji untuk datang. Selain karena tanggung jawab mengurus proyek bernilai milyaran dollar dengan baik. Aku senang bisa bertemu denganmu, Miss Vandara. Kita bisa makan berdua. Minum bersama beberapa jam. Rasanya akan sangat menyenangkan untukku."
"Jadi, meskipun aku sempat berniat tidak datang, aku memutuskan untuk menepati janji yang sudah kita buat. Demi aku bisa bertemu denganmu. Kau harus tahu. Makanya, aku mengatakan ini."
Demi Tuhan, cara Brandon melontarkan setiap kata sungguh menjijikan untuk didengar. Perut menjadi mual dan ingin muntah. Reaksi seperti ini bukan pertama kali dialaminya. Bahkan, setiap berjumpa langsung dengan pria itu. Tidak pernah menyebabkan dirinya merasakan kesan baik.
"Terserah apa katamu," sahut Varlotta dingin.
"Jika pria lain melihatmu bereaksi begini, mereka pasti akan marah. Tapi, aku berbeda, Sayang. Aku akan semakin senang. Bagaimana pun sikap yang kau tunjukkan, aku akan suka. Bagiku, kau selalu terlihat seksi. Mau kau tersenyum atau tidak."
Varlotta langsung meningkatkan kewaspadaan, saat menyadari Brandon ingin mendekat ke arah dirinya. Ia membusungkan d**a, tak memerlihatkan penghindaran. Andai saja, Bramdon coba macam-macam dan melakukan sesuatu yang melecehkannya. Maka, sudah disiapkan antisipasi. Ya, telah terpikirkan memberikan pria itu tamparan serta pukulan bertubi di wajah. Jika nantinya harus menerima konsekuensi atau hukuman, ia siap menghadapi. Lagipula, dirinya tidak secara penuh bersalah. Brandon mencari masalah dengannya. Wajib untuknya melakukan pembelaan.
"Bagaimana denganmu, Sayang? Kau juga senang menghabiskan waktu bersamaku bukan? Jika menurutmu di sini terlalu ramai dan berisik sampai kita tidak bisa bermesraan. Bagaimana jika kita pindah lokasi saja? Pergi ke hotel atau mansion milikku saja? Bisa juga apartemenmu.”
Varlotta kembali menambah delikan mata, kemarahannya bertambah. Lantas, didorong tubuh Brandon agar menjauh darinya. Varlotta juga bangun dari posisi duduk. Kedua tangan sudah dikepalkan. Sungguh bersinggungan dengan pria itu membuatnya menjadi semakin jijik.
"Sialan kau!" Varlotta spontan mengumpat, emosi dan amarahnya langsung membuncah di d**a.
"Haha. Santai sedikit, Sayang. Jangan kesal, ya. Jika kau begitu. Aku tambah senang. Keseksianmu bertambah di mataku. Jangan menggodaku."
“Mulut dan pikiranmu sungguh kotor!” seru Varlotta begitu kesal. Emosinya tidak akan bisa diredam.
“Tolong berhenti marah kepadaku, Sayang. Kau tampak semakin menarik untukku. Wajahmu yang datar dan galak tetap terlihat kian seksi. Jangan menggodaku terus. Sudah aku peringatkan tadi, bukan? Kau tidak bisa mengerti juga ucapanku."
Brandon terkekeh dengan suara cukup kencang dan kepalanya dianggukan. Betapa manis Varlotta dengan ekspresi yang marah. Wanita itu sungguh tambah menarik baginya. Rasa penasarannya akan tubuh Varlotta semakin tidak bisa untuk dibendung.
"Aku sudah mengerti ucapanmu, Sayang. Tolong jangan menganggap apa pun yang aku katakan tadi dengan serius. Aku hanya ingin bergurau saja. Kau terpancing dan marah. Tapi, kau tambah seksi."
"Nanti saja bagaimana kau lanjutkan godaan? Agar aku tidak semakin tersiksa dengan gairahku."
“Tutup mulut kotormu itu segera! Sebelum kau akan menyesalinya nanti. Aku serius dengan apa yang aku katakan saat ini. Jika kau menganggap remeh, aku akan membuktikan. Kau harus merasakannya."
“Waahh. Kau akan membuktikan? Apa itu, Sayang? Apakah ciuman untukku? Dengan senang hati aku akan menerima. Pasti cumbuanku akan lebih bagus darimu karena kau belum punya pengalaman."
Brandon kian menyeringai. "Benar bukan? Jangan khawatir, aku pastinya memperlakukanmu dengan lembut. Karena, pengalamanmu sangat minim. Kau belum pernah tidur bersama pria mana pun bukan?"
"Haha. Wow, fantastis. Aku akan menjadi pertama untukmu. Sebuah malam yang akan panas terjadi di antara kita. Sangat akan menyenangkan nanti."
Sungguh, kedua telinga Varlotta semakin panas akibat ucapan-ucapan kotor yang teralun santai tanpa beban dari mulut Brandon. Ingin sekali dilayangkan tamparan. Namun, tidak mungkin saja dilakukan sekarang. Lagi-lagi, ia memerhatikan bagaimana imej akan rusak karena pria tak berharga seperti Brandon. Sayang, harga diri harus tercoreng demi orang yang kurang ajar.
“Kenapa kau tidak memberikan kepastian, Sayang? Kau membuatku begitu penasaran.”
Varlotta memilih tidak segera meladeni. Diutamakan untuk mengendalikan diri dari emosi dan amarah agar tak kian meningkat. Penarikan dilanjutkan dengan pengeluaran napas dilakukan beberapa kali secara cepat. Cukup efektif biasanya untuk meredakan kemarahannya.
“Kau kenapa selalu bersikap kasar kepadaku, Miss Vandara? Padahal, aku suka denganmu. Apa tidak bisakah memberikan kesempatan untukku? Juga rencana perjodohan di antara kita.”
Varlotta berdecak sinis kembali. Ia juga sudah menunjukkan ekspresi jijiknya. “Dalam mimpimu saja kesempatan itu ada. Tapi, di dunia nyata, tidak akan pernah terjadi. Berhenti berharap.”
“Apa kau bilang? Harapanku saja? Jangan terlalu percaya diri begitu. Setiap kali aku bermimpi, aku akan berusaha mewujudkannya. Termasuk memilikimu, Miss Vandara. Persetan dengan rencana perjodohan yang dibatalkan. Aku percaya diri bisa memilikimu. Kau lihat saja nanti.”
Brandon menambah lagi seringaian pada wajah. Senjata andalan yang sangat ia ketahui akan dapat membuat kekesalan Varlotta semakin besar. Dan, kejengkelan wanita itu menjadi hiburan menarik baginya. Kian merasa tertantang untuk menaklukan Varlotta juga. Menyerah tak akan berlaku, sama saja mengakui kekalahan. Hal paling tidak disukai.
Brandon memajukan wajah ke Varlotta. Kekagetan wanita itu sudah diprediksinya. Tangannya langsung ditaruh di tengkuk Varlotta agar tidak bisa untuk melakukan perlawanan. Tatapan maut wanita itu yang tajam tak akan pernah menakutkan baginya.
"Kau pasti bertekuk lutut kepadaku, Miss Vandara. Kau akan memujiku. Dan, kau akan memintaku agar memberikanmu kepuasan di ranjang. Haha."
Tepat setelah Brandon menyelesaikan ucapan, maka Varlotta bangun dari kursi yang sedang ia duduki. Kemudian, tangan kanan bergerak ke leher kemeja pria itu. “Jaga kata-katamu.”