9 - Bukan Mimpi

1532 Words
"Kau ternyata sangat cantik, Little Princess," ujar Geonado untuk sekian kali guna menunjukkan rasa kagum akan paras menawan Varlotta Vandara. Senyuman terus dikembangkannya secara refleks hanya karena merasa semakin senang memandang kecantikan Varlotta yang sempurna. Tak ada sama sekali cacat atau goresan di wajah wanita itu. Ia sudah memerlihatkan dengan detail, setiap inchi pun tidak dilewatkannya. Sudah berulang kali mata menyusuri mata, hidung, berakhir di bibir Varlotta. Sudah lama ia mengakui, bahkan sejak masih masa remaja, tentang pesona wanita itu yang tak akan bisa dibantah. Seiring bertambahnya usia, ia harus mengakui kembali bahwa Varlotta kian cantik. Gadis kecilnya sudah tumbuh menjadi wanita dewasa. "Morning, Little Princess. Selamat bangun dari tidurmu nyenyakmu. Hmm, apa kau sudah merasa puas tidur? Jika belum, kembalilah tidur." Varlotta yang tengah mengerjap-ngerjapkan kedua mata, langsung dibuka dengan lebar. Arah pandang yang semula terarah ke langit kamar, lalu dipindahkan cepat ke samping. Tepat pada sosok Geonado yang baru saja menyapa dengan suara berat namun sangat lembut. Varlotta dilanda keterkejutan semakin besar, saat menyadari bahwa kepalanya sedang berada di atas lengan kiri pria itu. Tentunya,  mereka berdua berjarak tidak cukup jauh, kurang dari lima sentimeter. Bahkan, dapat dirasakan embusan napas lembut pria itu menerpa wajahnya. Tubuh Varlotta menjadi menegang dan kaku. Kedua matanya pun tidak mampu berkedip. Begitu juga detakan jantung semakin menggila berdegup ditambah dengan napas yang sempat tercekat. "Aku sudah tidak mengantuk. Kurasa tidurku sudah cukup." Varlotta menjawab gugup, namun lancar. "Bagaimana tidurmu? Nyenyakkah, Little Princess? Biasanya jika mabuk akan semakin lelap tidur. Aku mengalaminya beberapa kali. Jadi, saat insomnia kambuh, aku akan minum vodka yang banyak." Varlotta menggerakkan kepalanya dengan sedikit susah untuk menunjukkan anggukan atas apa yang ditanyakan kepadanya. Lidah masih terasa kelu. Susah melontarkan kata. Kemampuan merangkai kalimat jawaban yang baik sedang tidak dapat dilakukannya. Tak terpikirkan apa-apa. Varlotta benar-benar belum mampu untuk menghilangkan kekagetan atas apa tengah dialami. Kenyataan yang baginya dahulu sebatas impian belaka. Benar. Khayalannya tentang tidur bersama dengan Geonado dalam satu kasur. Sejak beberapa tahun lalu yang muncul, sekiranya hanya akan menjadi imajinasi indah saja. Namun, ada kesempatan untuk mengalaminya. Bahkan, tak pernah ada muncul sekalipun ekspektasi bagus seperti yang tengah dirasa pagi ini. Ya, dipeluk dengan begitu erat oleh pria itu. Tangan kekar milik Geonado melingkari badannya sangatlah terkesan posesif. Dan, hal tersebut merupakan hadiah yang menyenangkan. “Kenapa kau bengong saja, Little Princess? Aku bertanya berulang, kau tidak menjawab. Apa masih mengantuk? Jika begitu, tidurlah kembali sampai kau merasa tidak mengantuk lagi. Jangan merasa tidak enak. Jangan berbohong juga kepadaku." Geonado belum memindahkan atensi dari wajah Varlotta. Mengamati lebih detail. Terutama, bagian mata wanita itu. Tatapan Varlotta tidak bisa dirinya terjemahkan dengan baik. Namun, tetap saja sorot yang dipancarkan membuatnya menjadi tenang. "Little Princess, ayo tidurlah lagi. Kepalamu pasti masih sakit karena minum banyak semalam." Varlotta menanggapi cepat. Kepala digelengkannya kuat-kuat. “Tidak. Aku tidak masih mengantuk. Aku juga tidak merasakan pusing di kepalaku sungguh. Jangan menyuruhku untuk tidur lagi, Mr. Gorgeous. Aku tidak