Varlotta memukul pahanya sendiri dengan cukup keras. Kedua tangan semakin mengepal kuat. Mata beriris cokelatnya pun tambah menunjukkan sorot tajam, terarah tepat pada dashboard mobil. Bahkan, ia tidak berkedip sama sekali. Mata membulat.
Napas masih belum mengalami perubahan. Tetap menderu sehingga menyebabkan dadanya naik dan turun kian cepatnya. Memang, Varlotta biarkan saja. Percuma bila diatur, disaat emosinya belum stabil. Tak ada niatan untuk meredamkan amarahnya juga.
"Kau berengsek, Brandon!" Varlotta mengeluarkan umpatan dengan seruan yang lantang. Penekanan pada kalimat dilontarkannya pun sangat jelas.
"Kau sungguh orang berengsek! Aku muak dengan tingkahmu semua kepadaku! Berengsek kau!"
"Sial! Berani sekali dia menyakitiku!" umpat Varlotta dalam seruan cukup keras. Sarat kekesalam.
Setiap mengingat bagaimana perilaku pria itu yang kurang ajar dan tak sopan kepada dirinya di bar, dua jam lalu, sangat sukses memancing amarah. Varlotta merasa sudah direndahkan. Apalagi, saat pria itu dengan memaksa berusaha menciumnya. Bahkan, sempat menyentuh bagian-bagian tubuhnya yang terlarang. Sungguh, sikap yang hina dan tidak terpuji.
"Aku akan membuat perhitungan. Dia harus meminta maaf kepadaku dengan berlutut! Akan aku pastikan semuanya," ujar Varlotta dengan kemarahan yang semakin besar. Intonasi meninggi.
"Dia akan menerima balasan setimpal atau bahkan lebih menyakitkan lagi. Akan aku pastikan dalam satu minggu ini, dia pasti mendapatkan ganjaran dariku!" Varlotta berujar dengan tekad bulatnya.
Napas masih menderu. Namun kemudian, ia coba menstabilkan. Dilakukan penarikan oksigen sebanyak mungkin. Ditahan olehnya sebentar saja. Dilanjut, embuskan secara perlahan-lahan. Berulang kali dalam waktu satu menit. Enggan terus dikuasai amarah, disaat sedang pusing karena banyak minum wine. Namun, kesadaran masih bagus. Tidak sepenuhnya mabuk.
Varlotta lantas menengokkan kepala ke arah samping, tepatnya pada sosok Geonado. Ia penasaran saja akan apa tengah dikerjakan oleh pria itu. Sebab, dari tadi tidak bersuara. Atau menunjukkan respons apa pun. Termasuk juga dalam upaya menenangkannya.
“Bisakah kau bicara? Sedikit saja. Aku tidak suka kau hanya diam saja.” Varlotta pun mengungkap keluhan masih dengan nada sebal sangat kentara.
“Tidak ada apa-apa yang kau katakan kepadaku. Minimal kau harus menghibur dan menenangkanku agar aku tidak semakin marah. Tapi, kau malah tak berkata-kata. Jangan diam seperti patung!"
Varlotta menajamkan tatapan pada Geonado. "Kau tolong jangan ikut menjadi orang yang membuat aku kesal. Harusnya aku bisa memercayaiku. Kau aku inginkan menunjukkan empati kepada diriku."
Selepas mengeluarkan keseluruhan keluhannya, ia pun mulai berupaya mengatur napas. Menarik udara baru ke dalam paru-paru yang terasa kurang diisi oleh oksigen. Kemudian, ditahannya sebentar. Lima detik selanjutnya sudah diembuskan panjang. Belum dipindahkan atensi dari sosok Geonado.
"Kau sudah merasa lebih baik sekarang 'kah, Little Princess? Sudah puas marah-marah? Atau masih ada yang harus kau umpatkan agar kekesalan dan amarahmu bisa berkurang? Lakukan saja."
Varlotta cukup tak menyangka akan diberi pertanyaan yang demikian, ketika baru satu detik memandang Geonado. Senyum manis dan menawan pria itu, ditambah dengan alunan suara berat yang lembut, seketika dapat mengenyahkan gejolak emosi di dalam dirinya.
Sungguh bentuk dari keajaiban yang entah mengapa tidak dapat untuk Varlotta jadikan sebagai alasan masuk akal. Semakin dipikirkan, maka ia tak kunjung menemukan jawaban terlogis. Dan, diputuskan untuk menikmati pemandangan indah yang tengah tersaji di depan mata. Terlebih, ia memperoleh dampak positif, yakni suasana hati semakin membaik dan merasa tenang.
Varlotta mengangguk pelan. "Sudah dapat lebih rileks. Tapi, aku masih saja kesal. Mana bisa aku akan melupakan kejadian tadi dengan mudah. Kau tahu? Aku tidak akan pernah terima diperlakukan senonoh oleh pria berengsek seperti Brandon."
"Kau juga sempat membuatku sebal. Tapi, kau tidak akan aku masukan sebagai orang yang membuatku kesal atau marah," imbuh Varlotta dengan tegas.
"Haha. Benarkah? Trims, Little Princess."
"Kau sudah tahu sendiri jika aku tidak akan mudah menghilangkan kekesalan yang aku rasakan pada orang lain. Apalagi, dia sangat menyebalkan. Ingin aku menjambaknya, tapi tidak akan bisa. Haah. Menyebalkan! Padahal, dia sudah sangat kurang ajar kepadaku. Sialan memang! Aku muak!"
Geonado spontan tertawa. "Haha. Apa tadi? Kau ingin menjambak rambutnya? Ide yang bagus.”
"Iyaaaa! Aku juga mau mencakar orang itu. Kau tahu bukan kuku-kukuku panjang? Aku akan membuat kulitnya terluka-luka. Haha. Dia harus aku pastikan berdarah, baru aku akan puas.”
Napas Varlotta kembali berderu. “Aku wajib membalas dendam agar dia berhenti bersikap yang kurang ajar kepadaku. Dia belum tahu saja jika aku lebih membahayakan dibanding dia kira.”
“Aku jamin dia akan takut kepadaku. Dia akan jera dan tidak meremehkanku kembali. Bagaimana pun caranya, akan aku lakukan. Tidak masalah jika harus sadis. Dia harus benar-benar mendapatkan pelajaran karena sudah berani membuatku marah."
Geonado masih tertawa. Namun, sudah tak sekencang tadi. Sengaja diredam. Gelengan kepala lantas dilakukannya. Menunjukkan bahwa ia heran dengan keinginan Varlotta yang baginya konyol. Tetapi, jika dipikirkan maka akan lucu. Terlebih, sampai terjadi sesuai khayalan Varlotta.
“Aku serius! Kau tidak yakin aku mampu melakukannya? Aku ini bukan wanita yang lemah. Aku akan membalasnya karena dia pantas mendapatkan pelajaran dariku yang dia sudah berusaha lecehkan. Aku benar-benar tidak terima perlakuannya dia yang buruk,” cerita Varlotta dengan semakin emosi. Dadanya sudah naik dan turun tak teratur akibat napas kian memburu.
Setiap kali mengingat, maka amarah pasti bergejolak. Terlebih, kejadian dialaminya baru satu jam saja berlalu. Masih sangat jelas memori memalukan harus dihadapi karena ulah Brandon. Ia pun tetap bertekad akan menunjukkan balasan setimpal pada pria itu. Untuk cara yang hendak nanti digunakan, belum terpikirkan secara final. Varlotta terus mempertimbangkan hingga bisa menemukan ganjaran terbagus untuk diberikan kepada Brandon. Pria itu harus jera. Varlotta juga akan menuntut permintaan maaf yang tulus dari Brandon. Harus berlutut di depannya.
“Kau yakin bukan jika aku mampu membalas dendam?” tanya Varlotta sungguh-sungguh. Ada nada kesal terselip di dalam suara pelannya akibat Geonado tak merespons sejak tadi.
Dilekatkan tatapan pada pria itu yang sedang fokus menyetir, dinanti tolehan kepala kepadanya. Sebab, ingin menyaksikan raut wajah Geonado. Reaksi pria itu juga terhadap pertanyaan yang dilontarkannya. Belum terpikirkan ekspektasi apa pun di dalam kepalanya hingga detik ini.
Dan, ketika atensi Geonado sudah terarah kepadanya, Varlotta mengerucutkan bibir dan juga memasang ekspresi jengkel di wajah cantiknya yang sudah luntur akan hiasan. Ingin ditunjukkan secara nyata pada Geonado bahwa dirinya sedang merasakan kesebalan pada pria itu.
“Cepatlah menjawab dan berikan pendapatmu. Aku ingin tahu bagaimana tanggapanmu tentang rencanaku balas dendam. Jika perlu, kau sumbangkan ide kepadaku juga,” perintah Varlotta.
“Kau butuh pendapatku, Little Princess? Aku harus menjawab yang jujur atau menunjukkan dukungan dengan terpaksa untuk rencana yang ingin kau lakukan kepada pria itu? Benar begitu, ya?"
Varlotta kembali merasakan kejengkelan atas jawaban Geonado. Mengesankan bahwa tidak dianggap serius permintaannya. Dan, disaat suasana hati sedang buruk, maka enggan untuk meladeni gurauan Geonado. Waktu sedang tak tepat. Justru memperparah kekesalannya.
“Kenapa diam saja, Little Princess? Kau harus memberitahuku bagaimana aku seharusnya.”
Varlotta menggeleng. Telah dialihkan pandangan dari sosok Geonado. Ia memandang ke arah jendela. Tidak benar-benar menikmati suasana malam kota New York. Terlebih, kondisinya kian tak bagus. Kepeningan di kepala yang semakin mengganas, tetapi belum sampai mengakibatkan kesadarannya terganggu. Masih mampu untuk ditahan sampai tiba di kediamannya nanti.
“Tunggu dulu…” Varlotta spontan berujar. Sadar akan suatu hal yang janggal. Baru terpikirkan.
Kemudian, dipandang kembali sosok Geonado. Sedangkan, pria itu tak menoleh ke arahnya. Masih sibuk dan fokus menyetir. Namun, Varlotta yakin bahwa Geonado sudah mendengar apa yang diucapkannya. Tinggal menunggu respons dari pria itu. Tetapi, ia semakin tak sabar ingin mengetahui informasi berkaitan akan kejanggalan yang tengah dirasakan hingga detik ini.
“Mr. Gorgeous. Aku ingin bertanya. Kau harus menjawab jujur. Jangan membo—”
“Aku tidak mau menjawab, sebelum kau memberikan jawaban juga untuk pertanyaan yang aku ajukan tadi. Kau harus memberitahuku, maka aku akan bersedia membantumu, Little Princess.”
Varlotta kembali mengerucutkan bibir. Namun, hanya sebentar saja. Dilakukan seraya merangkai beberapa kata di dalam kepala untuk dijadikan balasan yang diminta Geonado. Ia tidak punya banyak waktu untuk memberikan jawaban. Dalam beberapa detik lagi akan dilontarkannya.
“Kau bersedia membantuku balas dendam? Kau yakin? Kau orang baik dan tidak pernah aku dengar kau ingin membalas orang-orang yang sudah menyakitimu. Mana mungkin kau ak—"
"Aku orang baik? Tidak sepenuhnya, Little Princess. Aku tetap manusia yang tidak sempurna. Aku akan menunjukkan kemarahan untuk orang-orang yang sudah berlaku tidak baik. Mereka harus aku berikan pelajaran. Apalagi, sudah berani menyakitimu. Aku tidak akan pernah bisa membiarkan semua terjadi lagi kepadamu. Aku akan berusaha melindungimu."
Varlotta langsung mengatupkan bibirnya. Tatapan begitu intens masih dipusatkan ke sosok Geonado. Tepat pada sepasang mata pria itu yang semakin memancarkan kehangatan. Seakan dirinya dapat tertarik ke dalam sepasang manik hitam Geonado.
Varlotta merasakan keterkejutan, tangan kanan pria itu yang kokoh menangkup pipi kirinya. Bahkan, ia sempat berhenti bernapas. Memang, hanyalah beberapa detik. Dan, walaupun udara memasuki paru-parunya dengan lancar, Varlotta tetap merasa tidak nyaman. Dadanya naik dan turun tak teratur.
"Kau mempunyaiku, Little Princess. Jangan pernah takut. Kau akan aman bersamaku. Percayalah."
Anggukan segera dilakukan, walau dalam gerakan kaku. Letupan rasa bahagia membuncah di d**a. Ia berbunga-bunga. Semua yang didengar dan juga didilihatnya menggetarkan hati. Terutama Geondo.
Siapa pun akan bereaksi sama sepertinya ketika diperlakukan manis oleh pria yang dicintai. Sangat wajar. Logika Varlotta sudah tidak bisa dijalankan. Perasaan senang kian mendominasi dan membuat dirinya menciptakan imajinasi romantis di kepala.
"Trims, Mr. Vilano. Kau bilang akan melindungiku? Apakah aku boleh menggantungkan keselamatanku padamu? Kau tidak akan membiarkan ada pria lain yang menyakitiku bukan? Termasuk Brandon."
Setelah melihat anggukan mantap Geonado atas pertanyaannya. Varlotta langsung memeluk pria itu dengan erat. "Trims, Mr. Gorgeous. Kau yang terbaik aku miliki."