"Cepatlah pergi, Kakakku. Kau harus sampai di sana sebelum Dad datang jika kau tidak ingin Dad mengomel." Varlotta melontarkan kalimatnya yang bernada pengusiran sembari menyeringai nakal.
"Kau suka sekali mengulur-ulur waktu. Lanjutkan lagi nanti diskusimu dengan Mr. Vilano." Varlotta pun menambahkan dalam nada suara lebih galak.
"Kau selalu menumpahkan masalah kepadaku. Kau harusnya bertanggung jawab sendiri atas apa yang kau sudah lakukan, Varlo. Tapi, ya baiklah. Kau bisa bernapas lega karena aku akan menyelesaikannya untukmu, Adikku Sayang. Kau harus senang."
Varlotta memerlihatkan senyuman yang lebih lebar lagi pada sang kakak. Mereka berdua sudah saling berdiri berhadap-hadapan. Diterima pula usapan halus di bagian rambut dari kakak laki-lakinya itu.
"Tentu saja aku senang. Kau memanglah saudara terbaik aku miliki, Darmo Vandara. Aku sangatlah bangga kau menjadi kakakku." Varlotta memberikan pujian dalam suara semangat. Kedua jempol tangan pun diacungkan kepada saudara sulungnya itu.
Sang kakak hanya menunjukkan anggukan sebagai balasan. Lalu, berjalan menjauhinya. Melangkah ke arah pintu ruang kerja Geonado. Tentu bermaksud keluar. Varlotta hanya mengamati lewat ekor mata. Atensi selebihnya diberikan pada Geonado Vilano.
“Mr. Gorgeous…,” Varlotta memanggil dengan suara pelan. Namun, yakin masih bisa didengar.
Dan, benar saja. Geonado menolehkan kepala kepadanya. Menatap cukup lekat. Sorot kedua mata pria itu sedikit mengganggu dan tak membuat nyaman karena memancarkan kedinginan. Namun, Varlotta ingin mengabaikan saja. Jika dipermasalahkan, maka ia tidak akan tenang.
Sebelum melontarkan pertanyaan, ditarik napas dalam. Lalu, diembuskan secara cepat guna menetralkan kegugupan yang entah datang secara tiba-tiba. Bukan karena menyangkut perihal sesuatu hendak dikonfirmasi pada Geonado. Melainkan, akibat tatapan mata pria itu.
“Ada yang ingin aku tanyakan kepadamu. Aku penasaran tentang masalah ini.” Varlotta berujar dengan nada serius. Ekspresi di wajah dibuat sedatar mungkin agar terlihat sungguh-sungguh.
“Kau harus menjawab jujur. Tolong jangan ada yang kau sembunyikan dariku.” Varlotta meminta dalam suara semakin tegas. Sepasang mata biru lautnya pun juga tambah serius menatap.
“Masalah apa? Katakan saja. Aku akan berusaha menjawab sejujurnya tanpa kebohongan.”
"Aku semakin ingin tahu kebenaran ucapan kakakku tadi. Apa benar begitu, Mr. Vilano? Tidak mungkin hanya sebatas bercanda saja. Kau dan kakakku sama-sama pria dewasa.”
Baru saja sedetik diselesaikan pertanyaan, Varlotta sudah mendapatkan respons dari Geonado yang berupa tatapan intens, tetapi terkesan cukup tajam. Varlotta pun seketika menjadi bergidik. Tidak biasanya pria itu bersikap demikian. Kelembutan pada kedua mata beriris biru Geonado tak tampak ada. Bukan hanya semata penilaian pribadinya. Benar-benar tidak tampak.
"Soal apa? Kau sedang membicarakan tentang apa? Aku kurang paham.”
Varlotta menelan ludahnya dengan sedikit susah payah. Balasan bernada datar dari Geonado yang menjadi penyebabnya. Tidak disangka kembali, pria itu menunjukkan perubahan cara berbicara dan menanggapi kepadanya juga. Sangat berbeda dari hari-hari yang sudah lewat.
Varlotta tidak mampu memahami situasi. Ia bingung akan bagaimana perlakuan dari Geonado yang sangat kontras. Varlotta jelas langsung memikirkan alasan yang kuat dan masuk akal melatarbelakangi semuanya. Berkaitan akan peristiwa sudah terjadi di waktu lalu.
Tak butuh lama dalam mengambil sebuah kesimpulan. Varlotta pun langsung dilanda perasaan bersalah dan malu bersamaan. Ia yang sudah menyebabkan. Wajar memang Geonado kurang bisa bersikap bersahabat. Harus diterima untuk saat ini. Namun, tak akan dibiarkan berlarut.
Ya, permintaan maaf mungkin perlu dilakukan nanti. Beberapa menit lagi. Ia harus menyiapkan kalimat-kalimat yang tepat sekiranya mampu menggugah hati dan sikap Geonado kepadanya. Tak ingin hubungan mereka mengalami perubahan ke arah yang kurang baik kedepan.
"Kenapa tidak menjawab? Aku perlu yang lebih jelas supaya aku bisa mengerti."
Varlotta pun menaikkan salah satu alis sembari berupaya mengartikan apa yang sedang dimaksudkan oleh Geonado. Dan, ia dapat memahami dengan cepat. Sebagai balasan, kepala pun dianggukkannya beberapa kali. Sudah kembali ditatap Geonado dengan lekat. Dan, apa dimaksudkan oleh pria itu sudah mampu untuk dipahami secara keseluruhan.
“Sabar dulu, Mr. Gorgeous. Aku pasti akan menjelaskan. Kau kenapa mudah emosi? Apakah ini karena hasratmu yang tidak kunjung tersalurkan seperti kata kakakku?” tanya Varlotta santai.
“Bukan begitu. Kau jangan asal menyimpulkan, Little Princess. Dan, lebih baik kau cepat katakan kepadaku apa yang ingin kau tanyakan. Aku tidak suka dibuat menerus penasaran.”
"Soal obrolanmu dengan kakakku. Kalian akan pergi ke mana nanti? Aku kurang bisa mendengar. Tapi, ada kaitan dengan bar dan hotel. Aku yakin tidak salah informasi tadi yang aku dapat.”
Varlotta belum berkedip sejak melontarkan kalimat-kalimatnya. Justru tatapannya pada sosok Geonado terus dilekatkan. Ingin memerhatikan reaksi pria itu atas pertanyaannya. Dan, tampak dengan jelas bagaimana Geonado terkejut. Kedua mata yang mengalami pembulatan.
Varlotta sudah membungkam mulutnya. Tidak mengatakan apa-apa lagi. Walau, mulai muncul beragam spekulasi yang harus dikonfirmasi kepada Geonado. Akan dilakukan. Namun, nanti. Ia menanti jawaban pria itu terlebih dahulu agar bisa membuat kesimpulan yang baru.
“Urusan pria. Lebih tepat rencanaku dan Kakakmu bersifat privasi. Aku tidak diizinkan untuk memberitahukan kepada pihak lain. Termasuk padamu, Little Princess. Maaf jika kau tid—”
“Ya, aku tidak terima. Aku ingin tahu.” Varlotta memotong dengan suara kesalnya.
Penarikan oksigen sebanyak mungkin dilakukan guna mengurangi napas yang mulai berderu. d**a pun naik dan turun akibat emosi semakin bertambah. Sungguh, balasan dilontarkan oleh Geonado bukan sesuatu diharapkannya. Ia tidak suka mendengarkan jawaban yang terkesan disembunyikan. Rasa penasarannya kian menjadi-jadi. Menimbulkan amarah juga dalam dirinya.
“Maaf, aku tidak bisa memberitahukan padamu, Little Princess. Darmo melarangku. Kau harus mengerti. Aku tahu kau tidak akan terima. Tapi, tolonglah belajar menghargai privasi orang lain.”
Geonado masih memusatkan pandangannya pada Varlotta untuk melihat bagaimana reaksi wanita itu atas jawaban bernada tegasnya. Walau, ada rasa sedikit tak nyaman di dalam hati Geonado berbicara yang bisa kurang menyenangkan pada Varlotta.
"Kau paham apa yang sudah aku sampaikan? Kau pasti mengerti. Aku yakin kau akan memahami."
Varlotta menggeleng. Masih belum mampu menerima. “Jika kau tidak mau memberitahuku, tidak apa-apa. Aku akan menanyakan kepada kakakku sendiri. Aku jamin dia akan mengatakan kepadaku," jawabnya dengan suara lebih dingin.
"Aku ingin tahu rahasia kalian seseram apa sampai tidak boleh dibocorkan. Hanya karena kalian para pria, bukan bukan berarti bisa memperdayaku."
"Jangan bicara seperti itu, Varlo. Kau harus dapat menjaga ucapanmu. Jangan sembarangan, walau kau hanya ingin mengutarakan pendapatmu. Kau harus tetap menjadi gadis manis yang aku kenal. Oke?"
Varlotta menggeleng cepat. "Bagaimana jika aku tidak mau menjadi gadis manis lagi?"
"Aku sudah bosan dengan label tersebut dari dulu. Rasanya tidak berdampak bagus juga bagiku. Seperti aku dilarang melakukan apa yang aku mau demi menjaga imej saja."
Varlotta berdecak. "Ckck. Aku ingin ubah semuanya. Bukan masalah harus menjadi wanita dengan cap nakal dan pemberontak bukan? Tidak akan masuk sebagai kriteria untuk kau jadikan sebagai pendamping?"