Geonado tidak dapat mengerahkan pikiran dan konsentrasinya secara penuh guna bekerja. Sejumlah dokumen yang harus diperiksanya pun tidak tersentuh di atas meja. Geonado belum memiliki semangat yang tinggi dalam menyelesaikan semua. Baru saja ia mampu dituntaskan dalam kurun waktu dua jam. Benar-benar melewati batas durasi pengerjaan seharusnya.
Geonado menyadari perubahan yang tengah dialami. Sudah berusaha untuk dirinya atasi supaya tidak sampai mengganggu pekerjaan. Tetapi, ia gagal. Semakin ingin melupakan apa yang disampaikan Varlotta kemarin, justru bertambah besar ingatannya untuk setiap kata diucapkan oleh wanita itu. Tak ada satu pun yang mampu untuk dilewatkannya hingga detik ini.
Tidak hanya ucapan Varlotta. Namun, juga wajah cantik wanita itu muncul di dalam benaknya. Terkhusus bibir merah Varlotta yang sudah memberikannya ciuman dahsyat dan sukses membangkitkan gairah. Dengan membayangkan saja, mampu menyebabkan dirinya jadi ingin mencumbu Varlotta kembali. Sungguh, khayalan yang tidak didasari oleh akal sehatnya
Kewarasan menghalangi Geonado. Ia tidak mungkin melakukan sesuai keinginannya, walau tahu bahwa wanita itu memiliki rasa khusus kepadanya. Ia bukan tipikal yang akan memanfaatkan situasi. Meski, tak bisa memungkiri jika setiap sentuhan wanita itu sudah berhasil membangkitkan hasratnya yang lama terpendam, hampir 10 tahun. Bukanlah waktu yang terbilang sebentar.
"Wow, ada apa denganmu, Mr. Vilano? Kau tampak berbeda. Matamu penuh nafsu. Aku tidak percaya dengan apa yang aku lihat sekarang. Dan aku harus bertanya alasannya kepadamu.”
Geonado langsung mengarahkan pandangan ke pintu besar ruangan kerjanya, selepas dengar suara milik Darmo Vandara. Teman baik sekaligus juga kolega bisnis yang sangat akrab dengannya hingga ia dapat hafal akan suara berat milik pria itu, walau hanya sekilas mendengar seperti hari ini misalnya. Ya, Darmo Vandara adalah saudara tertua laki-laki Varlotta.
“Kau jangan asal saja menuduhku.” Geonado berupaya menjawab dengan santai. Meskipun, tak cukup yakin jika akan berhasil membuat sang sahabat percaya akan kata-katanya.
“Hahahaha.”
Tawa ejekan dilontarkan oleh Darmo Vandara sudah menjadi tanda awal bagi Geonado untuk mengartikan bahwa sahabatnya itu meremehkan balasan yang ia ucapkan. Dan, dipilihnya diam saja. Tidak mengutarakan pembelaan apa-apa kembali agar menghindari kecurigaan tambahan.
Kemudian, Geonado bangkit dari kursi kerjanya. Hendak bergabung dengan Darmo Vandara yang sudah duduk di sofa. Namun, terlebih dahulu mengambil dua kaleng bir di lemari pendingin. Hanya dibutuhkan beberapa detik saja. Geonado pun lantas berjalan santai ke arah sofa.
“Apa tadi yang kau katakan? Aku menuduh? Hahaha. Kau yang lucu, Sahabatku.”
Geonado sengaja tidak menanggapi. Enggan untuk memperpanjang topik yang hanya akan membuat dirinya terpojokkan dengan ejekan. Lebih baik, minum saja sebagai bentuk pengalihan. Ditenggak bir di dalam kaleng cukup banyak, hingga hanya menyisakan kurang dari setengah.
“Kenapa kau sangat sulit mengaku kepadaku? Apakah kau merasa malu? Jangan begitu. Kau itu lelaki normal. Wajar jika kau terkadang bernafsu. Kau membutuhkan penyaluran yang benar.”
Geonado menggeleng secara cepat, kali ini. “Aku bukan malu. Kau mengada-ngada saja.”
“Hahaha. Bagaimana aku tidak berpikir kau malu dan munafik jika kau tidak mau mengakui dirimu sedang bernafsu. Kau lupa jika kita sama-sama pria? Aku akan mudah memahami apa yang sedsng kau rasakan. Matamu itu tidak bisa berbohong, Kawan. Percuma kau menampik.”
Geonado terkekeh kali ini. Namun, pelan. Lalu, kepala digelengkan. “Baiklah. Kau benar. Ya, anggap saja aku sedang bernafsu dan kau justru mengentaraiku dengan sindiranmu.”
“Hahaha. Dugaanku tidak akan mungkin salah. Jadi, kau memang harus mengaku, Kawan. Tadi melihat kau sekilas saat aku hendak masuk ke dalam, aku sudah tahu mata kau berbeda.”
Geonado masih tertawa. Tak bisa dihentikan karena candaan sang sahabat yang kian menjadi. Walau, mendapatkan ejekan dari Darmo Vandara begitu nyata. Ia tidak akan bisa marah ataupun kesal. Justru merasa terhibur. Sifat jenaka sang sahabat tak pernah gagal mengundang gelakan.
“Kau seperti peramal. Lebih baik kau pindah profesi saja,” balas Geonado spontan. Tidak cukup yakin jika kalimat tanggapannya seperti guyonan yang bisa menciptakan tawa bagi Darmo.
“Aku bukan peramal. Sudah aku katakan jika kita sama-sama pria. Jadi, aku mudah memahami arti sorot matamu. Tidak hanya kau, tapi mitra-mitra bisnis kita jika sudah melihat wanita yang seksi akan langsung bernafsu. Sangat persis seperti tatapan yang kau tampakkan tadi.”
“Nah, sekarang aku malah tidak melihat kau bernafsu lagi. Aku heran kenapa bisa menghilang cepat. Menurut pengalamanku, nafsu seorang pria akan hilang jika sudah tersalurkan.”
Geonado langsung mengendikkan kedua bahu, menunjukkan ketidaktahuan. Ia memang tidak cukup paham. “Entahlah, aku pun kurang mengerti,” jawabnya secara jujur. Apa adanya saja.
“Kau memikirkan siapa sampai b*******h dan bernafsu? Kau pasti memikirkan dia telanjang?”
Darmo Vandara pun semakin lebar menunjukkan seringaian menyaksikan bagaimana ekspresi dari Geonado mengalami perubahan kembali. Kedua mata yang lebih melebar. Sangat jelas sahabatnya terkejut akan godaan baru selesai ia luncurkan.
"Benar bukan kau memikirkan dia sedang telanjang bulat? Tidak mengenakan baju apa pun? Dia pasti sangat seksi? Uhh, aku bisa membayangkan juga."
“Uhukkk… Uhukkk… Uhukkk.”
Geonado terbatuk-batuk seketika. Terjadi spontan saja. Dan, reaksi yang dilakukannya tentu saja akan membuat sang sahabat tambah curiga. Ia merutuki dirinya sendiri karena tidak bisa menjaga sikap. Tak seharusnya memerlihatkan kekagetan yang besar.
"Kau butuh minuman, Kawan? Ah, apa kau punya stok bir? Atau wine mungkin? Haha. Lebih bagus daripada kau hanya minum air saja menurutku."
Geonado memilih cepat menggelengkan kepalanya. Sebanyak tiga kali saja. Mulut sudah ditutup rapat karena batuk telah menghilang juga. Napas mulai teratur. Walau, perasaan aneh muncul di dadanya. Semacam kecemasan yang berlebihan.
Logika menolak membenarkan apa tengah dirinya alami. Harus bisa bersikap tenang. Namun, ternyata sulit diterapkan. Bahkan, merasa semakin tersudut akan tatapan dilayangkan oleh Darmo Vandara.
"Hahahaha."
Geonado jelas segera bereaksi dengan alis bagian kanan diangkatnya cukup tinggi. Kini, merasa heran akan tawa sang sahabat yang keluar keras. Sarat ejekan, sangat kentara tertangkap oleh telinganya.
Geonado pun tiba-tiba terpikirkan untuk memberi tanggapan secara lisan. Jika dirinya tetap diam saja maka sang sahabat akan menunjukkan pula sikap yang sama. Hal tersebut kian tak menyenangkan.
"Berhentilah menertawakanku, Kawan. Kau apakah tidak lelah sejak tadi menyindirku? Kau seenaknya juga menyimpulkan tentang apa yang aku pikirkan."
Geonado berupaya membuat raut wajahnya supaya tampak lebih serius lagi. "Tuduhanmu tidak memiliki dasar atau bukti. Jangan menyudutkanku. Oke?"
"Hahaha. Kau tidak akan pintar mengelak, Kawan. Kau tidak jago berbohong, apalagi di depanku. Tidak akan berhasil, Geonado."
Darmo Vandara menambah seringaiannya di wajah. "Aku rasa kau tidak pernah lupa sudah berapa lama kita bersahabat. Pastinya kita mengenal sifat masing-masing dengan baik. Terkhususnya aku yang begitu kenal bagaimana karaktermu, Kawan," jawabnya dalam nada bangga. Tawa masih keluar.
"Tidak semua kau tahu, Darmo. Ada yang kau tidak bisa kenali dariku. Oke? Paham?"