Suara petir mengerikan namun lebih menakutkan informasi di tengah hujan.
Gemuruh guntur menyambar. Fafa merapatkan cardigannya setiap kali suara kaca bergetar. Sudah satu jam hujan turun deras dan semakin lama langit terlihat semakin gelap.
Mata Fafa yang sedari tadi melihat keluar rumah nampak cemas. Bagaimana tidak, biasanya sore hari suaminya sudah pulang namun hingga malam tiba suaminya tak kunjung datang. Ditambah ponsel yang sedari tadi dia hubungi tak ada respon. Tidak biasanya Andro seperti ini, suaminya itu selalu menyempatkan memberi kabar kemanapun dia pergi dan apapun yang dia lakukan.
Fafa terus memandang jam yang tergantung di dinding. Dia menggenggam ponselnya dengan erat. Berjaga-jaga saja jika tiba-tiba suaminya menelfon. Mungkin satu pesan singkat dari suaminya sudah bisa membuat hatinya tenang.
Benar saja tidak lama kemudian ponselnya bergetar. Nomor yang tidak dikenal terpampang di layar itu. Fafa mengerutkan keningnya, dia kuatir jika itu telvon dari penipu-penipu yang marak diberita. Dia membiarkan ponselnya hingga mati lagi.
Lagi dan lagi ponselnya terus bergetar dari nomor yang sama. Entah dorongan darimana hingga membuat tangannya menekan tombol hijau yang artinya dia menerima panggilan itu. Dengan tangan bergetar, hati yang berdegup lebih cepat dia menempelkan ponsel itu ke telinganya.
"Selamat malam." Sapa seseorang dengan suara berat.
"Malam." Jawab Fafa dengan takut karena itu dari suara laki-laki.
"Apa benar ini dengan istrinya bapak Andro Winata?" tanya orang itu dengan suara tegas. Sepertinya itu berteriak karena takut suara tenggelam ditengah hujan yang turun cukup deras.
"Benar." Jawab Fafa dengan cepat. Hatinya semakin tidak enak. Tiba-tiba saja terlintas pikiran negatif di kepalanya.
"Maaf Bu saya ingin menyampaikan jika suami Ibu terlibat kecelakaan di Jalan Sudirman dan sekarang sedang perjalanan ke rumah sakit Ibnu Sina. Ibu bisa kesana sekarang untuk memastikan kondisi suami Ibu." Kata orang itu dengan hati-hati. Dia menjaga perasaan Fafa karena dia tahu wanita itu akan kuatir dan terkejut.
Fafa yang mendengar ucapan dari laki-laki yang tidak dikenal itu hanya terdiam. Dia bingung akan bicara apa. Antara percaya dan tidak. Dia ingin tidak mempercayai itu namun dia juga tidak tahu suaminya ada dimana sedangkan dia ingin mempercayai itu namun dia tidak ingin hal buruk menimpa suaminya.
"Halo, Bu.. apakah Ibu masih bisa mendengar saya?" tanya orang itu lagi.
"Halo, i..iya saya mendengar." Jawab Fafa dengan suara bergetar. Pikirannya kosong, pandangannya satu dan tiba-tiba air mata menetes.
"Baik, Bu saya tutup telvonnya. Hati-hati dijalan." Kata orang itu sebelum menutup telvon. Belum sempat Fafa menjawab telvon itu sudah mati.
Fafa terduduk lemas. Perutnya tiba-tiba terasa kencang, dia memegang perutnya dan mengusapnya dengan lembut. Dia hanya bisa menangis dan menatap ponselnya dengan tatapan nanar.
"Ini pasti salah sambung." Kata Fafa dengan suara bergetar.
Dia mencari nomor suaminya dan menekan panggilan untuk laki-laki itu. Lama sekali hingga dering terakhir tak dijawab oleh suaminya. Pikiran Fafa tambah kalut, dia semakin takut jika telvon tadi benar. Namun, lagi-lagi Fafa ingin membuktikan. Dia masih berharap jika itu semua tidak benar.
"Ayo, Mas angkat telvonnya." Kata Fafa dengan air mata yang terus mengalir.
Lagi-lagi telvon itu tidak diangkat. "Sekali lagi aku akan telvon jika memang tidak dijawab aku akan ke rumah sakit untuk memastikan." Katanya bertekad.
Baru dua kali berdering sudah dijawab. Ada kelegaan tersendiri dalam hati Fafa. Dia merasa informasi yang tadi dia terima salah.
"Selamat malam." Jawab seseorang dari seberang telvon. Namun itu bukan suara Andro.
"Kenapa suara perempuan." Batin Fafa tidak enak.
"Halo." Kata Fafa singkat. Kelegaan yang tadi menghampiri kini kembali menyapa. "Dimana suami saya?" tanya Fafa dengan nada tegas.
"Maaf, Bu bisakah Ibu ke rumah sakit Ibnu Sina sekarang?" tanya wanita itu yang tak lain adalah perawat rumah sakit.
"Untuk apa saya kesana? Saya hanya ingin bicara dengan suami saya." Jawab Fafa dengan tegas namun air matanya kembali menetes.
"Dokter akan menjelaskan semuanya ketika Ibu sudah sampai sini." Jawab perawat itu lembut. Dia tidak tega memberi tahu keadaan Andro lewat telvon karena itu bisa membahayakan Fafa.
"Baik." Jawab Fafa dengan cepat. Dia mematikan telvon itu dan beralih telvon Papanya. Hanya orang tuanya kini yang terlintas dipikirannya. Tidak ada lagi yang bisa dia mintai tolong mengantar ke rumah sakit selain orang tuanya.
"Pa, bisakah Papa kesini sekarang?" tanya Fafa dengan menangis.
"Ada apa, Fa? Apa yang terjadi?" tanya Santo kuatir. Pasalnya dia mendengar suara anaknya yang sedang menahan tangis.
"Nanti Fafa jelaskan. Tolong kesini sekarang!" Pinta Fafa dengan tangisnya.
"Tapi ini hujan deras, Papa tidak bisa menyetir di tengah hujan, mata Papa tidak senormal dulu." Jawab Santo dengan lemah. Sebenarnya dia ingin menjenguk anaknya itu karena dia juga kuatir namun keadaan matanya yang tidak bisa menyetir di tengah hujan yang deras.
Hanya suara tangis yang terdengar dari seberang telvon. Hal itu membuat Santo semakin kuatir. Dia yakin ada sesuatu hal yang terjadi dengan anaknya.
"Fafa tenang, Nak, Papa akan minta tolong Masmu untuk antar Papa kesana." Kata Santo akhirnya.
"Ajak Ibu juga, Pa." Kata Fafa. Sepertinya dia membutuhkan sosok Ibunya sebagai penguat. Dia yakin jika hal buruk sedang menimpa suaminya sekarang, ditambah pihak rumah sakit yang memintanya untuk datang langsung ke rumah sakit.
"Iya, kami kesana sekarang." Jawab Santo memutuskan. Dia menyimpan kembali ponselnya dan memanggil anak sulungnya serta istrinya untuk segera melihat kondisi Fafa.
"Hati-hati, Fan." Kata Sari mengingatkan putra sulungnya yang kini membawa mobil dengan kecepatan tinggi.
"Benar kata Ibumu. Adikmu sedang membutuhkan kita jadi kita-kita harus sampai sana dengan selamat." Kata Santo juga ikut mengingatkan.
"Iya, Pa." Jawab Fandi sambil mengurangi kecepatan laju mobilnya.
Mobil yang dikendarai Fandi lebih pelan lagi ketika dia melewati segerombolan mobil polisi dan ambulan yang ada di pinggir jalan. Tak lupa juga 3 mobil sedan yang ringsek juga sebuah truk dengan kaca depan yang pecah dan beberapa motor yang hancur parah. Tidak lupa juga bekas darah yang bercucuran yang ikut mengalir karena air hujan yang turun. Di sana beberapa polisi sedang menyemprotkan pilok putih sebagai tanda bekas kecelakaan. Ada seorang dengan luka kecil di kepalanya yang terduduk di pinggir trotoar.
"Kok rame-rame, Pa?" tanya Sari pada suaminya.
"Sepertinya habis terjadi kecelakaan beruntun. Itu banyak kendaraan yang rusak." Jawab Santo dengan mata yang memperhatikan sisi sebelah kiri bekas kecelakaan terjadi.
"Fandi hati-hati bawa mobilnya, Nak." Kata Sari kembali mengingatkan putranya.
Nasehat itu hanya dibalas anggukan kepala oleh anaknya. Dia terus fokus ke jalanan yang mulai macet karena kecelakaan itu. Dia penasaran namun dia tidak ingin fokusnya pecah. Dia sedang membawa kedua orang tua yang dia cintai dan memikirkan seorang adik perempuan yang menunggu mereka untuk datang.
Mobil sedan berwarna hitam itu kini berhenti disebuah rumah berlantai dua. Pintu rumah yang tertutup rapat namun pintu gerbang yang terbuka lebar. Sari dan Santo langsung keluar dari mobil tanpa menggunakan payung. Pikirannya sudah kalut karena mendengar suara tangis putrinya. Sedangkan Fandi keluar paling belakang karena memastikan mobilnya sudah aman.
"Ya Allah, Nak." Teriak Sari terkejut melihat keadaan putrinya.