- 21 -

1115 Words
“Kamu tahu kalo kakak suka sama Riza itu dari mana ya?” tanpa basa basi lagi, akhirnya Thella segera mengajukan pertanyaan tersebut pada Firda karena sudah penasaran, kira kira adiknya itu mengetahui perihal perasaannya untuk Riza sebenarnya dari mana. Sebab sekali lagi Thella tegaskan, ia tidak pernah bercerita kepada siapa pun tentang perasaannya pada Riza ini. Bahkan ia terus terusan menyangkal setiap kali Firda meledeknya dan berusaha untuk mengalihkan pada topik topik lain. Firda yang mendengar pertanyaan tersebut hanya tersenyum geli, saat kakaknya itu dengan lantang menanyakan hal tersebut tanpa malu malu lagi, yang berarti Thella sudah mulai mengakui perasaannya sendiri pada sosok Riza yang merupakan sahabatnya. Ingin sekali Firda kembali duduk untuk menyimak pembicaraan Thella ini, tapi ia berusaha tetap fokus pada tugasnya. Maka cewek itu tetap menggerakkan tangannya untuk menulis pada buku tugasnya agar tugas sekolahnya itu bisa segera tuntas dan Firda bisa beristirahat dengan tenang di tempat tidurnya. “Keliatan kok Kak. Gak tau dari mana mana. Mungkin orang lain gak bisa liat ya, tapi aku kan adik Kak Thella. Aku dari orok udah sama Kak Thella, mana mungkin aku gak tau kalo kakak suka sama Kak Riza, dari cara kakak natap Kak Riza aja udah jelas banget, aura aura teman tapi sayang gitu unch hehehe.” Firda menjawab pertanyaan Thella sambil terus menggoda kakaknya itu, mengibaratkan hubungan Thella dan Riza seperti hubungan teman tapi sayang, sesuai dengan apa yang ia lihat selama ini. Betapa Thella menatao Riza tidak sekedar seorang teman yang selama ini bersamanya, tetapi mulai melihat sosok cowok itu sebagai lelaki yang dicintainya. Mana mungkin Firda tidak menangkapnya, ia jelas sangat mengenal sosok kakaknya. “Jadi, karena kamu adik kakak kan, makanya bisa tahu? Orang lain gak mungkin tahu kan?” Thella berusaha untuk meluruskan hal ini, agar dirinya tidak perlu lagi dilanda kepanikan yang tidak berdasar, karena khawatir bahwa orang orang mengetahui soal perasaannya ini. “Iya, Kakak. Karena aku ini ya adik kakak makanya tahu, orang lain mah gak bakalan sadar dong. Diperlukan hubungan darah yang mendaging kayak kita berdua ini.” Firda menggoda kakaknya dengan gemas sambil terus menulis pada buku tugasnya, gadis itu tampak tertawa kecil karena puas menggoda kakaknya yang saat ini terlihat panik dan khawatir, karena takut orang lain mengetahui perasaannya. Thella mengangguk paham, berusaha menerima jawaban Firda. “Oke deh. Kakak percaya sama kamu pokoknya.” Kata Thella, sambil berusaha menenangkan dirinya. “Makasih yaa adik ku sayaang.” Thella bergerak untuk memeluk Firda yang masih tengkurap karena mengerjakan tugasnya. Memeluk adiknya itu dengan gemas dan kasih sayang, tidak ada yang mampu menggambarkan rasa sayangnya terhadap sang adik yang begitu melimpah. Firda hanya terkekeh menyikap Thella. “Iya iya kakak ku yang aku sayang juga, tapi akum au ngerjain tugas dulu ini.” Firda berusaha mengingatkan bahwa dirinya yang tengah mengerjakan tugas yang belum juga usai. Thella akhirnya melepaskan pelukan tersebut sambil tertawa pelan. “Iya iya, sok lanjut lagi ngerjain tugasnya. Maaf yaa kakak jadi ganggu deh. Ayo semangat!” kata Thella berusaha menyemangati sang adik yang dirasa tugas sekolahnya masih cukup banyak yang belum di kerjakan. Firda hanya menanggapinya dengan cengiran tipis, lalu melanjutkan untuk mengerjakan tugasnya lagi yang memang lumayan banyak. Thella pun memutuska untuk keluar dari kamar, karena masih harus melakukan beberapa perkerjaan rumah seperti mencucui piring, baju, dan membereskan rumah. Sementara Thella telah keluar dari kamar, Firda hanya tersenyum simpul. Jika Riza bisa membuat Thella bahagia, maka Firda harus benar benar memupuskan perasaan aneh ini. Ia tidak boleh menghalangi kebahagiaan kakaknya yang sudah banyak mengorbankan waktu dan masa remajanya demi merawatnya. *** “Pakeett!” suara dari kurir yang mengantarkan paket pesanan dari e-commerce langganan Nida, membuat cewek itu berlari dengan cepat untuk keluar dari rumahnya dan mengambil paket yang sudah ditunggunya sejak beberapa hari ini. Nida tampak semangat sekali mengambil paket pesanannya itu, yang mana merupakan sebuah tas keluaran terbaru yang sudah diincarnya sejak lama, dan segera Nida beli setelah merengek meminta dikirimkan yang pada orang tuanya. “Iyaa, Bang. Bentar..” kata Nida seraya berlari, lalu menghentikan langkahnya di depan kurir yang membawakan paket miliknya. Nida dapat melihat tas nya kini masih terbungkus oleh packingan dari seller yang menjual benda tersebut. “Atas nama Nida ya?” tanya sang kurir saat Nida sudah berdiri di hadapan lelaki berusia dua puluh tahunan itu. Nida mengangguk dengan antusias. “Iya! Saya sendiri.” Jawab Nida seraya meminta barangnya segera diberikan. Kurir tersebut akhirnya memberikan paket milik Nida pada sang pemilik, sambil menyodorkan ponselnya agar Nida memberikan tanda tangan elektronik pada ponsel pintarnya itu, sebagai pertanda bahwa cewek itu sudah menerima barang pesanannya dengan selamat. Tanpa banyak protes seperti biasanya karena Nida memang gemar memberikan protes, cewek itu menanda tangani ponsel pintar milik sang kurir, lalu menerima paketnya dengan suka cita. Nida sudah tidak sabar untuk membuka bungkusan paket ini lalu mencoba tas yang sudah ia pesan dengan model yang amat sangat disukai Nida. “Makasih yaa, Bang.” Kata Nida sambil masuk kembali ke dalam rumahnya untuk membuka paket tersebut. “Sama sama neng.” Jawab sang kurir seraya pergi meninggalkan area rumah keluarga cewek itu yang tergolong dalam ukuran besar. Nida pun melangkah memasuki rumahnya, ia menghentikan langakhnya di ruang televisi untuk membuka paket tersebut. Dilihatnya ada Riza yang sedang duduk di sana, sambil menonton tayangan series dari media berlangganan yang digemari Riza. Sambil menonton tayangan tersebut, wajah Riza justru terlihat sangat suntuk, padahal Nida dapat melihat bahwa tontonan Riza merupakan tayangan komedi karena Nida sudah pernah menontonnya. Entah apa yang membuat Riza jadi sesuntuk itu, mungkin cowok itu hanya sedang bosan. “Paket lagi?” kata Riza, mengomentari kiriman paket yang lagi lagi di pesan oleh Nida yang setiap harinya selalu berdatangan tiada henti. Mendapatkan komentar dari sang kakak, Nida memberikan pelototan tidak terima. “Masa Mama Papa kerja susah payah sampe ninggalin anaknya gini, gue gak memanfaatkan dengan ngabisin duitnya sih.” Kata Nida santai, seraya mengambil gunting untuk membuka paket miliknya itu. Mendengar hal tersebut, Riza hanya berdecak. Tentu saja ucapan Nida tidak salah, karena memang benar begitu adanya bahwa orang tuanya yang terlalu sibuk bekerja dan membangun relasi sana sini, sampai lupa untuk memperhatikan mereka berdua. Namun, pasokan pundi pundi rupiah seolah tidak ada habisnya, membuat mereka berdua hanya bisa melakukan apa yang ada, yaitu menghabiskan uang yang diberikan oleh ke dua orang tuanya, meski berkali kali harus mengeluh lantaran tidka mendapatkan perhatian dari orang tua. Jadi, jangan salahkan Nida, jika sikapnya terkesan sombong, egois, dan berbagai sikap buruk lainnya. Orang yang patut di salahkan jelas orang tuanya yang tidak mengajarkannya dengan benar dan memasrahkan dirinya pada beberapa orang pengasuh saat dirinya masih kecil, dan saat ini mempercayakan bahwa Nida bisa mengurus dirinya sendiri asalnya uang yang dimiliki cewek itu berkecukupan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD