“Gue pinjem ya, Za.” Kata Thella seraya menujukan flash disk tersebut sebagai gestur bahwa cewek itu meminjam benda tersebut pada Riza, yang di balas anggukan oleh Riza. “Eh, file nya di taro mana?” tanya Thella lagi, mengingat cara Riza membuat folder di perangkat lunak itu suka aneh dan tidak tersusun dengan rapi, maka Thella harus memastikan sejelas jelasnya agar dia tidak kebingungan saat mengerjakan tugas tersebut dan berujung menanyai Riza lagi. Yang ada tugas ini jadi gak kelar kelar karena hanya perkara flash disk yang tiada akhir ini, yang serasa menyusahkan sekali padahal sesungguhnya gampang gampang aja. Hanya karena komunikasi Thella dan Riza yang belum selesai.
“Ada kok paling depan, liat by modified date nya aja, nanti paling atas. Itu baru gue kerjain soalnya tadi pagi.” Jelas Riza menerangkan perihal folder yang ada di flash disk miliknya, lalu cowok itu pun merogoh tasnya kembali untuk mencari sesuatu yang juga akan di serahkannya kepada Thella. “Oiyya, ini sisa angketnya. Lo yang kerjain semua kan? Asik, gue jadi gak ada kerjaan, Pak Wawan emang keren deh.” Kata Riza sambil menyerahkan map bening berisikan kertas kertas yang juga sama dengan yang di bawa Thella, lalu cowok itu tampak berseru girang dengan membela gurunya yang menukarkan pekerjaannya pada Thella karena di suruh mengurus basket ini.
“Hih! Jadi gue yang banyak kerjaan nih.” Thella menyambut berkas berkas tersebut, lalu ia menelitinya sejenak untuk mengecek apakah berkasnya benar atau tidak. Ia memperhatikan isi dalam berkas yang di berikan Riza lalu membandingkan isinya dengan miliknya, beberapa menit cewek itu mengecek hingga detail karena takut ada kesalahan, akhirnya Thella baru meyakini dirinya dengan memasukan buku tersebut ke dalam tasnya. “Tolong masukin dong, Za.” Kata Thella seraya menyerahkan berkas berkas yang tadi di pegangnya agar di masukan Riza ke dalam tasnya, karena Thella sudah kerepotan membawa barang barangnya. “Oiya, flash disk juga, taro di bagian paling depan ya,” kata Thella lagi seraya menyerahkan flash disk yang tadi di pegangnya untuk di masukan juga ke dalam tasnya.
Riza pun menyambut seluruh benda yang di berikan Thella, lalu cewek itu berbalik agar Riza bisa memasukan bukunya ke dalam tas ransel yang ia gendong ke belakang. Melihat Thella menghadap belakang seperti ini, dengan tubuh Thella yang lebih kecil darinya, membuat Riza semakin sedih dengan nasibnya sendiri. Ingin sekali ia merengkuh gadis ini, membawanya ke dalam pelukan Riza, mendekapnya dengan erat dan menghabiskan waktu bersama, memadu kasih layaknya remaja pada umumnya yang saling memuja dan mendamba satu sama lain. Sayangnya, ia tidak bisa begitu, sebab sosok ini merupakan pacar dari sahabatnya sendiri.
Enggan untuk berpikiran macam macam, Riza akhirnya membuka reseleting tas Thella, lalu memasukan berkas berkas yang tadi di serahkan Thella ke dalam tas tersebut. Tak lupa juga ia memasukan flash disk miliknya ke dalam tas Thella yang bagian depan sesuai dengan isntruksi Thella, agar cewek itu bisa lebih mudah menemukannya saat tengan membutuhkannya, tidak seperti Riza tadi yang merasa kesulitan hanya untuk mencari flash disk saja yang tidak kunjung di temukan karena terselip di dalam buku. Thella jelas lebih rapi dalam menyusun semuanya dan tertata.
