💔 BAB 01- THE MATCH
New York tidak pernah benar-benar tidur. Lampu-lampu kota itu selalu menyala, seolah menolak gelap, seolah semua orang di dalamnya juga menolak kesepian. Padahal kenyataannya, tidak semua orang punya seseorang untuk pulang.
Ava Sinclair termasuk salah satunya.
“Kamu masih di kantor?”
Suara Maya terdengar dari speaker ponselnya, sedikit pecah karena sinyal. Ava melirik jam di layar laptopnya. 10:47 PM.
Dia menghela napas pelan. “Yeah. Deadline campaign besok pagi.”
“Bullshit,” jawab Maya cepat. “Kamu itu bukan sibuk. Kamu hanya tidak mau pulang ke apartemen kosong.”
Ava tidak langsung menjawab. Karena, untuk sekali ini Maya benar.
Ruangan kantor itu hampir kosong.
Hanya beberapa lampu yang masih menyala, memantulkan bayangan panjang di lantai kaca. Kota di luar jendela tampak hidup—lampu kendaraan, gedung tinggi, dan kehidupan yang terus berjalan tanpa menunggu siapa pun.
Sementara Ava, diam di tempat. “Ava?” panggil Maya lagi.
“I’m fine.”
“Kamu selalu bilang gitu.”
Ava menutup laptopnya pelan. “Aku hanya lelah, May.”
Ada jeda di sana. Bukan jeda biasa. Tapi jeda yang dipenuhi hal-hal yang tidak diucapkan.
“Kapan terakhir Kau berkencan?” tanya Maya akhirnya.
Ava terkekeh kecil. “I don’t even remember.”
“Exactly my point.”
Ava berdiri, meraih tasnya. “Dating is overrated.”
“Yang overrated itu mantan kamu, bukan dating-nya.”
Ava memutar mata, walau Maya tidak bisa melihatnya. “Aku sudah tidak punya energi untuk itu.”
“Bukan soal energi, Va. Kamu hanya takut.” Kali ini Ava diam lagi.
Takut.
Kata itu terasa terlalu dekat. Terlalu tepat. Dan dia tidak suka itu.
“Oke, Aku harus pergi,” katanya cepat, mengalihkan. “Talk later?”
“Download dating app.”
Ava mendengus. “No.”
“Just try. Tidak perlu harus serius.”
“Aku bahkan nggak yakin aku mau ketemu orang baru.”
“Yaudah, chatting aja. Anggap hiburan.”
Ava membuka pintu kantor, melangkah keluar ke lorong yang sepi. “Hiburan, huh?”
“Exactly. Worst case? Tinggal di uninstall.” Ava menghela napas. Mungkin… tidak ada salahnya.
“Fine,” katanya akhirnya.
Maya langsung bersorak kecil. “That’s my girl.”
Ava memutus telepon dengan senyum tipis. Bukan karena dia benar-benar setuju. Tapi karena… dia terlalu lelah untuk terus merasa kosong.
Malam itu, di apartemennya yang sunyi, Ava duduk di sofa dengan lampu redup.
Sepatu heels-nya sudah dilempar sembarangan. Rambutnya terurai berantakan. Makeup-nya mulai pudar.
Real. Tanpa filter. Dia membuka App Store. Jarangnya, jarinya ragu. Seolah satu klik saja bisa mengubah sesuatu
“Just try,” gumamnya pelan, mengulang kata Maya. Beberapa detik kemudian, aplikasi itu terpasang. Ava menatap ikon itu cukup lama sebelum akhirnya membukanya.
Hal pertama yang muncul: Create your profile. Dia menghela napas. Foto?
Dia scroll gallery-nya. Banyak foto profesional. Terlalu “rapi”. Terlalu bukan dia.
Akhirnya dia memilih satu foto sederhana. Tanpa banyak makeup. Sedikit senyum.
Bio?
Ava mengetik:“Not here for games. Just conversations.” Dia menatapnya sebentar. Lalu menekan Done. And just like that…
Ava Sinclair masuk ke dunia yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.
Swipe.
Swipe.
Swipe.
Wajah demi wajah muncul di layar.
Terlalu banyak senyum yang terasa sama. Terlalu banyak bio yang terdengar kosong.
“Gym. Travel. Good vibes only.”
Ava mendengus pelan. “Original banget.” Dia hampir menyerah. Hampir menutup aplikasi itu. Sampai satu profil muncul.
Berbeda. Tidak mencolok. Tidak berusaha terlalu keras.
Nama: Ethan Blake
Foto: sederhana. Tidak banyak pose. Tidak berlebihan.
Tatapannya… tenang.
Bio:
“I prefer real conversations over perfect impressions.”
Ava berhenti. Untuk pertama kalinya malam itu… dia tidak langsung swipe. Entah kenapa. Ada sesuatu.
Bukan karena dia paling tampan.
Bukan karena dia terlihat sempurna. Justru karena dia tidak terlihat seperti–Ava mengernyit sedikit.
“Kenapa rasanya… beda?” Jarinya menggantung di layar.
Satu detik.
Dua detik.
Lalu—
Swipe right.
Beberapa detik tidak terjadi apa-apa. Ava hampir meletakkan ponselnya. Sampai—
It’s a Match.
Dia berkedip. “Oh.”
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Aneh. Dia bahkan tidak mengenalnya. Tapi notifikasi itu terasa… lebih dari sekadar notifikasi. Belum sempat dia berpikir lebih jauh—
Message received.
Ava menatap layar. Cepat. Terlalu cepat. Dia membuka chat itu.
Ethan:
“Didn’t expect to match this late. Still awake?”
Ava menahan napas sebentar. Lalu mengetik.
Ava:
“Barely.”
Beberapa detik. Balasan datang lagi.
Ethan:
“Long day?”
Ava tersenyum tipis. Simple. Tidak sok menarik perhatian. Tidak berlebihan.
Ava:
“You could say that.”
Ethan:
“Then I’ll keep this short. Hi, Ava.”
Ava berhenti. Matanya terpaku pada satu kata itu. Hi, Ava.
Cara dia mengetik namanya terasa berbeda. Lebih personal. Lebih… nyata.
Ava:
“Hi, Ethan.”
Dan di situlah semuanya dimulai. Waktu berlalu tanpa terasa. Percakapan mereka… mengalir. Tidak dipaksakan. Tidak dibuat-buat.
Dari hal kecil. Sampai hal yang lebih dalam.
Ethan:
“What made you download this app?”
Ava menatap pertanyaan itu cukup lama. Jujur? Atau aman?
Ava:
“Boredom.”
Beberapa detik.
Ethan:
“Honest. I like that.”
Ava tersenyum lagi.Dia bahkan tidak sadar… sejak kapan dia mulai tersenyum
Ethan:
“Mine? Curiosity.”
Ava:
“About what?”
Ethan:
“People.”
Ava mengangkat alis