- 30 -

1457 Words
Riza sampai ke rumah dalam keadaan basah kuyup, karena kehujanan sepanjang jalan, atau sengaja hujan hujanan untuk menyakiti dirinya sendiri. Pakaiannya basah semua, rambutnya juga, sepanjang ia memasuki rumahnya lantai yang dilewatinya menjadi basah karena tetesan air dari pakaian yang digunakan Riza yang membasahi lantai. Ia tidak memedulikan rumahnya yang kini menjadi kotor, basah, atau apalah itu. Jangankan lantai rumahnya, tubuhnya yang sudah menggigil karena diterpa hujan dan angina saja tidka terlalu ia pedulikan. Riza terus berjalan hingga memasuki kamarnya, lalu membuka pakaian basahnya dan menaruhnya asal di kamar mandi yang berada di kamarnya. Riza segera mengganti pakaian tanpa membasuh atau membilas dirinya terlebih dahulu dengan air bersih. Ia tidak mood sama sekali untuk mandi, dan hanya ingin segera tidur. Bodo amat jika ke eskoan harinya ia akan demam atau flu, bagus kan biar Riza ada alasan kenapa tidak masuk sekolah. Ia tidak menyangka dirinya sepayah ini hanya karena seorang cewek. Masalahnya, cewek itu adalah cewek satu satunya yang selalu bersama Riza belakangan ini. Membayangkan bahwa kini Thella milik orang lain, membuat Riza tidak bisa dengan mudah menerima, meski orang lain itu adalah sahabatnya sendiri. Tetap saja, pasti nanti sikapnya akan beda, ia tidak bisa lagi bersama Thella seperti biasa karena harus menjaga perasaan Dirgan. Riza benar benar merasa serba salah dalam melakukan apa pun, merasa setiap keputusannya hanya akan berujung pada jurang nestapa. Mengapa nasibnya harus seburuk ini sih? "Kak Rizaaa..." Sebuah suara terdengar berteriak dari arah luar kamarnya, hingga disusul dengan gerakan pintu kamarnya yang terdorong untuk membuka, lalu menampakan sosok sang adik yang tak lain adalah Nida muncul dari sana. Nida memasuki kamarnya, langsung duduk di tempat tidur Riza, bahkan nyaris melompat di sana sampai menggoyangkan tubuh Riza yang tengah tertidur di atas tempat tidurnya. Hal tersebut kontan membuat mata Riza melotot karena tingkah Nida itu, seketika Riza bangun dari tidurnya dan menatap Nida dengan sengit. Ia sedang tidak dalam mode ingin diganggu, termasuk oleh Nida. Riza sedang meratapi nasibnya yang menyedihkan ini. Bisa kah orang orang memberinya ruang untuk berkabung dan berduka cita? Mereka tidak perlu mengucapkan bela sungkawa, hanya sekadar memahaminya saja kok. Mata Riza pun melotot pada sang adik, menandakan bahwa cowok itu hendak mengomeli adiknya yang mengganggu akktivitasnya itu. "Apaan sih lo udah kayak di hutan deh cecerawakan." Omel Riza gemas dengan kelakuan sang adik yang memang kebiasaan, di dalam rumah saja teriak teriak, padahal jika ia ingin berbicara kan tinggal berkata dengan sewajarnya tidak perlu berteriak sampai segitunya. Riza denger kok meski Nida berkata pelan pelan juga. Nida nyengir untuk membalas omelin Riza, ia merasa bahwa dirinya memang sangat mengganggu sang kakak yang terlihat ingin beristirahat, terlebih ia juga membutuhkan bantuan Riza. Jadi, Nida pun berusaha tersenyum manis agar Riza mau membantunya untuk saat ini. "Bantuin gue dong Kak, sumpah deh ni pr ribet banget. Mana disuruh nyari di internet, dan parahnya lagi komputer di kamar gue lagi rusak, terus flashdisk gue juga kecebur di kolam ikan sekolahan." Cerocos Nida menyampaikan keluh kesahnya pada sang kakak, tentang betapa kesialan menimpanya bertubi tubi, sehingga dirinya tidak bisa melakukan apa pun. Maka dari itu, Nida meminta bantuan pada Riza selaku sang kakak yang siapa tau ingin berbaik hati menolongnya yang tengah kesulitan itu. “Bukan urusan gue sih. Gue gak mau bantuin, capek, mau tidur.” Kata Riza tanpa minat menyahuti ucapan Nida yang seolah diucapkan tanpa jeda itu, menyampaikan tentang keluh kesah dan kesulitannya yang tidak bisa mengerjakan tugas karena hal hal buruk yang menimpanya. “Ih pelit!” rengek Nida lagi, karena merasa bahwa riza mengabaikannya. Ia terus merengek untuk meminta agar Riza mau membantunya, sebab Nida tidak ada pilihan lain, selain meminta tolong pada Riza. "Brisik lo!" Omel Riza. “Makanya bantuin!” kata Nida lagi, masih memaksa dan berusaha agar Riza mau membantunya. Anak remaja itu tampak gigih untuk mendapatkan keinginannya dan tidak pantang menyerah meski Riza terus terusan menolaknya. Ia jelas mengetahui jika Riza memang sering kali menolak, tapi akhirnya tidak tega juga jika Nida terus terusan merengek terhadapnya. “Bantuin! Bantuin! Pokonya bantuin gak mau tau!” rengek Nida lagi dengan suara yang lebih kencang sambil menggoyang goyangkan bahu Riza, seraya agar kakaknya itu luluh dan mau membantunya dalam mengerjakan tugasnya itu. Riza mendengus sebal, Nida memang pantang menyerah jika meminta sesuatu. Merasa tak tahan mendengar Nida yang terus merengek sebelum permintaannya dipenuhi, Riza akhirnya mengangguk pasrah. “Yaudah yaudah iya, gue bantuin. Tuh pake laptop gue aja kerjain tugasnya, nih pake hotspot gue buat internetnya, yaampu kurang baik apa gue sebagai kakak. Tapi gue gak mau bantuin di suruh ngerjain, cukup ngebantu itu aja kan? Enak aja gue disuruh ngerjain, tugas sendiri aja gue males, kerajinan amat ngerjain tugas lo!” cerocos Riza pada akhirnya yang setuju untuk membantu Nida dalam mengerjakan tugasnya, meski hanya berupa bantuan secara teknis, bukan secara pengerjaan. “Iya deh, iyaa. Thanks kakak ku tersayang tercinta termuach muach deh pokonya.” Riza memeluk sang kakak dengan berlebihan karena merasa sudah dibantu. Ia tetap menghargai bantuan kakakny itu meski hanya sebatas teknis bukan pengerjaan. Saat tengah mencari laptop yang ada di laci yang ada di kamar Riza, Nida baru menyadari bahwa wajah Riza kusut sekali hari ini. Cewek itu pun mengamati dengan seksama, melihat apa yang salah dari Riza hingga membuat cowok itu tampak merana dan begitu kelelahan. Padahal biasanya Riza pulang ke rumah dengan santai dan memainkan ponselnya, tapi kini cowok itu tampak malas tiduran di atas kasurnya. “Lo kenapa, Kak?” Tanya Nida yang khawatir dengan kondisi kakaknya itu. Sebab tidak biasanya wajah Riza murung, bahkan Riza tak pernah sedih saat kecil saat ditinggalkan mama dan papa yang sering pergi pergian. “Patah hati.” Kata Riza sekenanya, sebab memang kondisinya saat ini tengah patah hati. Ia tidak tahu lagi apa kalimat yang tepat untuk menggambarkan kondisinya saat ini selain patah hati, wajah kusut, hari semberawut, perasaan yang tak kunjung surut, seolah tidak mau berhenti mengganggu isi kepalanya yang dipenuhi bayangan bayangan kejadian tadi siang, melihat Thella dan Dirgan saling berangkulan. "Hm, pasti lagi patah hati sama si R..rr..rr.. apasih gue lupa dah.." Kata Nida sambil terus mengingat dan menggaruk kepalanya yang tak gatal. Cewek itu tampak berpikir, untuk mengingat satu nama yang seingatnya ia ketahui. Nida masuh berusaha berpikir tentang nama cewek yang kemungkinan besar disukai Riza itu, yang namanya sudah dan panjang banget itu. Nida tidak mengerti apa faedahnya punya nama sepanjang dan sesulit itu. "Ohh iya Ratu Sweethella, iya tuh si Ratu Sweethella kan? lo patah hati gara-gara dia?" Tanya Nida sambil berteriak. Saat berhasil mengingat nama cewek yang ia duga sedang disukai Riza itu. Ia berkata dengan antusias sambil melihat kea rah Riza yang tampak terkejut saat ia menyebutkan namanya itu. Ekspresi Riza benar benar mudah terbaca, sudah pasti benar, bahwa cewek itu adalah si Ratu Sweethella. Riza terkejut bukan main, perasaannya selama ini kan ia pendam rapi, tidak ada yang mengetahuinya. Bagaimana bisa adiknya ini tiba tiba menebak dengan tepat sasaran tentang cewek yang disukai Riza itu. Atau tepatnya, cewek yang saat ini membuat Riza sampai patah hati. Dari mana si Nida tau tentang Thella? "Tau dari mana lo?" tanya Riza langsung, tanpa basa basi, karena sudah penasaran tentang narasumber Nida yang bisa bisanya mengetahui tentang Thella sampai nama lengkapnya yang sesulit itu. Tidak mungkin Nida asal tebak, cewek itu saja bahkan belum pernah bertemu dengan Nida, bagaimana bisa Nida mengetahui sosok Thella? Seingat Riza, ia tidak pernah bercerita kepada siapa pun tentang perasaannya, benar benar tidak pernah. Perasaannya untuk Thella ia pendam seorang diri, mengendap di dalam sudut hatinya, tidak ia biarkan siapa pun tahu tentang perasaan itu termasuk Thella sendiri. Sebab, selama ini Riza terlalu menunggu waktu yang tepat hingga waktu yang tepat itu tidak pernah ada. Yang ada malah waktu yang salah, kini semuanya sudah salah. Tidak ada lagi yang bisa diselamatkan terkait perasaannya itu. Namun, pertanyaan terbesar saat ini, dari mana Nida tahu tentang Thella? Tidak mungkin Nida seorang peramal. Pasti anak itu melakukan hal yang macam macam hingga bisa bisanya tahu tentang sosok Thella. Nida masih saja diam sambil tersenyum menggoda, seolah menyembunyikan tentang informasi yang ia dapatkan tentang Thella itu. Anak itu tampak kembali mencari laptop milik Riza yang ada di laci, tanpa menghiraukan pertanyaan Riza tentang dari mana Nida tahu tentang sosok Thella. Riza yang geram, akhirnya kembali mencecar Nida. Ia harus memastikan Nida tahu dari mana, karena jika Nida bisa tahu, kemungkinan besar akan ada orang lain lagi yang tahu. Maka. Riza harus mengupas tuntang tentang Nida yang mengetahui sosok Thella entah dari mana itu. “Da! Lo tau Thella dari mana?” Riza kembali mencecar Nida, ia bahkan sudah turun dari tempat tidurnya untuk mengikuti Nida yang tengah di depan laci yang ada di kamarnya. Riza harus memastikan dari mana Nida mengetahui hal itu, ia bisa mati penasaran jika sampai Nida tidak memberitahunya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD