Seharian ini waktu Thella telah disita oleh pacar barunya yaitu Dirgan. Thella berjalan menuju rumah kontrakan petaknya yang tampak sederhana itu sambil bersenandung lagu yang sedang disukainya. Ia berusaha melepaskan penat dengan bersenandung lagu, yang merupakan salah satu hobinya serta cara yang efektif untuk memperbaiki moodnya yang saat ini sedang tidak baik. Serentetan kejadian hari ini, jelas membuatnya terkejut bukan main. Ia tidak mengantisipasi kejadian hari ini, harapnya justru malah meleset jauh, yang tidak diharapkan malah dating.
Setelah kejadian di taman itu, Dirgan mengajak Thella untuk mengabiskan sisa sore itu dengan jalan jalan menyusuri kawasan ibu kota yang banyak dikunjungi itu. Padahal, sesungguhnya Thella hanya ingin terus berada di taman itu, menikmati suasana sejuknya, serta keheningan karena tidak banyak yang berkunjung ke sana. Namun, ia tidak membantah sama sekali dan hanya mengikuti kemauan Dirgan saja, tidak mau merusak hari baik Dirgan itu.
Saat pergi ke salah satu mall, dan hendak pulang, rupanya Jakarta tengah di guyur hujan. Membuat mereka harus berdiam diri sejenak di mall tersebut sampai menunggu hujan reda. Meski Dirgan memiliki dua jas hujan, ia tetap tidak ingin melanjutkan perjalanan karena hujannya yang begitu deras, yang mana akan bahaya apabila memaksa untuk berkendara. Alhasil, mereka berdua memutuskan untuk masuk kembali ke mall, menunggu di salah satu kafe yang menghadap ke luar mall, sehingga bisa memantau apakah hujan sudah selesai atau belum.
"Aku mencintaimu, walau aku tak beritahumu.." Nyanyi Thella sambil memutar tasnya yang selempang itu. Suaranya terdengar rendah, karena nyanyiannya hanya sekadar senandung untuk dirinya sendiri.
Thella berjalan masuk ke ruang tengah, dan menyaksikan ruangan itu kosong. Lalu ia melangkah menuju kamarnya untuk berganti pakaian, karena pakaian yang digunakannya sedikit basah. Meski ia dan Dirgan pulang setelah hujan reda, tapi hujan masih menyisakan gerimis yang sesekali turun, hingga membasahi pakaian yang dikenakannya meski tidak akan separah jika ia menerobos hujan. Thella pun bergegas memasuki kamarnya, lalu menggantung sling bag yang tadi ia kenakan di belakang pintu, hingga berjalan menuju lemari pakaian untuk mencari pakaian ganti yang lebih santai untuk ia gunakan di rumah. Dilihatnya Firda yang sedang berbaring di tempat tidur, yang semula asik dengan ponselnya, seketika menoleh saat Thella dating.
Firda yang mendengar suara Thella menoleh, dilihatnya kakaknya yang sudah pulang dari pergi keluarnya bersama Riza tadi, yang membuat Thella siang tadi terasa sumringah karena membayangkan Riza akan menyatakan perasaannya.
Firda tersenyum pelan untuk menyambut Thella, lalu berkata, "Rahasia apa lagi, Kak? Emang tadi gak jadi nembak, masih belom jadian juga?" Tanya Firda usil dan seaya menegakkan tubuhnya yang semula berbaring di atas tempat tidurnya. Senyumnya kian merekah seiringan dengan Thella yang mulai fokus melihatnya. Senyum dari bibir yang tampak begitu pucat untuk ukuran normal.
Firda meletakkan ponsel yang tadi di mainkan, lalu focus pada kakaknya yang sudah selesai berganti pakaian lalu berjalan ke tempat tidur yang Firda duduki itu, menghampiri sang adik yang tampak penasaran dengan kejadian yang berlangsung sore ini. Jiwa penasaran Firda memang luar biasa, seolah dirinya seperti wartawan yang haus akan berita terbaru, dalam hal ini merupakan berita seputar asmara kakaknya sendiri. Ia tidak menyangka Firda segitunya ingin mengetahui perkembangan hubungannya yang malah kandas itu, menceritakannya saja akan membuatnya terasa perih, seolah mengorek luka yang masih basah.
"Apaan sih ini anak kecil mau tau ajadeh.." Balas Thella, sambil mengusap kepala Firda dengan lembut. Thella hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Firda, berusaha untuk tidak menjawabnya dan memberikan anak itu terlalu banyak informasi yang mana tidak terlalu penting juga untuk Firda, hanya sekelumit kisah cintanya yang mengenaskan dan menyedihkan. Bukan kah tidak ada yang menarik dari itu? Oh, mungkin menarik jika dibuatkan novel tentang cinta yang kandas yang berakhir tragis.
Firda menatap Thella penuh tanda Tanya. Jelas jelasn ia ingin tahu progress hubungan Riza dan Thella sudah sampai tahap mana, setelah sekian banyak kode yang Riza tunjukan serta Thella yang juga mau menanggapinya. sambil tetap melontarkan ucapan jahilnya untuk menggoda kakaknya, Firda berkata lagi seraya mengaitkan nyanyian kakaknya itu dengan kondisi kakaknya saat ini, ia hanya menebak sih, kan belum tahu hasil hari ini seperti apa. Bisa dibilang sebagai pancingan juga agar Thella mau bercerita. "Kasian deh kakak aku tersayang ini, suka sama cowok tapi gak di tembak-tembak." Goda Firda lagi, dengan harapan Thella akan terpancing lalu menceritakan segalanya kepadanya itu, yang menantikan kabar terbaru tentang hubungan Riza dan Thella yang setahunya sudah memiliki progress yang bagus.
Thella menggelengkan kepalanya mendengar ucapan Firda sambil terkekeh pelan. "Mati atuh Kakak nya kalo di tembak mah, lagian juga Kakak udah jadian sama Dirgan." Ucap Thella santai, hingga terdengar dengusan pelan saat mengingat momen salah alamatnya belakangan ini. Namun, sebisa mungkin ekspresinya terlihat santai, seolah hal tersebut merupakan kejadian wajar. Padahal jelas jelas Firda mengetahui bahwa cowok yang disukai Thella adalah Riza. Tidak peduli saat secara fisik, Dirgan memang lebih tampan dari Riza. Lebih sekali sebenarnya. Namun, namanya juga hari, yang diliat kan bukan dari tampang semata. Bukan berarti Riza jelek ya, tapi memang Dirgan saja yang kegantengan.
"Hah? Kak Dirgan? Kok bisa? Kakak kan cinta nya sama Kak Riza?" Tanya Firda berturut-turut dan sangat kaget. Siapa yang tidak terkejut, pula! Baru beberapa hari yang lalu Thella menceritakan dengan nada antusias dan penuh cinta, perihal perasaannya pada Riza, serta angan angan bahwa Riza akan menyatakan perasaannya ternyata harus pupus hari ini juga. Tidak ada lagi yang tersisa selain hubungan baru nya dengan Dirgan. Thella harus bisa focus dengan hal itu, dan mengabaikan yang lainnya.
"Biasa aja kali Firda, kamu lebay deh.. Emang kenapa gak boleh kalo Kakak jadian sama Dirgan?" Tanya Thella dengan tatapan yang terlihat santai, serta ekspresi yang sama sekali tidak menyiratkan bahwa gadis itu terluka. Ketenangan kakaknya memang luar biasa, di situasi seperti ini, Thella masih bisa tersenyum tenang tanpa merasa terinitmidasi karena hatinya yang sedang rapuh. Firda tahu, Thella pasti terluka. Sebab, ia tahu benar betapa orang yang dicintai kakaknya adalah Riza, bukan Dirgan. Ia tidak mengerti bagaimana bisa Thella malah salah pacaran.
"Yaa, aneh aja gitu Kak. Masa selama bertahun-tahun Kakak memendam rasa ke Kak Riza ehh sekarang jadiannya malah sma Kak Dirgan." Kata Firda menyampaikan kebingungannya pada Thella. Ia berusa untuk memperhatikan ekspresi kakaknya, untuk menebak apa yang kira kira dirasakan Thella itu.
"Mungkin emang begini takdir Kakak." Ucap Thella sambil tersenyum penuh arti, yang sarat akan suatu kepasrahan. Bila memang begini jalan hidupnya, ia akan terus menjalaninya. Mungkin ini yang disebut tahap mendewasakan. Tentang sebuah kerelaan mengikhlaskan perasaannya yang pernah menggebu dan bersemi untuk satu orang, yang kemudian harus ia bunuh sampai ke akar, karena sang pujaan hati menginginkannya bersama orang lain.
Sekali lagi Thella tegaskan, ini lah yang diinginkan Riza. Riza yang menginginkannya untuk jadian dengan Dirgan, maka dari itu, Thella menjadi yakin bahwa Riza memang tidak memiliki perasaan yang sama terhadapnya. Mungkin Thella hanya kepedean saja, karena diberikan segelintir perhatian, serta menjadi satu satunya cewek yang dekat dengan Riza untuk saat ini. Atau sejak mereka saling mengenal. Thella benar benar tidak pernah melihat Riza tampak berusaha untuk mendekati seorang cewek. Thella adalah satu satunya cewek yang dekat dengan Riza dalam kurun waktu yang cukup lama. Biasanya, Riza berhubungan dengan cewek itu hanya saar kerja kelompok. Bagaimana Thella tidak merasa tersanjung dan sekian lama salah paham, atau salah mengartikan sikap Riza terhadapnya yang mungkin saja baik dengan semua orang.
Melihat ekspresi Thella yang tidak terganggu sama sekali, Firda pun bergerak untuk turun dari tempat tidurnya, untuk mengambil air minum yang berada di luar kamar. Ia menolak saat Thella menawarkan untuk mengambilkannya saja, sebab ia tidak mau segala hal yang masih mampu dilakukannya malah harus dilakukan Thella. Firda bisa melakukan hal hal ini sendiri, meski terkadang kesulitan, tapi setidaknya ia berusaha untuk melakukannya.
Sambil berjalan menuju teko yang berada di dapur, Firda tersenyum pelan melihat Thella yang tampak baik baik saja, atau pun berusaha baik baik saja. Ia meyakini bahwa Thella merupakan pribadi yang kuat, kakaknya pasti bisa menghadapi semuanya. Namun, hal tersebut justru membuat Firda malah berpikir demikian, tentang perasaannya yang ternyata telah terpendam untuk Riza. Tentang Firda yang ternyata juga menyukai Riza, dan disembunyikannya rapat rapat agar tidak ketahuan.
"Salah gak sih kalo Firda juga suka sama Kak Riza, orang yang selama ini di cintai Kak Thella, Firda juga sama sekali gak bermaksud seperti ini Kak.. Tapi satu prinsip Firda yaitu gak akan ngbiarin siapapun tahu tentang perasaan Firda ini, temasuk ke Kak Thella." Kata Firda di dalam hatinya sendiri, sambil tersenyum getir dengan fakta yang menyakitkan itu, bahwa dirinya harus menyukai cowok yang sama dengan kakaknya.
***