Geonado masih tak menyangka jika hasil masakan dibuatnya akan cukup enak. Pantas untuk disantap tanpa mendominasikan salah satu rasa. Pas saja di lidahnya sendiri. Ada kebanggaan di dalam dirinya yang timbul. Keyakinan pun kian menguat dalam mengasah kemampuannya mengolah bahan-bahan mentah untuk dijadikan makanan, walau sederhana.
Meski menikmati sarapannya, Geonado tidak bisa melepas perhatian dari Varlotta. Sesekali, ia akan memandang wanita itu dengan durasi hampir tiga puluh detik. Dan, apa yang dirinya lakukan belum disadari oleh Varlotta. Wanita itu seperti sedang hanyut dalam pikiran sendiri. Tak ada berbicara.
"Kenapa tidak bersemangat? Apa pastanya tidak enak? Atau kau mau makan yang lain? Aku akan memesankan makanan di luar jika kau tidak suka dengan pasta yang aku buat.”
Varlotta segera memandang sosok Geonado. Pria itu duduk di hadapannya. Dipisahkan oleh meja makan marmer berbentuk bulat. Saat, menelisik arti tatapan pria itu, ia pun dengan jelas menyaksikan raut kecemasan. Hal tersebut menyebabkannya merasa tergelitik sendiri.
Varlotta mengukir senyuman lebar yang dapat bentuk. "Benarkah aku tidak terlihat bersemangat? Aku menikmati pasti ini. Kau pandai memasak, Mr. Gorgeous. Ini pujian tulusku kepadamu.”
“Benarkah enak? Aku tidak yakin selezat yang kau katakan. Pujianmu tidak seperti realita."
Tawa Varlotta pun terlolos karena balasan Geonado bernada curiga kepadanya. Namun, terdengar lucu untuknya. Varlotta lantas memutuskan memerlihatkan seringaian. “Kenapa kau tidak percaya? Aku berkata yang sebenarnya. Pasta buatanmu memang enak, Mr. Gorgeous.”
“Aku tidak memuji agar kau senang, ya. Aku bicara fakta,” imbuhnya sembari memakan pasta yang baru diambil dari piring. Senyuman pada wajah pun semakin dilebarkan olehnya.
"Tidak ada masalah. Enak," Varlotta berujat santai. Dikunyah kembali pasta di dalam mulut. Dan masih dipusatkan pandangan ke sosok Geonado. Pria itu juga belum memutuskan kontak mata.
"Benarkah? Aku kira kau masih merasakan tidak bagus pada kondisi tubuh dan selera makan karena efek dari mabuk kemarin. Jadi, kau tidak ingin makan pasta yang aku buat.”
Varlotta menggeleng cepat. "Tidak masih. Aku sudah baik. Tidak masih hangover. Aku makan pastamu dengan enak. Jadi, bukankah aku baik-baik saja? Aku jujur. Aku anti berbohong.”
Menyaksikan sorot sepasang mata Geonado yang belum mengurangi pancaran khawatir.
Tentu, memberikan efek untuk jantungnya. Kian mengencang berdetak. Varlotta juga merasa kegugupan yang bertambah. Tidak bisa bersikap tenang. Apalagi, jika sudah mengingat kembali bagaimana tingkah yang kurang menyenangkan dilakukannya semalam pada Geonado.
Varlotta masih merutuki dan juga memarahi dirinya, terkhusus kebodohan yang muncul saat dalam keadaan mabuk. Rasanya cukup memalukan untuk ukuran wanita. Varlotta takut saja nanti Geonado akan mempunyai pikiran negatif terhadapnya. Atau mungkin akan menjauhi. Sungguh, ia tak sanggup. Hatinya pasti akan sangat sakit dan merana jika sampai benar-benar terjadi.
"Baiklah. Aku percaya apa yang kau katakan, Little Princess. Jadi, cepat habiskan pastanya dan kau bisa pulang. Aku akan ke kantor. Aku ada rapat penting bersama staf nanti jam sepuluh.”
Kembali, Varlotta anggukan kepala dengan cepat. Beberapa kali. "Iya, Mr. Gorgeous."
"Ah, terima kasih banyak untuk bantuamu kemarin. Aku akan membalas. Aku pastinya mentraktirmu. Jadi, apa yang mau kau beli? Katakan saja kepadaku," tawar Varlotta.
"Hahaha. Sama-sama, Little Princess. Aku membantumu tulus. Kau tidak perlu untuk membelikanku apa-apa. Aku juga sedang tidak menginginkan barang atau pakaian."
"Hmmm. Tapi, aku akan meminta hal yang lain kepadamu. Jadi, apa kau mau menuruti perkataan dan nasihatku, Little Princess? Aku jarang meminta kepadamu. Tidak ada alasan menolak. Paham?"
Varlotta pun tanpa berpikir panjang untuk merespons dengan anggukan. Ia tentu saja akan melakukan seperti keinginan Geonado. Dan, tak menaruh kecurigaan apa pun akan permintaan pria itu kepada dirinya nanti. Bahkan, sangat menanti. Muncul pula dalam kepalanya dugaan-dugaan yang masuk akal. Namun, enggan untuk diungkapkan kepada Geonado. Membiarkan pria itu mengatakan terlebih dahulu. Nanti, ia hanya tinggal menanggapi dan mengantisipasi.
"Aku akan menuruti. Memang apa yang kau inginkan dariku?" tanya Varlotta antusias.
"Jangan sering minum dan ke bar. Tempat yang tidak cocok untuk anak sepertimu. Kau akan berbahaya di sana. Pasti tidak aman. Apakah kau bisa melakukan untukku? Mau berjanji, ya?"
Varlotta mengembuskan napas. Ia dilanda perasaan kesal dan juga tersinggung dengan permintaan dari Geonado. Suatu hal yang baginya tidak perlu diingatkan. Varlotta tak bisa menerima. Geonado memeringatkan dirinya seperti anak kecil. Entah mengapa, ia sangat tidak menyukai nasihat tersebut. Sudah beberapa kali dikatakan, belum ingin juga diturutinya.
"Bagaimana? Kau mau menurut atau tidak? Segera putuskan, Little Princess. Lebih cepat akan baik."
Respons cepat ditunjukkan oleh Varlotta. Ia menggelengkan kepala keras-keras. "Tidak. Aku belum bisa mengabulkan apa yang kau minta,” jawabnya dengan nada yang tegas dan serius.
"Aku tidak akan mau menuruti saran yang kau berikan. Aku sudah katakan berulang kali jika aku bukan anak-anak lagi. Aku ini wanita dewasa. Minum dan ke bar sudah boleh aku lakukan sejak usiaku 17 tahun. Dad dan Mom saja jarang melarangku setelah aku menginjak usia 20 tahun."
Varlotta terus menajamkan tatapannya lagi ke sosok Geonado. "Tidakkah kau mampu melihatku sebagai wanita? Bukan menerus anak-anak? Usiaku bahkan setiap tahun selalu bertambah," ucapnya semakin ketus. Entah kenapa, rasa kesal tidak mampu untuk diredakan secara cepat.
"Tapi, bagiku kau tetap anak-anak. Walau, kau sudah tumbuh menjadi seorang wanita dewasa, Little Princess. Ya, begitulah. Jadi, aku tidak ingin kau terjurumus ke hal-hal yang lebih buruk."
"Memang orangtuamu saja tidak melarangmu untuk melakukan apa yang kau sukai. Termasuk minum di bar. Aku tidak memiliki hak apa pun terhadapmu, itu benar, Little Princess. Secara logika aku menerima kau yang merasa keberatan dengan saranku."
"Kau dan aku hanya berteman. Tapi, kau sudah aku anggap sebagai saudaraku sendiri. Aku tidak ingin melihatmu terjerumus ke hal-hal yang negatif."
Geonado semakin tampak serius. Baik dari ekspresi maupun sorot matanya tengah terpusat pada sosok Varlotta. Mereka sejak tadi belum berhenti untuk saling bersitatap. Ia juga tidak akan mengalihkan pandangan, hanya akan diberikan pada Varlotta.
Sebelumnya, mereka belum pernah terlibat dalam bahasan yang sengit ataupun terlalu serius. Terlebih lagi, menyangkut persoalan-persoalan personal. Ia memang enggan ikut campur masalah pribadi orang lain. Namun, tidak akan berlaku pada Varlotta.
"Kau menganggap aku ini sebagai saudaramu, Mr. Gorgeous? Maksudmu seorang adik perempuan?"
Geonado menggangguk cepat. "Iya, kau benar. Aku tidak punya adik perempuan. Jadi, kau sudah aku anggap sebagai saudaraku sendiri. Aku peduli."
"Tolong mengertilah, Little Princess. Aku hanya mau kau tetap menjadi anak yang baik. Aku tidak akan melarangmu minum. Jangan saja berlebihan dan di bar tanpa seorang pun kau ajak bersamamu."
Varlotta kembali merespons dengan begitu cepat. Berselang satu detik saja. “Tidak akan. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Aku sudah besar."
"Ah, maksudku adalah wanita dewasa. Aku tahu mana yang baik untukku. Kau paham tidak dengan pembelaan diriku ini? Intinya aku tidak suka kau larang-larang. Aku sudah tahu mana yang baik dan tidak untukku," perjelas Varlotta dalan suara tegas.
“Aku tidak akan melarang jika apa yang kau lakukan positif dan bisa kau pertanggungjawabkan. Salah satunya bukan minum banyak. Setiap kau meminum wine yang berlebihan, kau pasti mabuk. Jika di rumah masih tidak apa-apa. Tapi, bagaimana di tempat umum seperti bar?”
Varlotta menggeleng. Ingin menunjukkan bantahan kembali. Ego masih berjalan. Walaupun, logika membenarkan ucapan Geonado. Pria itu mengatakan fakta yang memang sering dialami oleh dirinya. Namun, enggan mengakui. Lebih baik menunjukkan perlawanan hingga akhir.
“Tidak akan terjadi. Aku sudah bilang bisa menjaga diriku. Jangan khawatirkan aku terus. Aku sudah dewasa. Aku juga belajar beberapa bela diri. Aku berani bilang aku aman,” imbuhnya.
“Iya. Aku tahu kau sudah dewasa. Mungkin benar yang kau katakan jika bisa menjaga diri dengan baik. Aku ingin percaya. Tapi, tetap saja rasa cemasku lebih banyak. Aku bingung menjelaskan bagaimana agar kau mengerti dengan kehawatiran yang aku rasakan kepadamu juga.”
Varlotta mengembuskan napas yang panjang sembari bangun dari kursi. Ia berjalan ke arah Geonado berada. Tak satu menit telah berhasil berdiri di hadapan pria itu. Lantas, diraih wajah Geonado. Bibir mereka berdua menempel. Dengan segera pula dilakukan Varlotta lumatan pada bibir pria itu. Hanya sebentar saja, kurang dari sepuluh detik. Waktu yang dirasa cukup.
"Aku menyukaimu." Varlotta berujar serius. Mimik wajah juga tampak kian sungguh-sungguh.
Senyuman belum memudar. Tatapan terus dilekatkan pada sosok Geonado yang masih saja diam dengan keterkejutan besar. Bahkan, pria itu tidak berkedip, walau memandang dirinya. Ia paham akan reaksi Geonado. Pantas memang jika pria itu meras kaget akan pengakuannya baru saja.
"Bukan hanya sekadar menyukaimu dalam konteks aku mengagumi semua yang ada di dalam dirimu, termasuk ketampanan, kecerdasan, serta statusmu sebagai pebisnis hebat. Jauh melebihi itu semua."
Varlotta mengembuskan napas yang panjang untuk menghalau rasa gugupnya. Masih ada beberapa hal ingin disampaikan pada Geonado. Beberapa detik lagi akan dikeluarkan. Barulah kemudian, ia berikan waktu untuk pria itu menanggapi pernyataannya.
"Aku sudah lama menyukaimu, Mr. Gorgeous. Sejak aku berusia delapan belas tahun hingga sekarang. Aku menyimpannya dan tidak pernah aku katakan."
"Pria yang aku ceritakan tadi mirip sifatnya dengan kau bukan? Aku pikir kau akan peka dan tahu jika kau yang aku maksudkan. Tapi, ternyata tidak."
Ekspresi Geonado belum berubah. Masih sangatlah jelas menampakkan kekagetan. Bahkan, menatap dirinya tak berkedip sama sekali. Reaksi yang patut ditunjukkan oleh siapa saja yang tengah menjadi fokus pembicaraan di depannya secara langsung.
Namun, Varlotta memilih tidak tinggal diam. Ia tak suka setengah-setengah memerlihatkan bukti. Kata saja kurang cukup. Varlotta merasa harus melakukan tindakan. Ia mencium Geonado. Kilat. Ia ingin menunjukkan bahwa dirinya tak main-main.
"Kau harus percaya jika pria yang aku cintai seorang adalah kau, Mr. Vilano. Ini semua nyata dan aku tidak berniat bercanda atau mengerjaimu."