Manda memutuskan untuk berhenti bekerja dan pindah dari Apartemen Steve. Sebenarnya hatinya masih ragu apa Steve ingin bertahan dengannya dengan kondisi Manda sedang mengandung.
Manda Akhirnya membatalkan Kepergiannya ke Makasar, Dia lebih memilih pulang kerumah orangtuanya walaupun dia ragu Keluarganya menerima Anak Gadisnya Hamil diluar nikah. Manda tidak berniat tinggal di kampung halamannya, Dia tidak ingin orang tuanya jadi bahan Cemoohan Tetangga bermulut pedas.
Manda menginap di rumah Iin semalam dan memutuskan Mencari tempat Kost sementara. Seperti biasa Steve tak pernah ada kabar, Manda menjadi sangat terbiasa dengan hal itu.
Bermodal uang ratusan juta Manda bertekad hidup tanpa mengandalkan Steve lagi, Dia akan hidup mandiri bersama Anaknya kelak.
Ponsel Manda berdering, Ternyata Irvan menghubunginya.
"Halo Manda bagaimana kabarmu? Tanya Irvan disebrang sana.
"Aku baik.." Jawab Manda.
"Apa kita bisa bertemu" Tanya Irvan lagi.
"Baik..Dimana? Manda menyetujui pertemuan ini.
Sebenarnya Manda bingung untuk apa Irvan ingin menemuinya, Tapi karena Irvan selalu baik pada Manda ia tidak bisa menolaknya.
Manda bergegas mempersiapkan diri menuju Restauran tempat mereka bertemu.
Manda memakai Taksi dan terjebak macet karena Jam pulang kantor.
Manda akhirnya sampai di Restauran mewah.Manda mencari No meja tempat mereka Bertemu. Manda terkejut ternyata Steve dan Ira juga berada disana, Manda ingin pergi dari Restauran tapi Irvan sudah dahulu menyadari kehadiran Manda.
"Manda" Irvan melambaikan Tangan.
"Ah..Kenapa Pak Steve juga ada disitu" Gumam Manda dalam hati.
Dengan ragu Manda berjalan menuju meja dimana Irvan, Steve dan Ira berada.
Steve terlihat tenang seolah mereka tidak terlalu akrab.
"Selamat Malam.." Sapa Manda pada steve dan Ira.
"Hai..Apa kamu Manda?" Tanya Ira.
"Iya Tante saya Manda" Jawab Manda tersenyum.
"Silahkan duduk" Ucap Ira pada Manda.
Ira tau Irvan menyukai Manda, Terlihat dari tatap Irvan pada Manda yang terlihat bahagia saat Manda datang.
"Bukannya kalian saling kenal Sayang" Tanya Ira pada Steve.
" Iya..Bukan begitu Manda" Steve berbalik tanya pada Manda.
Manda kaget dan menganguk cepat.
Ternyata Mereka sudah memesan Makanan berbahan dasar Seafood sebelum Manda datang. Saat Manda duduk Makanan pesanan mereka datang.
"Uwek.." Manda tiba-tiba mual dan merasa ingin muntah saat mencium bau makanan.
"Maaf..Saya tiba-tiba mual" Ucap Manda menutup mulutnya.
Steve dan Irvan Yakin Manda Mengalami masa ngidam dengan gejala Mual.
Steve merasa khawatir tapi dia masih bersikap pura-pura tidak peduli dengan Manda.
"Saya Pamit ke toilet" Manda Pamit sambil berjalan ke Toilet.
Manda mencuci Mukanya agar terlihat segar, Manda mendadak pucat dan perutnya terasa bergejolak. Manda memuntahkan semua makanan dan tubuhnya terasa sangat lemas.
Manda merasa sedih kenapa saat seperti ini dia merasa mual.
"Ya..Tuhan kenapa perutku sangat mual" Ucap Manda sambil mengelus perutnya.
Manda keluar dari toilet dan ijin pamit pulang karena Tubuhnya terasa lemas.
"Maaf saya ijin pulang" Ucap Manda pada mereka bertiga.
"Aku antar" Ucap Irvan.
"Tidak aku naik taksi saja" jawab Manda.
"Berbahaya bagimu saat seperti ini pulang sendiri" Irvan Mengambil kunci mobil dan langsung berdiri.
Steve hanya terdiam, Ada rasa cemburu Irvan sangat perhatian pada Manda. Tapi diapun tak bisa berbuat banyak karena Ira disampingnya.
"Apakah kamu Hamil Manda?" Tanya Ira.
"Iya, Saya Hamil 6 Minggu" Jawab Manda tanpa Ragu.
"Hai..Irvan..Cepat nikahi dia..Kau seorang laki-laki harus bertanggung jawab" Ira menegur Irvan.
"Bukan Irvan Ayah Bayi ini" Jawab Manda menyela.
"Apa?" Ira terkejut Irvan mengencani Wanita Hamil.
"Lantas siapa Ayah Bayi ini? Irvan apa tidak ada perempuan lain? Kenapa kamu mengencani perempuan Hamil tak bersuami?" Tanya Ira Marah.
"Saya tidak ada hubungan apa-apa dengan Adik anda dan soal Ayah bayi ini sepertinya tidak perlu saya menjelaskan kepada Anda karena itu Privasi saya. Maaf saya Pamit" Manda meninggalkan Mereka bertiga. Steve terdiam tanpa bisa berbuat apa-apa.
Irvan dengan berat hati membiarkan Manda Pergi.
Manda menaiki Taksi membawanya pulang ke rumah kost nya. Rasa Sesak di d**a akibat perkataan Ira, Andai saja Dia tahu tunangannya Ayah Bayi ini apa dia berani berkata seperti itu.
Manda mampir ke supermarket untuk membeli buah-buahan dan s**u hamil.
Saat memilih s**u hamil ternyata seseorang memperhatikannya dari belakang.
"Setahuku kau belum menikah Manda" Ucap suara laki-laki dari belakang tubuh Manda.
"Adi?" Manda terkejut
"Kenapa wajahmu selalu seperti itu saat melihatku?" Adi Tersenyum mengejek.
"Apa kau hamil?" Tanya Adi selidik.
"Apa urusanmu" Jawab Manda ketus sambil berjalan melewati Adi.
"Siapa Ayah Bayi itu?Apa kalian sudah menikah?" Tanya Adi bertubi tubi.
"Apa urusanmu..?!" Manda menjawab sambil mendekatkan wajahnya pada Adi.
"Hei..sepertinya kau masih menyimpan dendam kepadaku..Ayolah..itu masa lalu Manda. Bagaimana kalau kau menjadi Pacarku lagi..Tapi bila kau sedang Hamil mungkin aku mengurungkan niatku" Ejek Adi.
"Sampai matipun atau bahkan laki-laki di dunia ini hanya kamu sepertinya Aku memilih menjadi hidup sendiri" Jawab Manda kesal sambil berjalan menuju Kasir.
Manda buru-buru pergi meninggalkam Adi yang tersenyum sambil terus berpikir.
Adi merasa Manda yang sekarang bukan Manda yang lugu dan polos, Dia yakin Manda sedang hamil karena dia kepergok sedang memilih s**u hamil dan Perawakan manda yang sedikit berisi.
"Siapa dirimu sekarang Manda?" Tanya Adi dalam hati sambil terus menatap manda yg berjalan keluar.
*****
Ke Esokan harinya..
Manda sangat bosan seharian di Rumah kost nya Hanya berbaring dan memainkan Ponselnya.
Manda merasa kehamilannya masuk Fase ngidam, Pemilih makanan, Sensitive indra penciuman dan Mood yang berubah-ubah. Kadang merasa sangat menyesal mempertahankan Janinnya dan ingin menyerah tapi kadang merasa bahagia dengan kehamilannya.
Getaran ponselnya menyadarkan lamunannya.
"Halo Manda..Bisa kita bertemu"
Pesan dari Steve.
"Kapan?" Jawab Manda singkat.
"Nanti sore di Cafe kopi kita jam 5"
"Baiklah"
Manda bersiap untuk bertemu Steve. Jujur kadang Manda merasa kecewa pada Steve. Dia merasa orang satu-satu nya yang merasa terpojok dan menderita akibat Kehamilan ini tapi Steve seakan tidak peduli bahkan dia hanya diam saat tunangan merendahkannya.
Manda sudah sampai di Cafe tempat janji bertemu dengan Steve, Entah Apa yang membuat Steve ingin bertemu dengannya. Manda memesan Es Cream Vanilla dengan topping Strawberry di atasnya. Setidaknya Es Cream ini membuatnya lebih baik.
"Apa Semua Ibu Hamil selalu berpikir tentang makanan" Ucap Steve yang datang tanpa Manda sadari.
"Jangan membuat Mood saya jadi buruk" Jawab Manda sambil melahap Es Cream sambil tersenyum.
"Apa keadaanmu baik?" Tanya Steve.
Manda mengangguk tanpa menghentikan aktifitas makan nya.
Steve menatap heran pada Manda yang terlihat cuek dan tidak merasa malu. Biasanya Manda selalu merasa segan dan sungkan pada Steve.
"Apa kamu belum makan dari Pagi?" Tanya Steve sambil menatap Manda.
"Ya..Semua makanan yang kumakan akan keluar kembali sekitar 15 menit setelah selesai Makan" Ucap Manda berhenti makan sesaat.
"Aku mengkhawatirkan mu" Steve menyentuh tangan Manda.
Manda terdiam sejenak, Air matanya tiba-tiba jatuh tanpa terasa.
"Aku seperti hidup sendiri di dunia ini bahkan saat aku Hamil tak ada yang memperhatikanku, Aku terkadang ingin menyerah pada keadaan tapi saat aku tersadar bahwa ada bayi mungil di perutku aku merasa tuhan mengirimnya untuk menemankku" Ucap manda sambil mengusap Air matanya.
"Untuk apa Pak Steve ingin menemuiku?" Tanya Manda.
Steve masih menatap Manda, Di melihat kesedihan di Mata manda yang sayu dan terlihat lingkaran Hitam dimatanya akibat kurangnya istirahat.
"Apa yang kamu inginkan saat ini?"Tanya Steve pada Manda.
Manda terdiam dan menangis.
pertanyaan yang sulit dijawab di saat apa yang dia inginkan mustahil dia dapatkan.
"Aku ingin hidup normal seperti Orang lain, Saat seorang wanita hamil mereka membutuhkan kasih sayang dari seorang suami tapi karena kecerobohanku Aku hamil tanpa suami" Manda terus menangis.
Steve menggenggam erat tangan Manda dan berkata.
"Maukah kamu menikah denganku?" Tanya Steve.
Manda terdiam serasa tak percaya, Apa Steve dengan perkataannya. Bagaimana dengan tunanganya.Pertanyaan di hati memunculkan keraguan.
TBC