“Udah, Thel.” Kata Riza seraya menutup kembali resleting tas Thella, lalu membalikan tubuh itu untuk menghadap ke arahnya seraya menunjukan bahwa tugasnya sudah selesai. Gerakan yang wajar di lakukan Riza, jadi ia tidak merasa bahwa hal itu berarti apa apa karena memang sikap Riza yang seperti ini.
Persahabatan cewek dan cowok memang terlalu bahaya, ingin bawa perasaan tapi kembali ingat bahwa memang yang dilakukan lawan jenis itu termasuk hal yang lumrah dan sering di lakukan, semuanya jadi serba salah karena sibuk menerka nerka dan menduga duga segala macam yang akan terjadi. Tidak ada yang pasti. Begitu lah yang mereka yakini.
“Okay, makasih Riza.” Kata Thella seraya tersenyum pada Riza sebagai ucapan terima kasih untuk meminjamkan flash disknya serta memasukan barang barangnya tersebut. “Gue duluan ya, duh banyak nih tugas, semoga flash disk lo gak macem macem ya dan bisa dipake.” Kata Thella seraya mendoakan flash disk Riza. Sebab sudah bukan rahasia umum terkait penyakit flash disk yang sering kali tidak bisa terbaca ketika di butuhka, hingga akhirnya malah tidak bisa di gunakan sama sekali dan file menjadi hilang semua. Karena itu lah seluruh data yg di masukan ke flish disk itu harus di back up, betapa tidak aman penyimpanan di benda kecil itu.
"Jangan di gadein ya Thel flash disknya!" kata Riza sambil tertawa, meledek Thella yang sudah membawa flash disk miliknya itu. Cowok itu tertawa kecil, menunjukan sederet giginya yang rapi dan terlihat jelas saat tertawa, membuat tawanya menjadi lebih enak di lihat di mata Thella. Yang beberapa detik kemudian segera di tepis Thella, segala bayangan yang berhubungan dengan Riza harus segera di musnahkannya sampai ke akar akar. Ia tidak boleh terlarut dengan perasaannya pada Riza. Thella tidak mau semakin banyak dosa karena terlalu banyaknya pengkhiatan baik melalui hatinya saja atau pun secara langsung pada Dirgan yang telah mempercayakan hubungan ini dengannya.
"Apaan sih? kagak doyan gue flashdisk lo!" balas Thella seraya merespon candaan Riza dengan tenang, yang sering sekali di lontarkan cowok itu dengan santai. Thella juga menanggapi candaan tersebut dengan santai karena memang sifatnya yang tidak jelas. Komentar Riza memang banyak yang aneh dan tidak penting, seperti itu lah contohnya, membuat Thella hanya bisa terkekeh sambil menggeleng tidak habis pikir kenapa Riza harus terpikirkan hal hal yang seperti itu alih alih hal lainnya yang bisa lebih banyak untuk di urusi. Pola pikir Riza memang terkadang suka aneh, tapi Thella tetap menyukainya. Ia menyukai Riza dengan segala hal yang berhubungan dengan cowok itu, baik candaannya, tawanya, dan segala galanya.
Baik, Thella sudah mulai lagi. Ia benar benar harus beranjak dari sini sesegera mungkin sebelum otaknya semakin kacau karena terkontaminsi dengan sosok Riza yang saat ini ada di dekatnya. “Gue duluan ah, mau ke lab komputer ngerjain ini,” kata Thella yang akhirnya benar benar melangkah meninggalkan Riza yang masih di lapangan basket, seraya melambaikan tangannya untuk pamitan dengan cowok itu karena diinya yang harus segera pergi ke ruang komputer agar bisa menumpang komputer yang ada di sana untuk mengerjakan tugas ini. Lab komputer memang tidak bisa sembarangan di gunakan, apa lagi jika untuk urusan pribadi, jelas saja tidak di perbolehkan. Tapi ini kan untuk tugas yang di berikan secara langsung oleh guru, yang mana tugas yang tidak berhubungan langsung dengan akademis, karena memang hanya untuk membantu gurunya saja agar penelitiannya lancar.
Thella pun berjalan menyusuri koridor sekolahnya untuk menuju ke lab komputer yang berada di lantai dua, lalu cewek itu segera meminta izin pada penjaga ruangan komputer yang ada di sana untuk bisa menggunakan salah satu komputer yang ada di sana, sehingga ia bisa mengerjakan tugas dari Bu Elis. Tak lupa Thella juga menunjukan berkas berkas yang diberikan Bu Elis pada petugas penjaga ruang komputer agar dirinya bisa diizinkan mengakses komputer tersebut.
Ruangan komputer sepulang sekolah seperti ini tampak sepi, tidak ada siswa sama sekali yang masih menggunakan ruangan ini karena memang tidak ada jam pelajaran. Hanya ada Thella satu satunya siswa yang berada di sana, masih berusaha memisahkan berkas yang dikasih oleh Riza dan yang diberikan langsung dari Bu Elis karena jika langsung ia input nanti malah akan bingung sendiri. Jadi Thella berusaha merapikan file tersebut terlebih dahulu sebelum menginputkannya ke dalam lembar kerja sesuai dengan perintah Bu Elis tadi, ia juga belum sempat menyalakan komputer agar fokus dengan pekerjaannya saat ini terlebih dahulu, dan tidak terkontaminasi dengan apa pun.
Namun, melakukan hal tersebut sendirian tentu saja otaknya berlarian ke mana mana dalam menjelajah pikirannya sendiri. Menyelami rasa yang tidak sampai pada sang pemilik hati yang sudah terisi penuh oleh namanya. Begini ya, rasanya cinta dengan sahabat sendiri, tidak bergerak ke mana mana, diam di tempat dan hanya menanti. Tapi yang di nanti tidak pernah datang, sementara Thella masih terus saja menunggu. Yang tidak di harapkan justru datang dengan cepat, dan kini menguasai pikirannya agar tidak bertindak terlalu jauh besama Riza. Thella menjadi serba salah sendiri dalam menyikapi hal ini. Ia tidak tahu lagi harus bagaimana. Ia tidak bisa terus terusan baik baik saja bersama Dirgan sementara perasaannya saja sedang kacau.
Apakah setidaknya Thella menyatakan perasaannya dulu pada Riza, agar bisa lega? Agar setidaknya bebannya sedikit terangkat jika ia sudah menyampaikan perasaannya pada Riza. Hanya menyatakan saja, bukan meminta Riza untuk menjalin hubungan dengannya. Sebab ia juga masih berpacaran dengan Dirgan, Thella masih waras dalam hal ini, setidaknya untuk saat ini. Namun bayangan bahwa Riza yang menginginkan semua ini membuat Thella menepis niatnya yang tadi, yang ada jika Riza menolaknya dengan telak bahkan saat Thella tak ingin mendengar jawabannya sekali pun, nanti Thella malah nangis deh. Thella pun segera mengurungkan niatnya untuk melakukan hal tersebut.
Ia berusaha untuk kembali fokus pada berkas berkasnya itu, mengusir jauh jauh bayangan Riza dari kepalanya yang hanya membuatnya ingin meledak saja. Riza tidak boleh mengganggunya sampai segininya, Thella tidak punya banyak waktu untuk hanya memikirkan Riza terus menerus dan tiada berkesudahan seperti ini. Thella memiliki banyak kegiatan lainn yang harus dilakukannya tanpa memikirkan Riza. Ia sebisa mungkin mengusir Riza jauh jauh dari pikirannya dan kembali mengecek pekerjaannya itu, agar tidak ada yang salah atau pun tertukar, bisa bisa nanti ia di omeli oleh Bu Elis jika ada sesuatu yang salah. Di minta bantuan malah tidak becus. Thella tidak ingin membuat gurunya yang sudah memberikan kepercayaan dengannya malah di sia siakan sedemikian rupa.
Dengan tenang Thella pun kembali megerjakan tugas nya yang tadi di suruh bu Elis. Tak lama kemudian ia menangkap bayangan Riza dari balik jendela yang ada di ruangan tersebut, tampak berjalan dengan menggendong tas ranselnya, berjalan ke arah pintu masuk ruangan komputer ini. Jika di lihat dari penampilannya yang sudah rapi, Riza sudah berniat untuk pulang yang berarti ia sudah selesai melakukan kegiatannya di lapangan basket, hingga membuatnya sudah pergi dari sana sembari membawa tas yang mencirikan seperti siswa yang akan pulang. Tak lama Riza pun terlihat semakin dekat dengan pintu masuk ruangan ini, lalu terdengan suara pintu yang di dorong dari luar, dan terbuka di ruangan komputer ini.
"Thel, pulang aja yuk, nanti lanjutin lagi di rumah." ajak Riza yang muncul dari balik pintu ruang komputer. Cowok itu tampak tidak peduli dengan petugas penjaga ruangan ini yang duduk di tempatnya, tampak mengerjakan pekerjaan dirinya sendiri, dan tidak repot repot menoleh saat menyadari kedatangan Riza. Toh ini bukan jam pelajaran juga, jadi ia membebaskan perilaku para siswa di ruangan ini, karena tidak banyak orang juga kan. Biarkan saja mereka mau apa asal tidak aneh aneh dan tidak mengganggu aktivitasnya selama ini. Jadi saat mendapati pintu terbuka, penjaga ruangan itu pun biasa saja dan tidak merasa terganggu sama sekali. Bahkan saat Riza sudah mulai memasuki ruangan komputer itu dan menghampiri meja tempat Thella duduk.
Thella menoleh ke arah Riza yang kini sudah berjalan menghampirinya, lalu mencari kursi kosong untuk duduk di dekat Thella dan melihat cewek itu tengah mengerjakan sampai mana. Mendengar pertanyaan Riza tadi, akhirnya Thella menjawab ucapan cowok itu terlebih dahulu. "Ngerjain di rumah gimana? pake apaan coba?" ucap Thella yang sudah kembali memulai untuk fokus pada pekerjaannya lagi tanpa menoleh ke arah Riza sama sekali. Gadis itu membiarkan Riza duduk di sampingnya, menunggunya hingga selesai mengerjakan tugas tugas ini, atau siapa tau Riza mau membantunya juga kan, terlebih yang sebelumnya mengerjakan tugas ini kan Riza jadi cowok itu sudah tau cara mengerjakannya dan tidak perlu ia ajarkan seperti Bu Elis tadi menjelaskan kepadanya.
Riza tak menjawab lagi, cowok itu tampak tenang duduk di tempatnya seolah menunggu Thella sampai selesai mengerjakan tugasnya, tanpa ada niatan ingin membantu karena Thella tampak sudah menyusun kertas kertasnya yang hanya bisa diketahui oleh dirinya sendiri, sehingga jika ada tangan lain yang ikut membantunya kemungkinan besar hanya akan mengacak ngacak saja. Bukan terbantu malah menjadi mengganggu, jadi Riza memilih untuk diam saja di bangkunya sambil sesekali memainkan ponselnya, membuka beberapa sosial media yang ada di sana untuk melihat keadaan di dunia internet yang tida ada habisnya itu. Dilihatnya Thella yang tampak begitu fokus dengan aktivitasnya hingga tidak menoleh ke arahnya sama sekali. Thella dan fokusnya, Riza selalu menyukainya.
Perhatiannya kini sepenuhnya teralihkan, dari ponselnya menjadi ke arah Thella, untuk melihat gadis itu yang tengah menunduk dengan tangan yang sesekali mengatur kertas dari Bu Elis tadi. Sesekali tangan Thella membenahi ramutnya, menyelipkan anak rambutnya yang berserakan di area dahi. Melihat itu, Riza ingin sekali menyelipkan anak rambut itu ke belakang telinga Thella, agar tidak mengganggu aktivitas cewek itu yang sedang fokus fokusnya. Thella dengan fokusnya terlihat menarik, luar biasa, dan menawan. Memang begitu, setiap kali Riza melihat Thella seolah gadis itu adalah bidadari paling cantik yang ada di muka bumi. Seolah cewek lain tidak ada apa apanya, sebab yang cantik di matanya hanya ada Thella, yang lain seolah hanya menjadi debu antariksa yang berterbangan.
Begini ya cinta sampai segininya, tapi gak bisa apa apa. Riza hanya bisa mengeluh sekaligus memuji sosok Thella dalam hati, memperhatikannya diam diam, menikmati setiap gerak geriknya tanpa bisa memberikan gestur membantu atau apa. Riza hanya menatapnya dari jarak terdekat yang padahal sangat jauh. Dari tempatnya kini yang meski di sebelah Thella, tetapi terasa jauh di ujung dunia. Hanya memandangi sosok cewek itu dengan segala aktivitasnya, tanpa melakukan apa pun juga. Dibiarkannya Thella melakukan hal hal tersebut dengan sendirinya, sedang Riza hanya menemani di sampingnya. Mungkin perannya di hidup Thella memang hanya sebatas menemani sebagai sahabat. Seperti ini, selamanya mungkin saja akan tetap dan terus begitu.
Riza melirik jam di ponselnya, untuk mengecek saat ini waktu sudah menunjukan pukul berapa. Saat dilihatnya hari mulai beranjak petang, maka Riza pun segera mengingatkan Thella untuk menyudahi aktivitasnya untuk pulang ke rumah, dan melanjutkan pekerjaannya nanti saja. Area sekolah juga sudah tampak sepi, dari ruangan ini, Riza bisa melihat ke luar jendela. Dilihatnya koridor yang ada di depan ruangan ini, sudah tidak banyak siswa yang melintas di depan, hanya terdapat satu dua siswa yang tampak melintas, itu pun sudah membawa tas pertanda siswa itu sudah mau pulang dan tidak melakukan kegiatan apa pun lagi di sekolah.
Maka, Riza pun berniat untuk segera mengajak Thella pulang agar tidak menjadi penghuni terakhir di sekolah ini. Riza bahkan tidak bisa membayangkan seklah yang sudah sepi tanpa adanya siswa siswi karena sudah pulang semua. Riza bukannya penakut, yaa hanya sedikit takut saja. Kepalanya cenderung aktif berimajinasi, hingga selalu membayangkan sosok sosok gaib berkeliaran di sekitar. Padahal ya tidak ada apa apa, hanya pikiran Riza saja yang terlampau jauh karena ketakutan dengan kondisi sekolah yang sepi.
Akhirnya Riza bergerak dari tempat duduknya untuk melihat pekerjaan Thella sudah sampai mana, ia tidak bisa lagi menunggu sampai sore, bisa bisa gerbang sekolahnya nanti keburu di tutup dan Riza dan Thella malah terjebak di dalam sekolah. Yang ada Riza malah semakin ketakutan dan berpikiran yang aneh aneh. Riza tidak sanggup membayangkan hari menyeramkan tersebut bahkan meski terjebaknya bersama Thella. Tidak perlu, makasih sekali, Riza masih ingin tertidur nyaman di tempat tidurnya yang empuk serupa singgasana pribadinya. Ia tidak mau merasakan cemas berlebihan karena ketakutan dengan kehadiran setan yang menyeramkan di dalam sekolah, lalu Riza tidak bisa lari ke mana mana.
"Emang udah nyampe mana sih?" tanya Riza yang mulai berjalan mendekati Thella. Dilihatnya pekerjaan Thella yang sudah sampai setengah hanya untuk memisahkan kertas kertas saja, tetapi itu masih jauh dari kata mau selesai. Alias masih banyak yang sekali yang belum di kerjakan, dan tidak ada tanda tanda akan selesai dalam waktu sesegera mungkin. Jelas saja Riza semakin tak sabaran melihatnya, menunggu Thella selesai gini rasanya gerbang sekolah akan benar benar di kunci dengan dirinya yang akan terjebak di dalamnya bersama Thella yang mengerjakan tugas itu sampai subuh. Woah, Riza tidak terbayangkan lagi rasanya dan segera mengambil kertas kertas tersebut untuk membantu Thella – meski cewek itu belum menyetujui – untuk mengakhiri pekerjaannya dan melanjutkannya nanti. Yang jelas tidak untuk saat ini, sehingga mereka bisa segera pulang ke rumah dan menjalani aktivitas lainnya yaitu beristirahat alias tidur siang.
"Ini masih banyak Thella, nanti lo ngerjain di rumah aja. Gue pinjemin laptop dahh.." Riza berusaha meyakinkan Thella agar mau pulang karna jam sudah menunjukan jam 4 sore. Riza sudah gemas sekali, tangannya benar benar sudah tidak bisa diam dan segera merapikan kertas kertas tersebut, membantu Thella agar segera bisa beranjak dari sana untuk melanjutkan tugasnya kapan kapan, ia juga tak lupa untuk meminjamkan laptop yang membuat Thella keberatan apa bila mengerjakannya di rumah. Riza hanya ingin dirinya dan Thella cepat cepat pulang saat ini, karena sekolah sudah semakin sepi, dan ia tidak ingin menjadi penghuni terakhir yang pulang hari ini karena tugas Thella yang tiada habisnya itu. Maka Riza berusaha bergerak untuk merapikan semua itu sebelum Thella banyak protes.
“Beneran, ya? Langsung ke rumah lo dong ini ambil laptop?” Thella yang juga tidak tega karena hari semakin sore, akhirnya mempertimbangkan ucapan Riza yang tadi mengatakan akan meminjamkan laptopnya itu, dan membiarkan Riza membantunya untuk merapikan tugas tugasnya ini. Padahal, Riza bisa saja meninggalkannya mengerjakan tugasnya sendirian, tapi cowok itu lebih memilih menunggu Thella hingga tugasnya selesai, atau setidaknya hingga Thella bareng bareng pulang bersamanya. Riza memang selalu begitu, perhatian dan memikirkan nasibnya. Hingga Thella terkadang salah mengartikan sikap Riza ini dan terbuai dengan kemanisan sikapnya, tapi kini Thella berusaha untuk membiasakan diri bahwa Riza memang hanya memberikan perhatian terhadapnya selayaknya seorang sahabat. Tidak lebih dan tidak pernah lebih. Thella akan menanamkan hal tersebut dalam dalam di pikirannya.
Riza mengangguk, menyahuti ucapan Thella, seraya memasukan kertas kertasnya ke dalam plastik yang ada. Ia juga memperhatikan susunan Thella agar tidak berantakan dan usaha Thella yang merapikan sejak tadi akan sia sia, maka Riza sangat memperhatikan hal tersebut. Di pilihnya kertas tersebut secara hati hati untuk dimasukan ke dalam plastik yang tersedia, lalu Riza melakukan hal tersebut pada semua kertas yang berserakan di meja itu dengan dibantu Thella yang tampak sudah menerima jika memang harus mengerjakan tugas di rumah saja tidak memakai komputer sekolah ini, sebab Riza yang akan meminjamkan Thella laptop. Riza tersenyum melihat sosok itu tidak membantah atau protes sama sekali dan hanya melakukan apa yang di ucapkan Riza saat itu.