- 41 -

1888 Words
"Iya bu." Thella hanya menurut, seraya menganggukkan kepalanya menuruti perintah dari Bu Elis sambil tersenyum sopan pada gurunya itu. “Ini saya langsung ke Riza aja apa ada lagi yang bisa saya bantu bu?” Tanya Thella sopan dan ramah sebelum benar benar berpamitan dari meja guru tersebut. Bu Elis mengecek mejanya beberapa saat untuk memastikan bahwa file nya sudah ia serahkan semua pada Thella tanpa ada yang tertinggal sama sekali. Hingga akhirnya guru tersebut kembali menoleh pada Thella untuk menjawab ucapan cewek itu barusan. “Gak ada, kamu langsung cari Riza aja.” Kata Bu Elis seraya menjawab pertanyaan Thella yang tadi. “Oke, Bu.” Sahut Thella sambil tersenyum, lalu bersiap untuk pamita pada guru itu. “Saya cari Riza dulu, makasih ya bu.” Kata Thella lagi seraya berpamitan dan bergerak menjauh dari meja guru itu. “Makasih juga, Thella.” Sahut Bu Elis dalam membalas ucapan Thella sebelumnya selagi melihat cewek itu mulai bergerak menjauh untuk mencari temannya. Di lihatnya sosok murid yang tengah disuruhnya itu mulai menjauh hingga kemudian menghilang di balik pintu ruang guru. Lalu Bu Elis pun kembali melakukan aktivitas yang tadi temtah di kerjakannya dan memfokuskan diri lagi pada buku latihan dari salah satu kelas yang sedang di periksanya. Thella berjalan ke luar dari ruang guru, lalu menyusuri koridor sekolahnya demi mencapai lapangan basket tempat Riza berada di sana, untuk meminjam flashdisk pada cowok itu. Di lihatnya suasanya sekolah yang masih ramai oleh para siswa yang mengikuti kegiatan ekstra kulilkuler. Thella sendiri tergolong siswa yang enggak mengikuti kegiatan tersebut, karena ia tidak ingin terlalu banyak waktu yang tersita di sekolah. Sebab kegiatan tersebut sudah pasti akan banyak memakan waktu dan fokusnya, sementara ia sendiri lebih sering dan membutuhkan waktu di rumah untuk mengurus Firda, jadi Thella jelas tidak sempat untuk melakukan hal hal semacam itu yang membuat waktunya terbuang sia sia. Alhasil di sekolah Thella memang hanya berangkat dan pulang untuk masuk kelas dan belajar, tidak melakukan atau mengikuti kegiatan apa pun lagi. Sesampainya di lapangan basket, Thella melihat sosok Riza yang sedang menepi di samping lapangan, tengah meneguk botol air mineral yang ada di tangan cowok itu. Thella terdiam seketika, ia menyukai saat Riza tengah meneguk air sementara keringatnya tampak mengucur di pelipisnya. Apa ya Namanya, Riza terlihat cool dan seksi di waktu yang bersamaan. Thella berdecak ketika pikirannya malah berkelana ke mana mana, seolah dirinya bukan pacar Dirgan dan masih sendiri yang bebas mengagumi sosok Riza. Ia merasa telah berkhiant dengan otaknya sendiri, atau sejak awal Thella memang menginginkan hubungan semacam ini? Setelah keterpanaan dan kekaguman dalam hatinya beberapa saat lalu, akhirnya Thella melangkah untuk mendekat pada sosok Riza. Ia berlari kecil untuk menyebrangi lapangan basket, sebab posisi Riza yang memang berada di bagian seberang dari tempatnya berdiri tadi. Thella menggumamkan kata permisi berkali kali pada siswa yang tengah bermain basket tersebut, hingga akhirnya berghasil mencapai area seberang lapangan tempat Riza berdiri. Di hampirinya sosok cowok itu yang sedang berdiri sambil memperhatikan latihan yang sedang berlangsung sembari memberikan arahan ini dan itu pada anak baru yang masuk eksul basket. Riza tampak lihai dalam memberi komando anak anak tersebut, seolah dirinya merupakan pelatih basket professional nasional, karena begitu lihainya. Riza memang menyukai olah raga ini hingga cowok it uterus menggelutinya hingga saat ini di tengah kepadatan dari kemalasannya itu, akhirnya Riza cukup rajin dalam hal ini. “Riza!” panggil Thella setelah berada di sebelah cowok itu, yang membuat Riza segera menoleh ke arahnya untuk menyahuti panggilan tersebut. Riza mendapati Thella yang sudah berdiri di sebelahnya, dengan sebelah tangan membawa berkas berkas yang dilapasi map plastik berwarna tembus pandang, yang bisa di tebak Riza isinya apa. “Dari Bu Elis ya?” tebak Riza saat melihat map tersebut yang merupakan sama dengan miliknya yang tengah ia kerjakan saat ini, tugas dari Bu Elis untuk membantu guru itu menyusun angket untuk penelitiannya. “Iya nih.” Jawab Thella sambil mengangguk pelan. “Gara gara lo ngebasket jadi gue yang di suruh ngerjain.” Keluh Thella seperti orang yang tidak suka di suruh mengerjakan tugas tersebut, padahal sesungguhnya Thella hanya bercanda dan sama sekali tidak keberatan. Hal tersebut juga tentu saja di ketahui Riza yang sudah mengenal sifat Thella. Kecuali jika orang tersebut belum mengenal Thella, baru ia akan berspekulasi bahwa Thella tidak mau mengerjakan tugas tersebut karena menyalahkan Riza yang tiba tiba bermain basket. Tapi Riza jelas mengenal Thella. Terlalu mengenali malah, ya saking kenalnya ia tak melangkah ke mana pun. Hanya sebatas sahabat begini saja kan. s**l Riza jadi ingat lagi perihal patah hatinya, terlebih saat melihat Thella saat ini. Riza membalas Thella dengan berdecak pelan sambil tersenyum menanggapi ucapan cewek itu. Lalu ia menatap Thella bingung, lalu kenapa cewek ini mencarinya? Gak mungkin kan Cuma mau laporan kalo Thella di suruh Bu Elis gara gara Riza yang di pinjam oleh Pak Wawan untuk mengurusi basket ini? Ya jelas gak mungkin dong, emangnya Thella kurang kerjaan sampe segitunya. Sebosan bosannya Thella, cewek itu tidak akan melakukan hal hal yang tidak berguna, tentun saja. Sepanjang Riza mengenal Thella, sosok itu merupkan sosok yang paling memanfaatkan waktu seefisien mungkin. “Terus, kenapa?” tanya Riza yang tidak mengerti apa tujuan Thella menghampirinya saat ini, padahal kan jika memang mau mengerjakan bisa langsung kan, gak perlu cari Riza dulu. Mana Thella sendirian juga, gak sama Dirgan, kemungkinan Thella menyuruh Dirgan pulang duluan karena gak enak. Thella memang terlalu gak enakan, bahkan pada Riza sekali pun cewek itu masih sering merasa sungkin tidak peduli persahabatan mereka sudah berjalan selama ini. Thella tetap berusaha untuk melakukan segalanya sendiri selama ia masih mampu, kecuali memang jika ia sudah mencapai batas kemampuan dirinya dan tidak melakukannya lagi dengan caranya sendiri, baru lah ia akan meminta atau bisa menerima bantuan dari orang lain. Uh, Thella nya yang tangguh menggemaskan, bukan? Ralat, tidak pernah ada Thella nya. Yang Riza maksud adalah Thella sahabatnya. Astaga, miris banget perjalanan hidup ini, yang harus menempatkan Riza sebagai sad boy yang sad banget di abad ini. Naksir sahabat sendiri dari kapan tau, malah berujung dengan bantuin sahabat yang lain nyatain perasaannya sama cewek yang Riza taksir, yang sialnya jadian pula. Tamat sudah kan nasib Riza untuk bisa bersama Thella, seolah hanya angan angan belaka yang tidak akan pernah mungkin menjadi nyata kecuali Riza pergi ke dukun pelet. Kenapa jadi Riza mau guna guna Thella sih, pikirannya semakin melantur saja. "Mau minjem flashdisk yang udah lo pake buat ngerjain ini, kata Bu Elis suruh minta ke elo. Soalnya lo udah ngerjain separo, sama minta berkas berkas yang sebelumnya juga sini.” pinta Thella. Menjelaskan tentang tujuannya ke tempat ini yang mana ingin meminjam flashdisk demi terlaksananya pengerjaan tugas dari Bu Elis agar dirinya bisa segera pulang. Thella akan mengerjakan terlebih dahulu di lab komputer sampai satu jam ke depan, jika tidak keburu akan ia lanjut di keesokan harinya jika tidak ada guru di kelas yang mengajar, akan ia selingi dengan mengerjakan tugas dari Bu Elis ini yang katanya memiliki dead line salama satu minggu. “Hoo flashdisk, bentar Thel.” Kata Riza seraya merogoh kantong bajunya untuk mencari flashdisk yang seingatnya ia letakan di sana. Namun Riza tidak menemukannya sama sekali di sana, sehingga cowok itu berusaha untuk mencari ke saku celananya. Di periksanya dua saku celananya itu untuk mencari flashdisk yang tadi ia gunakan, tapi tetap tidak juga di temukan. Sebenarnya di mana sih flash disk itu, seingatnya tadi ia taro di saku, kok sudah periksa semua saku masih gak di temuin sama sekali. Riza masih terus mencarinya, sampai mengeluarkan seluruh isi sakunya untuk memastikan bahwa yang di carinya benar benar tidak ada atau jangan jangan hanya terselip saja. Namun sudah di periksa seluruhnya hingga isi sakuny akeluar pun flash disk tersebut tidak juga di temukan. “Bentar ya, Thel. Kok gak ada sih. Gue lupa nih taro di mana.” Kata Riza lagi yang tampak tidak enak karena Thella jad harus menunggunya mencari flashdisk. “Okay, Za. Cari aja dulu. Cari yang bener.” Sahut Thella sambil mengingatkan agar Riza mencarinya dengan benar, sebab terkadang benda yang di cari Riza itu tidak sulit, tapi Riza saja yang mencarinya suka asal asalan dan tidak teliti, menjadi tidak ada yang ketemu sama sekali. Jadi Thella berusaha mengingatkan cowok itu untuk lebih teliti lagi dalam mencari flashdisknya itu sampai ketemu. “Gue cari dulu di tas deh.” Kata Riza lagi yang kini mulai bergerak untuk menuju tas nya yang ia taruh di samping lapangan, kemudian cowok itu pun berjalan menghampiri tasnya untuk kembali mencari flash disk yang ia tidak ingat di taruh mana itu. Untuk itu Riza berupaya mencari nya ke dalam tas siapa tau ketemu yang ternyata Riza memang lupa menaruhnya, memang ia sering kelupaan dalam menaruh barang barangnya sendiri. Hal tersebut memang bukan suatu hal yang aneh bagi Riza mengingat banyak sekali barang barang yang ia lupakan di taruh mana ketika sedang membutuhkannya, seperti saat ini lah contohnya, Riza menjadi kerepotan sendiri. Thella yang melihat Riza berjalan menghampiri tasnya pun mengikuti cowok itu untuk ke samping lapangan dan membantu mencari flash disk yang entah berada di mana itu. Thella dapat melihat Riza yang berjongkok untuk mengeluarkan isi tasnya, diikuti juga Thella yang membantu untuk memeriksa bagian tas Riza yang lain. Keduanya tampak di sibukan oleh keberadaan flash disk yang tengah di butuhkan tapi membuat susah mereka berdua karena keberadaannya yang sulit di temukan. Tapi mereka berdua tampak tidak menyerah dan terus meneliti isi dalam tas untuk menemukan keberadaan flash disk yang krusial itu, agar Thella bisa melanjutkan tugasnya dari Bu Elis sesegera mungkin. “Nah! Ketemu!” kata Riza akhirnya, saat berhasil menemukan flash disk yang nyelip di antara buku bukunya, setelah cowok itu membuka semua bukunya untuk menjatuhkan apa pun yang ada di dalamnya, dan ternyata flash disk yang di carinya itu terselip di salah satu buku pelajaran yang ia bawa. Bentuk flash disknya yang kecil membuatnya mudah terselip di mana pun serta juga susah untuk di cari dan menyusahkannya saat ini. Namun Riza bersyukur akhirnya menemukan juga flash disk yang sudah menyusahkannya ini agar bisa di berikan kepada Thella yang sejak tadi menunggu flash disk ini, yang sudah dicari Riza ke mana mana. “Duh, bukan taro yang bener, Za! Ini kecil banget, kalo jatoh juga kayanya gak ketahuan.” Keluh Thella yang melihat ukuran flash disk Riza yang begitu kecil, membuat benda itu menjadi mudah terselip dan bahkan jika jatuh dari saku seragam pun tidak akan berasa saking kecilnya. Riza malah menaruhnya asal, bisa Thella tebak pasti Riza hanya melemparnya begitu saja ke dalam tas tanpa memperhatikan lebih lanjut, bayangkan jika ternyata flash disk itu terjatuh saat Riza mengambil buku buku pelajarannya, kan sama sama susah. Intinya memang harus di jaga baik baik kan agar mudak di temukan dan tidak hilang, tapi ya memang susah untuk membuat seorang Riza bisa tampak rapi. Bisa sedikit rapi lah minimal. “Iya ... iyaa ... Thella.” Kata Riza seraya menganggukan kepalanya sambil menggerakkan alisnya pertanda ia menyetujui ucapan Thella. Ia gemas sekali setiap melihat Thella mengoceh untuk hal hal remeh seperti ini. Sebentuk perhatian dari Thella. Baiklah, Riza sudah mulai lagi untuk mengungkit hal ini, yang tidak akan memiliki titik temu sampai kapan pun juga sebab hanya muter muter di situ saja. Riza harus segera mengikhlaskan perihal kisah cintanya yang kandas ini, tapi ya bagaimana caranya jika ia harus melihat Thella tiap hari? Perasaannya tidak bisa menghilang secepat itu juga.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD