“Bener juga sih,” jawab Riza yang akhirnya merasa setuju dengan ucapan Nida. Cowok itu lalu melirik isi paket yang sedang dibuka oleh Nida, hingga menampilak clutch atau tas kecil untuk menghadiri sebuah pesta berwarna putih, dengan desain menarik dan terkesan elegan, yaitu ada beberapa permata sebagai aksesoris yang ada di dalam tas tersebut, memberikan aura mewah pada tas yang dipesan Nida itu.
“Ya ampun, bagus banget.” Kata Nida yang sudah sibuk mengagumi keindahan dari tas yang baru saja sampai itu, Nida masih menatap tas tersebut penuh dengan kekaguman karena bentuknya yang luar biasa indah.
Cewek itu tampak beridir untuk menggunakan tasnya, lalu bergerak ke dekat cermin besar yang ada di ruang televisi, untuk melihat apakah dirintya cocok atau tidak menggunakan tas tersebut. Nida tampak tersenyum bangga saat melihat pantulan dirinya di cermin yang tampak begitu cocok dengan tas yang digunakannya, Nida sampai berdecak kagum berkali kali, masih sibuk mengagumi keindahan tas tersebut yang sudah dipujinya berkali kali.
“Gue harus foto foto pake tas ini, duh ini sumpah sih bagus banget. Bagus kan Kak?” Nida memamerkan penampilannya menggunakan tas tersebut pada Riza, dan berusaha meminta pendapat kakaknya itu tentang penampilannya menggunakan tas tersebut.
Riza menoleh dengan malas dan hanya menjawab sekenanya. “Iya iya bagus.” Jawab Riza yang tidak mau berurusan panjang apabila menjawab tidak bagus, yang kemungkinan besar akan di protes oleh Nida, hingga berakhir dengan Riza yang akan mengubah jawabannya menjadi bagus. Dari pada buang buang waktu untuk melewati fase tersebut yang pada akhirnya Riza harus mengakui, lebih baik dituruti sejak awal kan agar tidak harus panjang karena perkara menilai tas tersebut? Jadi, Riza memilih untuk mengatakan bagus agar urusannya dengan Nida bisa selesai, dan adiknya itu akan sibuk dengan aktifitasnya sendiri lagi.
“Emang penilaian gue tuh gak salah meski Cuma liat gambar doang.” Kata Nida seraya mengambil ponselnya dan kini sibuk untuk memotret dirinya menggunakan tas tersebut yang masih terus terusan dikaguminya.
Nida tampak mengambil beberapa gambar dengan pose memamerkan tasnya, agar bisa terlihat dengan jelas keindahan tas ini yang sangat disukainya. Berbagai pose ditampilkannya, demi mendapatkan beberapa foto yang menurutnya bagus untuk bisa di unggah ke social media, agar para followersnya bisa ikut melihat keindahan dari tas yang baru saja di belinya ini. Nida masih terus mengagumi hasil foto yang di dapatkannya selagi menggunakan tas ini, yang membuatnya semakin menawan.
Setelah puas mencoba tasnya, Nida akhirnya kembali lagi ke sofa untuk merebahkan tubuhnya setelah kelelahan mengambil foto menggunakan tas barunya. Nida buru buru merapikan tas nya ke dalam kotak, untuk ia simpan ke lemari yang khusus untuk menyimpan tas tas miliknya saja. Yang mana lemari tersebut sudah nyaris penuh karena rutinnya Nida dalam membeli tas demi memenuhi hasrat koleksinya, atau memang hanya sebagai alat untuk menghabiskan uang yang diberikan orang tuanya saja, karena Nida tidak tahu lagi harus melakukan apa. Selain tas, tentu saja Nida juga konsumtif dalam membeli kebutuhan kebutuhan tidak penting lainnya.
Melihat wajah Riza yang masih suntuk, akhirnya Nida bertanya pada sang kakak yang sejak sepulang sekolah tadi, wajahnya tampak tidak bersahabat seperti biasanya. Meski wajah Riza juga tidak ceria ceria amat, yang jelas tidak semendung saat ini yang terlihat begitu jelas dalam sekali lihat. Tumben juga pulang sekolah Riza tidak ada kegiatan dan langsung pulang ke rumah, biasanya kan Riza selalu kelayapan entah ke mana yang Nida sendiri tidak pernah mengerti tentang agenda kakaknya itu. Yang Nida tahu, Riza kerap kali sampai di rumah saat hari hamper gelap, padahal jam pulang sekolah SMA itu sewajarnya adalah pukul tiga sore, tapi rasanya jarang sekali melihat Riza sudah ada di rumah dengan tepat waktu. Kecuali hari ini, Riza tampak tidak berkunjung ke mana pun dan memutuskan untuk pulang ke rumah, karena cowok itu sampai di rumah pada pukul setengah empat sore.
“Lo kenapa, Kak?” tanya Nida yang akhirnya penasaran dengan apa yang tengah terjadi dengan kakaknya, yang sampai membuat wajahnya terlihat merana dan serba salah. “Abis putus cinta, ya?” tebak Nida asal sambil berdecak kecil, seolah menertawakan jika memang alasannya benar seperti itu, lucu juga melihat wajah Riza yang seperti mau mati hanya karena putus cinta itu, Nida akan siap meledek kakaknya itu jika memang benar putus cinta adalah alasannya.
Riza mendengus sebal mendengar ucapan Nida, tapi cowok itu segera membantah ucapan Nida. “Boro boro putus cinta, berhubungan aja gak pernah.” Riza menjawab dengan nada sebal, saat kembali mengingat tentang Dirgan yang akan menyatakan perasaannya pada Thella, sementara dirinya harus terlibat dalam membantu agar peristiwa tersebut bisa berjalan dengan baik. Alih alih dirinya yang menyatakan perasaan, Riza justru harus menyiapkan hal ini untuk Dirgan, dengan memanfaatkan informasi yang ia miliki tentang keinginan Thella yang menginginkan adanya seseorang yang menyatakan perasaannya di sebuah taman dekat SMP nya sambil menyanyikan laguku. Padahal hal tersebut terdengar mudah, tapi sayangnya bukan Riza yang akan melakukannya, melainkan malah Dirgan.
“Terus, kenapa gak tembak aja biar ada hubungan?” Nida tampak menanggapinya dengan santai saat mendengar cerita Riza, yang menurutnya tidak begitu rumit dan dapat di selesaikan dengan mudah.
Mendengar ucapan Nida yang menggampangkan permasalahan ini, membuat Riza semakin mendengus sebal karena Nida jelas tidak akan paham tentang posisinya ini. Tentu saja menyatakan perasaan pada Thella tidak semudah itu, terlebih setelah mengetahu terlebih dahulu bahwa Dirgan juga menyukai Thella, dan Dirgan mengatakan hal tersebut lebih dulu pada Riza. Kan tidak mungkin tiba tiba Riza mengatakan bahwa dirinya lebih dahulu menyukai Thella, serasa tidak ada kode etiknya dalam pertemanan.
“Gak bisa.” Kata Riza berusaha menjelaskan tentang keadaannya saat ini pada Nida, yang sesungguhnya tidak akan peduli peduli amat terhadapnya. Tapi memang saat ini Riza seolah membutuhkan tempat untuk berbagi cerita, dengan kebetulan Nida ada di dekatnya dan tampak mau mendengarkan tentang permasalahannya saat ini.
“Kenapa?” tanya Nida lagi, kini cewek itu tampak sibuk untuk menggunakan kuteks di kuku tangannya, berusaha fokus meski harus sambil mengobrol dengan Riza. “Emang cinta terlarang? Lo naksir guru ya?” tebak Nida denga nasal, mencoba menebak kemungkinan perihal hubungan yang paling mustahil yang bisa terjadi pada anak SMA seperti Riza ini.
“s****n! Gak gitu juga lah!” kata Riza merasa tidak terima dengan tebakan Nida yang terlalu random itu. Memangnya Riza mau cari mati dengan suka sama guru di sekolahnya, hubungan macam apa yang akan dijalaninya jika seperti itu. Menyukai Thella saja sudah sesulit ini, apa lagi naksir guru, yang ada dirinya bisa di seret ke ruangan kepala sekolah karena skandal tersebut.
“Terus apa dong?” pancing Nida lagi, yang berusaha untuk terus fokus pada pemasangan kuteksnya agar tidak berantakan. Mata Nida tampak begitu hati hati untuk mengoleskan cairan berwarna itu pada kukunya agar tidak berantakan.
“Temen gue naksir sama cewek yang gue suka, terus dia mau nembak tuh cewek, dan gue disuruh bantuin dia buat nembak cewek ini.” Riza akhirnya mempersingkat kisahnya yang menyedihkan itu untuk bercerita pada Nida yang sejak tadi tampak penasaran dengan kisah nya itu. Hingga akhirnya Riza tanpa repot repot menutupi masalahnya, bercerita lancer dengan Nida, sebab Riza sendiri tidak memiliki teman untuk mencurahkan isi hatinya ini. Tidak mungkin ia curhat dengan Dirgan kan, yang sama juga menyukai Thella. Tidak mungkin juga Riza menceritakan hal seperti ini langsung pada Thella, jadinya malah aneh dan cringe banget dong. Jadi, Nida seolah jadi satu satunya alternative untuknya dapat mencurahkan isi hatinya itu.
Nida seketika menghentikan aktivitasnya saat mendengar cerita Riza, lalu memfokuskan dirinya pada sosok Riza yang kini memperhatikan tayangan televisi dengan wajah masih nelangsa karena masalah yang diceritakannya barusan itu. “Wow, rumit banget ya hidup lo, Kak.” Komentar Nida saat mendengar cerita Riza terkait permasalahannya yang rumit itu. “Jadi lo ditikung temen sendiri maksudnya?” tanya Nida memastikan terkait masalah Riza itu.
“Ya gak ditikung juga, gue aja yang gak bilang bilang kalo suka juga sama tuh cewek, sampe temen gue ini ngomong duluan ke gue kalo dia juga suka sama nih cewek. Gak mungkin gue langsung ngomong kan, eh gue juga suka loh sama tuh cewek. Kita saingan aja gimana. Kan gak mungkin, jadi gue sok support dia deh.” Riza kembali menceritakan tentang masalahnya itu lebih terperinci pada Nida, yang membuat cewek itu mengangguk angukkan kepalanya pertanda memahami posisi Riza.
“Jadi, lo tetep bantuan dia buat nembak tuh cewek?” tanya Nida memastikan, untuk mengetahui bagaimana keputusan Riza jadinya. Apakah Riza membantu temannya itu atau tidak, yang berarti memasrahkan dirinya untuk patah hati karena cewek yang disukainya memiliki potensi untuk berpacaran dengan sahabatnya itu. Kasihan sekali memang nasib Riza jika kejadiannya memang benar benar seperti itu. Mungkin Riza hanya mampu meratapi nasibnya kelak jika melihat sang pujaan hati bersama sahabatnya, yang mana mereka jadian karena bantuan Riza.
Riza mengangguk lesu menjawab pertanyaan Nida, memang kenyataannya ia akan membantu Dirgan untuk menyatakan perasaannya pada Thella, dengan mengikuti impian Thella yang ingin dinyatakan perasaannya dengan menggunakan laguku yang Riza ketahui itu.
“Duh, sabar deh Kak kalo kayak gitu. Lo sabar sabarin aja kalo mereka jadian nanti, kalo pun tuh cewek nolak, pasti lo tetep gak enak kan buat tetep jadian sama tuh cewek? Serba salah sih. Duh lagian kenapa sih lo gak maju aja pas tau suka sama tuh cewek, jadi gak perlu drama keduluan orang gini.” Komentar Nida yang gemas dengan sikap kakaknya yang terkesan lambat dalam urusan asmara ini, hingga harus keduluan oleh temannya sendiri yang ternyata menaksir cewek yang juga sama dengannya. “Atau ya hajar aja lah sekarang, sebelum semuanya terlambat dan jadi serba salah. Bilang sama temen lo, kalo lo juga suka sama tuh cewek dan gak bisa bantuin dia, jadi seenggaknya lo gak terlalu makan hati kan harus bantuin sahabat lo nembak cewek yang padahal lo suka juga.” Nida berusaha memberikan saran untuk kakaknya agar tidak terlalu berakhir menyedihkan karena tidak melakukan apa apa.
Riza tidak menjawab, tapi cowok itu tampak berusaha untuk memikirkan ucapan Nida, apakah ia bisa melakukan hal yang Nida ucapkan? Untuk setidaknya mengakui pada Dirgan bahwa ia juga menyukai Thella, bahkan jauh sebelum Dirgan juga menyukai Thella. Namun, Riza yang terlalu banyak yang dipikirkan, karena takut Thella menjadi tidak nyaman dengan perasaannya dan memilih untuk menjauh. Riza takut jika Thella tidak menyukainya juga, dan hal tersebut malah membuat cewek itu menjadi menjauh darinya karena merasa tidak nyaman. Hal itu lah yang selama ini Riza khawatirkan hingga membuatnya menjadi pengecut seperti sekarang ini, tidak seperti Dirgan yang sudah siap menerima segala macam resiko yang akan ia terima saat menyatakan perasaannya pada Thella.