"Uhukk... Uhukkk.... Uhukkk."
Sedetik selepas sang sahabat selesai melontarkan pertanyaan, Geonado pun mengalami tersedak oleh bir yang baru masuk ke dalam kerongkongan. Menyebabkannya menjadi terbatuk-batuk kembali. Tentu, secara cepat berupaya dilakukan pengaturan napas untuk meredakan.
Dan mengenai pertanyaan bernada canda dari sang sahabat yang sudah membuatnya dilanda keterkejutan secara tiba-tiba juga, akan diputuskan tidak ditanggapi. Geonado merasa konyol harus memberitahukan kepada Darmo Vandara jika dirinya tengah membayangkan Varlotta. Tak ingin sampai sang sahabat marah kepadanya. Ia tahu bagaimana Darmo menyayangi Varlotta.
“Haha. Kau kaget lagi, Kawan. Ayo, ceritakan padaku siapa yang kau bayangkan telanjang tadi."
Geonado menggeleng cepat. Reaksi spontan saja ia lakukan untuk menanggapi. Bukan perkara yang mudah guna menunjukkan ketenangan, disaat sang sahabat terus melancarkan aksi menggoda kepada dirinya. Namun, kebenaran harus disembunyikan.
"Hahaha. Kau yakin tidak sedang berfantasi dengan tubuh putih wanita tanpa sehelai pakaian pun?"
Kepala digelengkan kembali oleh Geonado. "Benar, Kawan. Aku tidak memikirkan wanita. Apalagi yang telanjang. Jangan percaya diri dalam menebak."
"Kau yang jangan merahasiakan dariku. Kita sudah lama bersahabat. Kita sama-sama pria. Isi pikiran kita tidak jauh beda. Para pria sudah terbukti suka mengkhayalkan hal-hal sensual, seperti misalkan saja tubuh wanita seksi dan juga telanjang. Jangan kau pikir aku ini bodoh sampai tidak bisa tahu."
Geonado mengembuskan napas panjang. Kepala untuk sekian kali, digelengkan lagi. "Terserah kau saja berpikiran yang seperti apa," jawabnya datar.
"Kau juha tidak mau terbuka bercerita wanita-wanita yang sedang kau dekati. Aku tidak akan merebut mereka darimu, Kawan. Aku bukan pria berengsek."
Gelengan kepala dilakukan Geonado, ingin menunjukkan penampikkan atas ucapan sahabat baiknya. Ia mencari jawaban lain sebisa mungkin agar tidak sampai menyinggung atau diketahui tengah memikirkan Varlotta dan ciuman panas wanita itu. Ia belum siap bercerita. Bahkan, tak akan pernah mengatakan kepada Darmo Vandara apa yang terjadi di antaranya dan Varlotta.
“Aku tidak punya kecurigaan kau akan mengambil wanita yang aku sukai nanti. Lagipula, selama ini aku memang belum dekat dengan wanita mana pun.” Geonado berupaya menjawab dalam nada santai dan tenang agar tak sampai membuat sang sahabat menjadi ragu kepadanya.
"Seleramu dan aku tidak sama. Jadi, kita juga tidak akan pernah bersaing hanya demi wanita," imbuh Geonado dalam nada yang lebih bercanda.
"Kau benar, Sahabatku. Kita punya selera tidak sama pada wanita. Tapi, ada satu yang pasti. Kita sama-sama memiliki gairah besar tentang bercinta. Memikirkan wanita tanpa pakaian, sudah berhasil membuat gairah kita terbakar. Terutama kau bukan? Baiklah, aku bisa memaklumimu. Jangan sungkan untuk mengakui. Semua kau pikirkan wajar."
Geonado menggeleng segera dengan gerakannya yang masih kaku. Responsnya akan tetap demikian untuk menyembunyikan fakta dari Darmo Vandara, walau tidak cukup yakin jika aktingnya seperti yang diharapkan. Terlebih, ia memang sangatlah payah untuk urusan bersandiwara. Belum pernah sama sekali dilakukan. Terkhusus mengenai perasaan. Ia tidak sanggup dalam mengendalikan baik.
Tentang sang sahabat, ia semakin ragu jika Darmo Vandara akan memercayai jawaban-jawaban yang sudah ia berikan. Ekspresi sahabat baiknya itu tak bisa diabaikan. Seringaian penuh akan ejekan yang semakin tampak. Begitu juga dengan tatapan sarat kejahilan. Namun, tak akan pernah sampai terjadi pembongkaran apa yang dipikirkannya tadi.
"Kenapa kau kembali menuduhku berfantasi soal wanita telanjang? Kau jangan menuduhku, Kawan. Aku malas harus mengulang memberitahumu, kau pasti hanya menganggapku berbohong saja."
“Haha. Benarkah? Tapi, kenapa matamu bernafsu? Apa kau menonton film yang bagus dan ada tubuh wanita telanjang. Apakah dilengkapi adegan bercinta? Film apa itu? Beri tahu aku.”
Geonado menggeleng kuat-kuat dan mengibas-ngibaskan tangan kanan ke arah sang sahabat. Ia kembali dilanda keterkejutan karena simpulan jawaban Darmo Vandara. “Bukan. Sungguh. Bisakah kau percaya kepadaku, Kawan?"
"Hahaha. Aku ingin percaya. Tapi, untuk hal yang seperti ini membuatku akan sulit menaruh rasa percaya. Kau juga sangat sulit mengaku denganku."
"Haha. Bukan wanita telanjang di film? Lalu apa?”
Geonado sudah menyiapkan bantahan sama dalam kepala untuk dilontarkan. Namun, dipilih melakukan beberapa menit lagi. Dan, membiarkan saja sang sahabat tergelak sepuasnya. Walaupun, kekesalan sudah mulai mengikiskan toleransi dalam dirinya.
Tak apa jika Darmo mengguyoni dalam waktu lama. Ia jarang merasa terganggu akan candaan sahabat baiknya itu. Tetapi, pengecualian untuk hari ini, lebih tepat bahasan yang masih mereka bicarakan. Tidak nyaman jika harus disinggung. Geonado takut nanti kehilangan kendali dan mengatakan sebenarnya.
"Apa yang harus aku akui lagi, Kawan? Tadi, sudah aku katakan semua. Kau malah tidak percaya apa yang aku bilang. Kau minta agar aku mengakui hal tidak aku pikirkan? Apa tadi? Wanita telanjang yang bergaya erotis?" Geonado menjawab tak santai.
“Beberapa tahun belakangan ini, kau tahu sendiri jika aku sudah tidak tertarik menonton film yang seperti itu. Lebih baik, aku langsung mempraktikkan saja,” lanjurnya dengan nada lebih meyakinkan.
"Hahaha. Jika kau semakin sensitif, maka aku yakin jika dugaanku benar. Lagipula, aku mengatakan tadi soal wanita telanjang saja bukan bergaya erotis."
Geonado kembali diam. Bukan hanya dilanda rasa bingung karena balasan skat mat sang sahabat, ia juga tengah terbayang akan fantasi liar yang datang secara tiba-tiba. Muncul sosok dari Varlotta tidak mengenakan sehelai benang. Menari di depannya dengan senyuman termanis pernah dilihat.
"Tidak. Kau harus sadar." Geonado pun bergumam sembari memejamkan mata. Kepala digelengkan.
"Hahaha. Kau kenapa, Kawan? Wow, kau semakin berkeringat saja. Kau tidak bisa menahan nafsumu? Okay, bagaimana kita mencari wanita malam ini? Aku pikir kau harus menyalurkan gairahmu."
"Jika kau merasa tidak cukup hanya dengan one night bersama wanita. Bagaimana kau ikut pergi ke tempat bagus bersamaku? Di sana, kau tidak akan sulit menemukan wanita pintar dan berpengalaman di ranjang. Kau pasti puas bercinta nanti, Kawan."
Geonado menggeleng cepat. "Maaf, aku tidak mau. Aku malas pergi ke mana-mana. Kau saja ke sana."
"Hahaha. Jika sendiri tidak akan enak. Lebih baik kita pergi bersama-sama. Kau jangan terlalu si--"
Sang sahabat tak menyelesaikan ucapan karena pintu ruang kerjanya dibuka dari luar oleh seseorang. Mata membelalak ketika sudah dapat mengenali siapa yang datang. Benar, Varlotta Vandara. Tidak pernah disangka wanita itu hadir tanpa kabar.
"Bagaimana, Kawan? Kita harus pergi minggu ini. Aku yang mentraktirmu. Kau boleh bebas memilih wanita mana pun yang kau ingin ajak bercinta. Kau boleh memesan lebih dari satu. Tenang saja."
"Kalian berdua memiliki rencana apa? Akan pergi ke suatu tempat? Benar bukan begitu?" Varlotta langsung mengajukan sejumlah pertanyaan, efek rasa ingin tahu.
"Benar, Adikku. Kami akan pergi ke sebuah tempat sangat menyenangkan. Aku mungkin akan cuti beberapa kali. Dan, itu berarti kau yang mengambil alih pekerjaanku. Oke?"
Varlotta menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kuat, tak ingin. "Enak saja kau beri perintah kepadaku. Kerjakan sendiri."