akan mau," ujarnya dengan suara tegas. "Hmm, aku hanya kaget saja. Kau tahu tidak apa yang menyebabkanku menjadi begitu kaget?” “Biar aku tebak. Nanti jika aku benar menjawab. Kau harus mentraktirku makan siang. Setuju?” Respons segera diberikan, mengangguk sekali namun mantap. “Baiklah. Bukan masalah aku harus mentraktirmu makan jika tebakanmu benar. Aku juga akan membelikanmu sesuatu.” “Hahaha. Okay. Akan aku tagih nanti. Dan, biarkan sekarang aku menebak, Little Princess. Tapi, tunggu sebentar. Berikan aku waktu lima menit untuk memikirkan kembali tebakanku.” Varlotta mengangguk kecil. Arah atensi masih terpusat pada sosok Geonado. Senyum lebar yang sejak tadi terhias di wajah tampan pria itu sungguh memikat. Ia tidak bisa mengalihkan barang satu pun pandangan dari Geonado. Walau, rasa gugup melandanya semakin bertambah. “Jangan lama. Aku paling malas harus menunggu jawaban hingga bermenit-menit. Ak—" “Kau gugup bukan? Ya, tidur bersamaku dalam posisi seperti ini. Benar tidak dugaanku? Semoga saja tidak salah karena rasanya tidak mungkin ada penyebab lain yang masuk akal.” Tanggapan segera diberikan Varlotta. Ia mengangguk. “Kau benar, Mr. Gorgeous. Kau sangat pintar memahami keadaan dan perasaanku. Baik, kau menang taruhan kali ini, ya.” "Apa sekarang aku boleh bangun? Aku harus mandi. Lalu, kita berdua sarapan, Varlo. Ah, kau harus memenuhi janjimu untuk mentraktirku malam karens aku sudah berhasil menebak. Haha.” Varlotta cepat mengangguk. Ia melepaskan dekapan dengan segera pula sesuai dengan permintaan Geonado tadi. Keterkejutannya yang belum menghilang secara keseluruhan harus ditambah rasa malu atas apa sudah ia lakukan pada pria itu. Lebih buruk lagi, tak bisa diingatnya semua peristiwa semalam. Terakhir hanya sampai dirinya mencium bibir Geonado di mobil. "Aku minta maaf, ya." Varlotta berkata pelan dan juga gugup. Kepalanya ditundukkan. Seketika muncul perasaan tidak berani memandang sosok Geonado. Padahal, pria itu tidak marah. "Aku lupa soal kemarin. Bahkan, aku tidak menyangka aku berada di sini. Satu tempat tidur bersamamu dan memelukmu sampai kuat. Menyebabkan kau tidak bisa bangun. Jangan marah kepadaku. Aku akan sedih,” tambah Varlotta dengan cengiran lebar ditampakkan di wajahnya. “Hahaha. Tidak akan. Aku rasa kau pantas meluapkan emosimu. Aku pikir kau akan marah saja, Little Princess. Tapi, kau juga menangis. Aku paling tidak bisa melihatmu menitihkan air mata.” Varlotta langsung mengangkat kepala. Diulas senyuman seperti Geonado yang tengah menatap dirinya. Kemudian, kepala digelengkan. “Menangis itu wajar untuk wanita. Salah satu cara untuk mengungkapkan apa yang mereka rasakan. Termasuk juga diriku, Mr. Gorgeous.” “Iya, Little Princess. Aku tahu. Aku mengerti. Tapi, saat tidak bersamaku, usahakan kau jangan menangis seperti kemarin. Tidak semua orang bisa berempati, terkadang mereka senang.” Kembali, Varlotta mengangguk. Menunjukkan kepahaman atas ucapan Geonado. Sungguh, ia senang akan kata-kata bernada lembut dialunkan pria itu. “Iya, tidak akan aku lakukan.” "Aku pikir pengaruh wine yang membuatmu jadi begitu, Little Princess. Aku bisa memahami kondisimu. Aku tidak akan pernah bisa marah. Entah kenapa, aku malah senang kau terus memelukku. Udara semalam cukup dingin. Jadi, secara tidak langsung kau membuatku hangat.” “Aku memelukmu yang erat sejak kemarin? Wah, sungguh aku tidak tahu malu. Maafkan, aku. Kau mungkin merass kurang nyaman karena sikapku. Lain kali, tidak aku ulangi,” janji Varlotta. “Hahaha. Tidak apa-apa, Little Princess. Jangan tidak