Kayu yang berubah jadi arang setelah api menyerang, sama halnya kamu yang hadir lagi bagai peluru yang menghujamku.
Ria keluar dari Bandara dengan menenteng tas coklat yang baru dia beli. Di sampingnya ada laki-laki tampan yang sedang menarik koper dan menggendong tas ransel. Koper hitam yang berisi pakaian milik Ria.
"Kita pesan taksi saja, Kakakmu tidak mungkin bisa menjemput, kakak iparmu juga sedang hamil besar." Kata Ria kepada laki-laki tampan yang berjalan beriringan dengannya.
"Aku sudah pesan tadi." Jawab Dirga, begitu nama panggilannya. Tangan kanannya sibuk melihat ponselnya namun kakinya terus berjalan seakan-akan dia tidak perlu melihat untuk bisa melanjutkan jalannya.
"Sudah sampai belum? Mama sudah pengen cepet-cepet ketemu Kakakmu." Kata Ria yang tidak bisa menyembunyikan kekuatirannya.
"Udah. Tuh di sana." Jawab Dirga sambil menunjuk mobil berwarna biru itu.
Dirga dan Ria menghampiri mobil yang sudah mereka sewa itu. Dirga yang memasukkan kopernya ke bagasi segera menyusul Mamanya yang sudah duduk di kursi penumpang. Dirga menjelaskan alamat yang dia tuju. Sopir taksi yang seakan-akan sudah hafal jalanan Ibukota segera tancap gas meninggalkan bandara.
Dalam perjalanan Ria lebih banyak diam. Sedari tadi dia terus cek ponselnya berharap putranya atau menantunya menghubungi. Bukan dia ingin dijemput oleh mereka namun sekadar tanya sudah sampai mana dia, naik apa dia ke rumah, dan sebagainya.
Dirga melihat Mamanya yang sejak tadi hanya diam. Sudah lama dia tidak memperhatikan wajah Mamanya. Keputusannya untuk ikut Papanya membuat dia jarang bertemu Abang dan Mamanya. Bahkan hampir tidak pernah bertemu karena mereka beda kota.
"Mikir apa, Ma?" tanya Dirga pelan. Menahan diri untuk tidak bertanya nyatanya dia tidak bisa. Dia penasaran dengan isi kepala Mamanya itu.
"Kakakmu kok nggak ada hubungi Mama sama sekali." Kata Ria mengeluh. Dia kembali membuka ponselnya namun setelah itu kembali dia matikan.
"Abang kan lagi sakit, mungkin dia belum boleh pegang hp." Jawab Dirga menenangkan.
"Setidaknya istrinya kan bisa hubungin Mama." Jawab Ria lagi dengan wajah sedih.
"Mungkin lagi sibuk ngurusin Abang, Ma. Sudahlah, Ma mereka pasti baik-baik saja dan selalu mendoakan Mama agar Mama sampai dengan selamat." Jawab Dirga pelan. Sebenarnya dia juga sedikit jengkel pada iparnya. Bagaimana bisa dia diam saja sedangkan mertuanya dalam perjalanan untuk menemuinya. Dirga merasa jika dia harus menegur kakak iparnya itu. Walaupun mereka belum pernah bertemu sama sekali. Karena ketika Kakaknya menikah dia mengurus bisnis yang ada di Singapura.
Terdapat banyak orang di depan rumah Andro. Ada mobil ambulance juga yang masih berhenti di depan rumah. Ria yang melihat itu menjadi kuatir. Tiba-tiba saja hatinya menjadi tidak enak. Dia merasa jika anaknya tidak baik-baik saja.
"Kok ada banyak orang." Gumam Ria pelan.
Dirga menoleh pelan ke arah Mamanya dan setelah itu dia melihat kemana mata Mamanya memandang.
"Rumah Abang yang mana?" tanya Dirga pelan.
"Yang ada ambulance nya." Jawab Ria singkat. Dia rasanya ingin segera keluar dari taksi dan berlari menemui anaknya.
"Mungkin Abang baru pulang dari rumah sakit." Kata Dirga menenangkan.
"Lalu kenapa banyak orang? Ini di kota yang hidup mereka tidak bergantung pada tetangga." Jawab Ria dengan tegas. Tiba-tiba saja air matanya meleleh.
"Sabar, Mah." Kata Dirga lagi.
Taksi berhenti tepat di belakang mobil ambulance. Ria segera turun dari mobil dan berlari masuk ke rumah Putranya. Di sana banyak orang yang sudah mengaji dan di tengahnya seseorang yang sudah terbungkus kain kafan sedang berbaring.
"Fa.." Panggil Ria dengan suara bergetar. Dia melihat menantunya itu menangis sedang duduk di peluk Ibunya.
"Iya, Ma." Jawab Fafa dengan suara yang tak kalah bergetar. Bahkan suaranya kalah dengan air matanya.
"Aaaaaa Androo.." Teriak Ria dengan histeris. Dia membuka penutup kain itu dan melihat wajah Aldo yang sudah di bungkus kain kafan.
"Bangun, Nak. Bilang sama Mama kalau kamu baik-baik saja." Ria masih saja histeris.
Dirga yang masih berada di ambang pintu ikut sesak melihat Abangnya yang sudah meninggal. Entah kapan terakhir kali mereka bertemu. Mungkin 3 tahun lalu terakhir kali mereka bertemu dan satu tahun yang lalu terakhir kali mereka berkomunikasi.
"Mama." Teriak Fafa ketika melihat mertuanya pingsan. Dirga yang melihat itu segera lari dan menggendong Mamanya.
Dirga menidurkan Mamanya di kamar tamu dibantu oleh Fandi. Dia juga tidak bisa menahan air matanya. Rasanya menyesal dia mengabaikan Abangnya setiap kali Abangnya mengajaknya bertemu.
"Andro kecelakaan semalam. Dia meninggal ketika perjalanan ke rumah sakit dan akan dimakamkan setelah menunggu kalian datang." Kata Fandi. Dia merasa keluarga Andro butuh penjelasan kronologi.
"Maaf semalam aku tidak mengatakan jika Andro sudah meninggal karena aku tidak ingin membuat Tante Ria kuatir dan panik." Kata Fandi lagi meminta maaf.
"Biarkan Mama istirahat di rumah. Biar aku yang ikut mengantar Abang ke pemakaman." Kata Dirga memutuskan. Dia merasa lebih baik Mamanya tidak ikut ke pemakaman karena melihat kondisi Mamanya yang masih syok.
"Aku akan panggilkan dokter." Kata Fandi lirih.
"Makasih ya, Bang." Jawab Dirga lemah.
Fandi menekan tombol panggil untuk dokter keluarga langganannya. Sedangkan Dirga memilih keluar kamar dan ikut para tetangga mengaji. Air matanya terus menetes ketika mengingat setiap penolakan yang dia sampaikan kepada Abangnya. Dia selalu beralasan sibuk dan tidak ada waktu. Bahkan ketika Abangnya sudah menyusulnya di kota tempat bekerja, dia tetap tidak menyempatkan untuk menemui Abangnya itu. Juga ketika Abangnya menikah dia tidak berusaha untuk mengambil cuti malah dia pergi ke Singapura untuk meniti karirnya.
Dirga ikut membopong Abangnya ketika akan di masukkan ke keranda. Dia juga ikut memikul keranda Abangnya itu ketika perjalanan ke Makam. Dia merasa ini adalah bakti terakhirnya untuk Abangnya. Dia ingin menebus semua kesalahannya. Dia ingin menunjukkan jika dia juga sayang kepada Abangnya itu. Sekarang dia sudah tak punya saudara lagi. Penyesalan memang menghampiri diakhir.
Hari ini Dirga benar-benar menunjukkan rasa sayangnya kepada Abangnya. Setelah dia memikul keranda Kakaknya kini dia ikut turun langsung ke liang lahat untuk membantu pemakaman. Dirga benar-benar berusaha kuat namun nyatanya dia tetap menangis. Semua hal yang dia lakukan itu tidak jauh dari tatapan mata wanita hamil. Mata wanita itu nambah terkejut namun juga nampak tak suka.
"Fa, apakah dia satu kantor dengan Andro?" tanya Sari berbisik.
"Fafa tidak tau, Bu." Jawab Fafa lirih. Dia menghiraukan laki-laki itu. Dia terus melafalkan doa untuk suaminya dan menenangkan hatinya agar tidak kalut lagi. Bohong jika dia tidak bersedih kehilangan suaminya bahkan dia merasa dia ingin ikut bersama suaminya saja namun dia kembali kuat ketika melihat perutnya sudah membesar. Allah memang mengambil suaminya namun Allah menggantikan sosok yang lebih imut dari suaminya.