“Duh, penting banget ya, tau dari mana? Yang penting bener kan, lo patah hati karena Ratu Sweethella itu? Kenapa sih? Di tolak? Di putusin?” bukannya menjawab, Nida malah melontarkan pertanyaan lain yang membuat cewek itu mampu mengalihkan pembicaraan, seolah Riza bisa melupakan pertanyaan sebelumnya yang bertanya tentang Nida tahu dari mana perihal informasi tersebut.
Namun, Riza tidak terpancing untuk menjawab pertanyaan Nida yang baru, ia masih tetap mencecar Nida terkait sumber informasinya yang sampai sampai bisa mengetahui nama lengkap Thella. “Nida! Cepet kasih tua gue, lo tau dari mana? Atau gak jadi gue pinjemin laptop nih!” ancam Riza akhirnya, karena gemas Nida yang tidak mau juga memberi tahunya tentang sumber informasinya itu. Akhirnya, Riza pun mengancam dengan sesuatu yang dia miliki serta tengah dibutuhkan Nida saat ini, yaitu laptop dan ponselnya yang ada hotspot.
Nida berdecak sebal, akhirnya cewek itu menghentikan aktivitasnya sejenak untuk merogoh saku celananya yang membawa sebuah benda yang berniat ingin ia kembalikan ke kamar ini. Cewek itu tampak mengecek seluruh saku celananya untuk mengambil benda tersebut, hingga akhirnya Nida menemukan benda kecil yang memuat informasi tentang sosok cewek yang dicintai kakaknya mati matian itu, lengkap dengan nama si cewek yang ditulis dengan lengkap, sehingga Nida dapat mengetahuinya. Memangnya Nida dukun yang tiba tiba tahu nama gebetan Riza, jelas aja Nida pasti tau dari sesuatu.
"Dari ini." Ucap Nida sambil menunjuk benda kecil di tangannya. Sebuah flashdisk berwarna biru yang ternyata merupakan mirip Riza, yang sempat dipinjamnnya beberapa hari lalu untuk keperluan tugasnya. Lalu Nida tidak sengaja mmebuka beberapa folder tentang Riza yang menyurahkan perasaannya itu, Riza benar benar polos, ia menyimpan folder itu tanpa pengamanan sama sekali sehingga Nida bisa dengan mudah membukanya, bahkan nama tersebut dituliskan dengan lengkap dan jelas sejelas jelasnya.
Nida tidak tahu, apakah flashdisk itu cukup rahasia dan tidak digunakan Riza untuk tugas sekolah, karena memang benar benar tidak ada folder lain selain curahan hati Riza untuk sang pujaan hati yang pasti tidak pernah tersampaikan, yang hanya dipendam seorang diri oleh Riza. Nida sampai berdecak, kakaknya ini ngapain sih suka sama orang malah diem diem aja, kan gak ada gunanya. Terus tuh orang juga jadi gak pernah tahu kalo tenyata ada Riza yang mencintai dia sampai segininya, sampai mau meninggaal malah. Terbukti dari untaian kata yang merangkai menjadi kalimat demi kalimat, yang menggambarkan perasaan Riza yang begitu dalam.
"Lah itu kok bisa sama lo sih?" Tanya Riza yang terkejut karena benda pribadinya itu bisa ada di tangan Nida. Ia segera merebut benda tersebut untuk diamankan. Itu flashdisk miliknya yang jarang sekali ia gunakan, hanya digunakan Riza untuk menyimpan file berisikan perasaannya untuk Thella. Maka dari itu Riza bahkan tidak menggunakan flashdisk itu untuk keperluan sekolah dan memiliki flashdisk lain. Bisa bisanya flashdisk itu kini malah ada di tangan Nida, dan dirinya sama sekali tidak mengetahui.
“Kok lo ambil barang barang gue gak pake ijin?” omel Riza lagi pada sang adik, sebab seingatnya ia tidak pernah meminjamkan benda tersebut pada siapa pun. Matanya masih menatap kesal pada Nida yang lancang karena pasti Nida memasuki kamarnya juga tanpa izin, karena flashdisk itu kan ada di dalam kamarnya, sudah pasti Nida memasuki kamarnya hingga menemukan flashdisk ini.
Setelah hari ini, Riza bersumpah akan mengunci pintu kamarnya agar Nida tidak akan memasuki kamarnya ini, atau siapa pun tidak bisa memasuki kamarnya ini. Riza tidak suka kamarnya di acak acak, atau benda benda di kamarnya ada yang mengambilnya tanpa seizin dia. Termasuk oleh adiknya sendiri. Ia merasa bahwa kamar dan benda benda yang ada di dalamnya merupakan privasi yang tidak bisa di acak acak oleh orang lain. Setidaknya, jika mereka ingin menggunakan barang Riza, bilang dulu ke Riza, jangan main ambil saja. Itu kan benar benar tidak ada sopan santunnya karena menggunakan barang orang lain tanpa meminjam terlebih dahulu.
"Mama pulang..." sebuah suara tiba tiba menghentikan pertengkaran mereka, suara nyaring yang amat dikenali keduanya, yang jarang sekali berada di rumah jika tidak penting penting amat.
Seperti yang di ucapkan suara tersebut, itu adalah suara Mama dari Riza dan Nida. Yang tumben sekali terdengar, karena biasanya Mama akan pulang di akhir bulan. Mungkin ada sebuah urusan yang mana lebih penting, yang pasti bukan karena merindukan Riza atau pun Nida. Mereka tahu dengan pasti bahwa orang tuanya sibuk dengan status sosial dan kepentingan lainnya, sehingga tidak sempat merindukan mereka berdua yang dinilai sudah besar ini, bisa mengurus dirinya sendiri. Toh Nida atau pun Riza sudah bisa mandi dan makan sendiri, kalau pun belum bisa, Mama bisa membayar pengasuh untuk mengurus kedua anaknya. Seperti itu lah yang di alami mereka dalam menghabiskan masa kecilnya, bersama sang pengasuh yang merawat mereka.
"Nanti gue ceritain." Nida pun langsung berlari keuar, untuk menyambut sang Mama yang baru memasuki rumahnya. Nida pun berjalan cepat, lalu menuruni tangga rumahnya karena letak kamar Riza yang berada di lantai dua.
Meski terkadang kesal, nyatanya Nida juga merindukan sosok ibu itu hingga ingin sekali menemuinya dan melepas kerinduan. Nida hanya seorang anak yang membutuhkan kasih sayang orang tua, yang mendamba perhatian orang dewasa, meski terang terangan ia menunjukan bahwa ingin disayang seperti anak lainnya, orang tuanya tidak mampu melakukan hal tersebut dengan Cuma Cuma. Jika nanti mereka berpelukan, jelas itu hanya formalitas belaka. Namun, Nida tetap melakukan rutinitas tersebut setiap kali Mama pulang. Betapa Nida ingin seperti anak anak yang lainnya, yang diurus orang tuanya dengan normal.
"Mama...” Nida berteriak girang sambil berlari ke arah Mama yang baru muncul dari pintu masuk. Ia segera memeluk sang Mama yang juga sudah membentangkan tangannya. penampilan Mama yang selalu khas dengan ibu ibu sosialita, serta harum dari parfum merek perancis itu pun tampak menguar saat Nida memeluk sosok ibunya itu.
“Mama kangen deh sama Nida.” Kata Mama seraya mengelus rambut anaknya, membelainya dengan penuh kasih sayang. Drama seperti ini memang kerap kali berlangsung setiap kali Mama baru saja pulang, tapi jangan heran jika nanti ujung ujungnya Nida dan Mama sering terlibat pertengkaran.
“Nida juga kangen Mama.” Balas Nida yang masih berada di pelukan Mama, melepaskan kerinduannya setelah sekitar dua minggu tidak bertemu Mamanya.
Tak lama, Riza menyusul keluar dari kamar lalu menuruni anak tangga, dan melihat Mama dan Nida yang masih bertukar peluk. Cowok itu pun segera menyalami ibunya sebagai pertanda menghormati Mama. Ia hanya memeluk singkat, tidak terlalu seperti Nida.
Mereka bertiga melepas kerinduan dan saling bertukar cerita, Nida banyak sekali bertanya tentang kegiatan Mama selama tidak di rumah, sudah bepergian ke mana saja. Nida tampak excited mendengar cerita cerita Mamanya itu, terlebih saat membongkar oleh oleh yang dibawa Mama untuknya beserta teman teman sekolahnya, yang nantinya akan ia bagikan pada teman temannya itu dan mengatakan bahwa Mamanya baru saja pulang – ajang pamer khas anak SMP gitu – sedang Riza hanya mengangguk sewajarnya saja.
Di tengah melepaskan kerinduan dan saling bertukar cerita itu, tiba tiba muncul sebuah suara dari luar. Terdengar derap langkah kaki orang lain sambil menggeret kopernya, lalu tak lama kemudian, seorang cewek muncul dari arah luar rumah Riza sambil membawa koper sama seperti ibunya tadi.
Sontak, mata kakak beradik itu membola melihat sosok yang baru saja hadir itu. Hingga cewek tersebut melangkah memasuki rumah ini, lalu berjalan menuju sofa tempat Mama, Riza, dan Nida sedang duduk. Cewek itu melambaikan tangannya sambil tersenyum lebar menatap ke arah Riza – tapi tidak ke arah Nida.
Menyaksikan hal itu, Nida seketika berdecak sebal. Ia tidak menyukai sosok yang dekat dengan Mama nya itu, yang kemungkinan besar juga datang bersama Mama ke sini. Nida tidak pernah menyukai cewek yang sering ia sebut sebagai nenek sihir itu, Nida tidak pernah cocok dengan cewek itu meski Mama sering memuja muja dan akrab dengannya.
“Ngapain dia ikut?” tanya Nida dengan nada sinis, sambil menatap sosok cewek yang ia benci itu dengan tatapan yang sangat menyiratkan bahwa Nida tidak menyukai cewek itu sama sekali. Nida tidak pernah repot repot menyembunyikan ekspresi atau pun sikapnya jika ia tidak menyukai sesuatu, ia akan menunjukannya dengan terang terangan, agar pihak yang bersangkutan tahu dengan jelas bahwa sedikit pun Nida tidak pernah menyukainya. Tidak peduli ia akan sakit hati atau tidak, salah dia juga kan, sudah tahu Nida tidak suka tapi masih maksa untuk datang ke sini, itu sih namanya cari mati. Alias, memang minta dibenci. Seharusnya kan dia tahu diri untuk tidak menginjakan kakinya lagi ke tempat ini, pergi jauh jauh dan jangan pernah kembali lagi, bukan malah datang dan menebar senyum mengerikan yang dia pikir pasti cantik. Padahal enggak!
"Ehh, lo kok disini?" tanya Riza yang juga sama terkejutnya dengan Nida, ia menatap kehadiran cewek itu dengan tatapan heran, karena tiba tiba datang sambil membawa koper tak lama dari Mama datang. Lalu menggeret koper miliknya ke dalam rumah ini, dan saat ini malah tersenyum dengan lebar ke arahnya – berusaha untuk tersenyum manis – tapi sayangnya Riza tidak pernah terkesima dengan senyuman itu, sebab sudah terlalu sering disaksikannya cewek itu yang kerap kali mendekat padanya.
"Iya, aku kan mau liburan disini Riza. Yaudah jadi aku bareng tante Sita ajadeh.." Kata cewek itu dengan senyumnya.
Selanjutnya, Nida nyaris memutar bola matanya saat cewek itu langsung memeluk Riza tanpa permisi. Yang dipeluk saja tampak kewalahan karena sikap agresif cewek itu, yang tanpa malu malu menyodorkan dirinya sendiri ke dalam pelukan Riza yang tidak berniat sama sekali untuk memeluk cewek itu. Nida benar benar tidak menyukai cewek itu sama sekali, sejak dahulu sampai kapan pun. Cewek itu seperti ular yang bisa menyebarkan bisa ke siapa pun, gara gara cewek itu, Mama tidak terlalu memperhatikannya. Nida tidak menyukainya. Harus berapa kali Nida mengatakan bahwa Nida tidak menyukai cewek itu sama sekali, bahkan membencinya seumur hidupnya.