enak. Aku tidak marah. Aku senang.” Varlotta sangat sadar bahwa rona merah di bagian pipi akan tambah terlihat bersamaan dengan rasa panas semakin besar di wajah akibat malu akan ucapan disampaikan oleh Geonado Vilano. Pria itu memang tak punya maksud apa pun, berkata dengan jujur sesua kenyataan terjadi. "Kau senang? Kau tidak bohong?" Varlotta menanggapi untuk memperpanjang topik yang sedang mereka berdua bahas. Kedua mata menatap intens menunjukkan ketertarikan. "Haha. Kenapa aku harus berbohong. Hanya saja, kau memeluk dengan erat. Membuatku jadi susah bergerak. Ah, bernapas juga. Ya, keluhanku itu saja. Tidak ada yang lain. Percayalah dengan ucapanku." Varlotta seketika membulatkan mata serta membekap mulut menggunakan tangannya yang bagian kanan. "Benarkah begitu? Baiklah, aku akan percaya. Walau, kau berbicara sedikit membuatku menjadi ragu. Hmm, tapi akan aku abaikan saja." "Hahaha. Jangan ragu begitu. Aku sudah bilang yang jujur tadi bukan? Jangan merasa tidak enak." "Maaf, jika aku membuatmu tidak nyaman. Aku tidak akan mengulangi lagi," imbuhnya dalam suara kian lirih, volume mengecil. "Tidak apa-apa, Little Princess. Aku sudah bilang aku tidak marah dan kesal. Aku juga tidak mau kau tidak enak ataupun sampai menangis seperti kemarin. Aku ikut sedih kau seperti itu. Cukup aku melihatmu menangis sekali saja. Jangan diulangi." Varlotta membelalakan mata. "Apa? Kemarin aku menangis? Tapi, tidak mungkin karena Brandon. Aku tidak menyukai dia. Mustahil jika aku aku sedih karena orang seper--" "Bukan dia, Little Princess. Orang lain. Pria yang kau sukai. Dan, kau tidak menyebutkan nama dia. Tapi, kau bilang kau sangat cinta pria itu. Apa kau mau memberi tahu siapa dia? Entah kenapa, aku menjadi penasaran. Aku tidak pernah bercerita bukan kepadaku? Seingatku belum sepertinya." Tubuh Varlotta kembali mendadak menjadi kaku. Ia juga sempat berhenti bernapas, seperkian detik. Sungguh, pertanyaan dilontarkan Geonado seketika membuatnya menjadi sangat bingung. Jawaban apa akan diberikan, belum terpikirkan sama sekali. "Aku menangisi pria yang aku cintai? Memang apa saja yang aku katakan semalam? Aku tidak ingat sama sekali. Aku sering lupa dengan apa saja yang sudah aku katakan, saat aku dalam kondisi mabuk." Varlotta semakin menegang dan gugup sembari memandangi Geonado yang masih tersenyum. Tak ada perubahan pada ekspresi maupun tatapan pria itu atas jawaban yang baru diberikannya. Dan, hal tersebut membuat Varlotta tidak bisa tenang. "Kau sedikit berbicara. Seingatku kau mengatakan sangat menyayangi dan mencintai pria itu. Seperti kau tidak ingin kehilangan dirinya dalam hidupmu." Varlotta mengangguk cepat. Memercayai jawaban disampaikan Geonado. Pria itu tidak akan mungkin berbohong. "Wah, begitukah? Aku kira aku sudah banyak meracau kemarin. Bagus hanya sedikit." "Benar bukan ucapanku tadi? Kau tidak pernah memberitahukan padaku sama sekali. Aku yakin tidak akan dapat lupa seandainya kau sudah pernah menceritakan pria itu kepadaku." Varlotta menggeleng. "Kau benar, Mr. Gorgeous. Aku memang belum pernah memberitahumu." "Hahaha. Tepat dugaanku. Ayo sekarang lakukan. Kau harus menceritakan padaku pria itu. Yang kau sukai. Aku sangat ingin tahu. Entah kenapa aku merasa penasaran siapa dia yang sudah mampu membuat kau jatuh cinta, Little Princess." Varlotta mengangguk mantap sebanyak dua kali. "Aku tidak bisa menyebut nama dia. Tapi, yang jelas aku sangat mencintainya sudah lama. Aku masih memendam perasaanku sendiri. Dia belum tahu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD