Pergi

1261 Words
Langit malam kelam, bintang dan rembulan tenggelam. Takdir yang seakan merubah hidup menjadi lebih suram. Seorang wanita muda dengan perut besarnya duduk bersimpuh di dekat tangga. Lampu utama ruang tamu yang sengaja dia matikan dan dia ganti dengan lampu kecil membuat keberadaannya menjadi samar. Tangannya masih bergetar menggenggam ponsel, dan jantungnya tak berhenti berdetak kencang. Pikirannya menjadi berantakan karena dia takut. "Bangun, Nak." Kata Sari begitu dia di depan putrinya. "Lantainya dingin nanti kamu bisa masuk angin." Kata Santoso sambil membantu anaknya untuk bangun. "Suamiku lebih kedinginan, Pa." Jawab Fafa dengan sesenggukan. Mendengar kata suami membuat Sari, Santoso, dan Fandi mengedarkan pandangan. Pasalnya di rumah besar ini hanya ada Fafa seorang diri dengan kondisi yang menyedihkan. "Dimana suamimu?" tanya Sari lembut. Dia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dan dia memilih untuk bertanya dengan hati-hati. "Rumah sakit." Jawab Fafa singkat. Dadanya terasa sesak, rasanya untuk berbicara saja dia susah. "Rumah sakit mana? Ayo kita kesana." Santoso yang seakan mengerti tentang pikiran putrinya. Ini adalah jawaban dari rasa tidak enak hatinya sejak tadi. "Ibnu Sina." Jawab Fafa singkat lagi. Sari membantu putrinya itu untuk berdiri. Fanti yang melihat Fafa lemas dan Ibunya yang tidak kuat menahan berat badan Fafa segera dia gendong adik perempuannya itu. Adik yang selalu dia temui dengan senyum merekah kini penuh dengan linangan air mata. Sari mengambil payung yang tersedia di samping pintu sedangkan Santoso membukakan pintu mobil agar Fandi bisa mudah mendudukkan Fafa di mobil. Setelah itu mereka ikut masuk ke mobil dan menuju ke rumah sakit. Mereka masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi namun mereka memilih untuk diam karena mereka berpikir semua akan terjawab ketika mereka sudah tiba di sana. Mobil terasa begitu sunyi. Keheningan yang memeluk mereka berempat. Hanya suara sesenggukan dari Fafa yang sejak tadi terdengar. Sari mengelus putrinya itu dengan lembut. Rasanya dia ingin bertanya namun dia tidak tega. Dia lebih memilih untuk menyimpan rasa penasarannya itu. Fandi membawa mobilnya dengan tenang. Hujan yang tak kunjung reda yang malah turun dengan deras membuat jalanan menjadi licin. Genangan demi genangan memenuhi jalanan hingga membuat air itu muncrat ke kendaraan-kendaraan yang sedang lewat. Mereka tiba di parkiran mobil rumah sakit Ibnu Sina. Fafa yang ingin membuka pintu mobil namun tangannya lemas membuat Fandi sigap menolong adiknya. Dia segera turun dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk adiknya itu. "Hati-hati, Fa." Kata Fandi sambil memegang kepala Fafa agar tidak terbentur. Tidak lupa tangan kirinya membantu Fafa untuk menahan tubuhnya agar tidak jatuh. Mereka langsung menuju ruang informasi. Di sana dua petugas berseragam putih sedang melaksanakan tugasnya. "Dimana korban kecelakaan atas nama Andro Winata?" tanya Fafa dengan cepat. Tidak bisa dibohongi jika badannya masih sangat lemas. Kedua perawat itu saling berpandangan. Mereka merasa kasihan dengan kondisi Fafa saat ini ditambah mereka harus menyampaikan kondisi suaminya sekarang. "Mati ikut saya." Kata perawat yang memakai kacamata itu. Tanpa berpikir panjang Fafa dan kedua orang tuanya serta kakaknya mengikuti perawat itu. Fafa yang berjalan di bantu oleh Fandi terus melafalkan doa agar suaminya baik-baik saja. Dia berharap hanya luka kecil yang menyentuh tubuh suaminya. Ruang jenazah. Fafa semakin lemas, pikirannya semakin berantakan, air matanya kembali menetes dengan deras. Perawat itu membuka ruangan itu dan mempersilakan Fafa masuk. Tangannya menunjuk ranjang pasien atas nama Andro Winata. "Aaaa...." Teriak Fafa begitu tangannya membuka kain putih yang menutupi pasien. Fafa terduduk lemas ketika matanya melihat wajah suaminya yang sudah pucat, mata suaminya tertutup rapat, ada sedikit senyum tersungging dibibir suaminya, dan sedikit luka kecil di bagian dahi Andro. Sari yang melihat menantunya itu ikut bersedih ditambah dia harus melihat kondisi putrinya yang terpuruk. Dia langsung memeluk Fafa dengan erat. Air matanya tidak bisa dia tahan lagi. Dia ikut merasakan apa yang dirasakan oleh putrinya itu. "Pak Andro meninggal dunia ketika perjalanan ke rumah sakit. Luka dikakinya cukup parah karena terjepit dan itu membuatnya kehilangan banyak darah." Kata perawat itu menjelaskan. "Mohon maaf kami belum sempat memberikan pertolongan maksimal untuk suami ibu." Lanjut perawat itu. Fafa yang mendengar apa yang dialami oleh suaminya itu semakin keras tangisnya. Ternyata ini adalah jawaban dari perasaan kuatirnya kepada suaminya sejak tadi. Baru tadi pagi dia memasak bersama suaminya namun malam ini suaminya benar-benar meninggalkannya untuk selama-lamanya. Padahal akhir pekan nanti mereka sudah merencanakan untuk liburan namun itu hanya sekadar rencana saja. "Tolong segera urus jenazah menantu saya supaya besok pagi bisa langsung dimakankan." Kata Santoso kepada perawat itu. Dia melihat jika menantunya itu belum di sucikan mungkin pihak rumah sakit menunggu persetujuan dari pihak keluarga. Dia berpikir lebih biar rumah sakit saja yang mengurus jenazah menantunya supaya ketika pulang bisa langsung disholati dan dimakamkan. "Baik, Pak kami akan mengurus jenazah Pak Andro." Jawab perawat itu patuh. Santoso menganggukkan kepalanya pelan. Dia menepuk istrinya pelan dan memberikan isyarat kepada istrinya agar membawa Fafa keluar dari ruangan. Karena menurut Santoso lebih baik anaknya diberi tempat yang nyaman agar dia bisa sedikit tenang. Fandi yang tahu jika Ibunya kuwalahan merangkul Fafa langsung bertindak, dia menggendong adiknya itu keluar dari kamar jenazah. Membawanya duduk di kursi di luar ruangan. Sari kembali memeluk Fafa yang masih menangis sesenggukan. Meskipun kini sudah tidak histeris seperti tadi. "Kabari keluarga Andro." Kata Santoso kepada anak lelakinya itu. "Iya, Pa." Jawab Fandi singkat. Dia bangkit dari duduknya dan agak menjauh dari Fafa dan orang tuanya. Dia mencari nomor Ibu Andro dan langsung menelfonnya. Panggilan pertama tidak mendapat jawaban namun Fandi terus melakukan panggilan hingga akhirnya panggilannya itu dijawab. "Halo, ada apa, Fan tumben nelfon malam-malam." Kata seorang wanita paruh baya dari seberang telvon. "Malam, Tante maaf aku ingin menyampaikan kabar." Kata Fandi dengan hati-hati. Dia memilih kata-kata yang tidak mengejutkan Ibu Fandi. "Kabar apa? Kamu mau nikah?" tanya Ria bercanda. Dia sudah menganggap Fandi seperti anaknya sendiri sama seperti dia menganggap Fafa. Fandi tersenyum kecut. Saat ini ada hal yang lebih penting yang harus dia sampaikan. "Ini kabar yang tidak bagus, Tan tolong jangan panik ya." Jawab Fandi dengan hati-hati. Hening. Tidak ada jawaban apapun dari seberang telvon. Hal itu membuat Fandi semakin takut. Pasalnya dia belum mengatakan apapun namun Tante Ria seakan sudah terkejut. "Tante bisa denger aku?" tanya Fandi pelan. "Katakan saja, Fan." Kata Ria dengan tegas. Dia tahu kalau pembicaraan malam ini menyangkut hal serius maka dia menyudahi gurauannya kepada Fandi. "Saat ini aku dan Fafa juga Papa dan Ibu sedang berada di rumah sakit. Beberapa waktu yang lalu Andro kecelakaan, Tante, dan sekarang kami akan menjemput Andro untuk pulang." Kata Fandi pelan. Rasanya dia tidak tega jika harus mengatakan apa yang telah terjadi kepada Andro. Dia membayangkan jika Ibunya berada di posisi Tante Ria sekarang. "Innalilahi, lalu bagaimana dengan Andro? Dia baik-baik saja?" tanya Ria dengan cepat. Dari suaranya terdengar serak mungkin wanita itu sedang menahan tangisnya. "Tante bisakah datang ke Jakarta besok? Kalau bisa besok pagi sudah sampai sini." Kata Fandi lagi. Mungkin akan lebih baik jika Ria tahu dengan sendirinya. "Baiklah, Tante akan pesan tiket sekarang, Tante juga akan mengabari Papanya Andro juga." Kata Ria dengan cepat. Dia ingin cepat-cepat bertemu dengan putranya. Dia ingin tahu bagaimana kondisi putranya. Apakah lukanya parah apakah hanya luka goresan kecil di tubuhnya, dia ingin memastikan itu dengan mata kepalanya sendiri. "Iya, Tante. Hati-hati di jalan." Kata Fandi akhirnya sebelum dia menutup telvon. Segala itu dia mengakhiri telvon itu dan menyimpannya kembali ke saku celananya. "Bagiamana?" tanya Santoso kepada putranya. "Tante Ria langsung terbang malam ini." Jawab Fandi pelan. Santoso mengangguk pelan. Setelah ini dia tidak tahu apa yang akan terjadi. Bagaimana keadaan besannya setelah mengetahui apa yang terjadi dengan anaknya. Namun semua hal yang terjadi saat ini adalah kehendak Allah, kita manusia hanyalah pemeran yang tidak bisa menebak akhir hidup kita sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD