- 35 -

1519 Words
Tiba tiba sebuah suara dari arah luar kamarnya terdengar, disusul dengan ketukan pintu kamarnya. Riza tidak terlalu peduli dan pura pura tidur saja, karena enggan untuk membukakan pintu untuk siapa pun. Meski ketukan itu terus terdengar berkali kali, tidak digubris juga oleh Riza. Hingga akhirnya sebuah suara terdengar memanggil namanya. “Rizaa! Ini aku, Lenny.” Kata Lenny seraya masih terus mengetuk pintu kamar Riza, selagi pintu itu belum terbuka juga. “Za, buka dong. Aku mau nganter sarapan nih.” Suara Lenny terdengar lagi, tidak lantas menyerah meski Riza belu membukakan pintu. Lenny terus mengetuk pintu itu sampai dibukakan oleh sang empunya kamar. Meski tidak ada sahutan dari dalam, Lenny tetap mengetuknya. Bahkan semakin lama ketukannya semakin kencang, lebih mirip dengan gedoran alih alih ketukan. “Rizaaa! Cepetan bukain! Nanti sarapannya keburu dingin. Aku sendiri loh yang masak.” Lenny masih terus berbicara dari luar kamar Riza, dengan tangan yang terus mengetuk pintu kamar itu tiada lelah. Ia yakin Riza pasti mendengarnya dan akan membukanya, jika diketuk terus menerus, meski Riza sedang tidur pun pasti akan merasa terganggu dong dengan gedoran yang dibuatnya ini. Maka, Lenny terus melakukannya tanpa peduli tidak ada sahutan apa pun dari dalam kamar. “s****n! Siapa yang peduli lo masak sarapan buat gue sih!” kata Riza kesal, yang akhirnya bangkit juga dari rebahannya untuk bergerak membukakan pintu untuk Lenny. Sebab, ia sungguh merasa terganggu karena gedoran yang di lakukan Lenny di pintu kamarnya itu, niat hati ingin tertidur menjadi tidak bisa tidur karena suara Lenny yang mengganggu. Padahal, Riza juga gak mau sarapan – apalagi sarapan yang dibuatkan Lenny – duh kenapa cewek ini tiba tiba datang dan mengganggu ketentraman hidupnya sih? Membuat Riza tidak bisa bernapas dengan tenang. Masalahnya dengan Dirgan dan Thella saja sudah cukup rumit, ini lagi Lenny malah menambahkan dengan sikapnya yang seolah mengejar ngejarnya. Ceklek.. Riza akhirnya membukakan pintu kamarnya untuk Lenny, di lihatnya cewek itu kini sudah berdiri di hadapan Riza, sambil membawa sepiring nasi goreng yang katanya hasil masakannya itu. Riza hanya menatapnya dengan sebal, karena dirinya sama sekali tidak meminta dibuatkan nasi goreng oleh Lenny. Namun, ingin mengomel dengan cewek ini, nanti yang ada malah dirinya yang di omeli oleh Mama karena menganggap Lenny itu merupakan tamu berharga Mama yang harus di hormati dan di junjung tinggi. Tapi masalahnya Lenny ini ada maksudn lain dengan Riza, yang sesungguhnya masih dalam skenario mama sih, yang tidak pernah disetujui Riza, tentu saja. “Nasi goreng buat kamu.” Kata Lenny seraya menunjukan sepiring nasi goreng dengan telur mata sapi buatannya, lalu tanpa permisi, cewek itu segera melengang masuk ke kamarnya, dan duduk di tempat tidurnya. Lenny bersikap seolah ini kamarnya sendiri, ia tampak mengatur untuk menaruh piring yang paling nyaman di tangannya, lalu menoleh lagi pada Riza yang masih ada di pintu. “Ayok, sini, Za! Aku suapin.” Kata Lenny lagi sambil memberikan gestur agar Riza mendekat dengannya, atau naik ke atas kasurnya sedang Lenny akan menyuapkan nasi goreng buatannya itu pada Riza. s**l, dibukakan pintu saja malah jadi berakhir panjang seperti ini. “Taro meja aja, Len. Nanti gue makan sendiri.” Kata Riza dingin, masih berdiri di dekat pintu, lalu membuka pintunya lebar lebar seraya mempersilahkan Lenny untuk keluar dari dalam kamarnya. Cowok itu tidak bergerak sama sekali, dan hanya menatap Lenny tanpa banyak ekspresi, ia benar benar tidak dalam mode mau meladeni Lenny dengan segala tingkahnya yang terkadang memuakan ini. Mana Nida sekolah lagi, jika tidak kan ia bisa memanggil Nida untuk mengajak Lenny ribut, sebab Nida memang hobi sekali memberikan komentar pedas untuk cewek ini hingga membuat emosi Lenny tersulut setiap kali berhadapan dengan Nida. Di saat seperti ini, rupanya Nida memang dibutuhkan. Ia pikir Nida hanya akan merepotkan saja. “Aku suapin aja, kamu kan lagi sakit. Yuk sini.” Lenny masih bersikeras untuk menyuapi dirinya dan enggan beranjak dari tempat tidurnya. Cewek itu masih terus tersenyum dengan piring yang ada di tangannya, seolah sudah sangat siap untuk menyuapi Riza. Matanya juga masih cerah, lalu kembali mengisaratkan Riza untuk menghampirinya agar dirinya bisa menyuapi Riza. Riza semakin mendengus, ia muak dengan sikap Lenny yang memaksa begini. Tidak mau meladeni, akhirnya Riza yang keluar dari kamarnya, lalu pergi dari sana meninggalkan Lenny di dalam kamarnya seorang diri. Ia tak peduli lagi jika nanti Lenny akan mengadu pada Mama, ia sedang tidak mau di ganggu, ia juga sudah menyuruh Lenny untuk keluar dari kamarnya, tapi cewek itu tidak mengindahkan ucapannya, jadi bukan salahnya jika ia malah pergi seperti ini. Riza pun bergerak untuk memakai kamar Nida yang kebetulan tidak dikunci, ia akan melanjutkan tidurnya di sana aja. Jika sampai Lenny masih mengejarnya dengan tujuan mengganggunya, Riza benar benar akan marah dengan cewek itu dan tak segan segan mengomel padanya, tidak peduli lagi dengan mama yang kemungkinan akan mengomelinya karena mengganggu Lenny. Riza pun sudah sampai di hadapan kamar Nida, lalu segera memasuki kamar adiknya itu, dan mengunci pintunya dari dalam agar Lenny tidak akan mengganggunya lagi. Ia bahkan tidak peduli dengan ponselnya yang tertinggal di kamarnya, ia hanya butuh untuk menghindar dari sosok Lenny yang terus mengejar seperti itu. *** Riza tidak jadi masuk sekolah di hari rabu, karena Thella yang terus menanyakan padanya semalam. Besok masuk atau enggak. Besok masuk atau enggak. Ada lebih dari seratus pesan yang dikirim Thella selagi Riza belum merespon juga, ancaman Thella sama seperti kemarin, ia akan nekat menjenguk Riza jika hari ini masih tidak masuk sekolah. Alhasil, di sinilah Riza berada. Kembali ke sekolahnya, yang memang kondisinya sudah membaik sih karena meminum obat dari dokter kemarin. Ia akan menghadapi kenyataan untuk bertemu Dirgan dan Thella. Riza berjalan memasuki kantin. Di kantin SMA brilian harapan sedang ramai oleh anak yang beum sempat sarapan di rumah. Matanya menyusuri setiap sudut area kantin, untuk mencari sosok yang dikenalnya. Hingga pandangannya jatuh pada Thella dan Dirgan yang menempati satu meja. Tidak mungkin jika Riza malah memilih duduk di meja yang terpisah, ia akan bersikap biasa saja, sebisa mungkin ia akan melakukan hal tersebut. Untuk itu lah, akhirnya Riza berjalan menghampiri meja tempat Dirgan dan Thella duduk. Akan dihadapinya mereka berdua yang sudah berstatus sebagai sepasang kekasih, ia sudah meminta matanya agar tidak mendadak panas jika melihat pemandangan yang menyakitinya. Riza muncul dari belakang mereka, lalu segera mengambil tempat duduk di hadapan Dirgan dan Thella. Cowok itu tampak duduk santai di hadapan mereka sambil nyengir setelah kemarin bolos sekolah. Riza berusaha tetap santai saat melihat jarak duduk Thella dan Dirgan sudah tidak seperti biasanya yang masih menyisakan jarak, kini mereka tampak berdekatan layaknya pasangan di sekolah. Oke. Baik. Tidak. Tidak. Riza tidak akan bereaksi berlebihan. Ia akan biasa saja menanggapi hubungan mereka berdua, terlihat mensupport seperti sahabat pada umumnya. Ia akan terus ingat bahwa yang membantu mereka berdua sampai jadian adalah dirinya, jadi Riza harus terlihat bahwa ia jelas turut bahagia melihat ke dua sahabatnya ini bahagia. "Liat Bu Elis gak?" Tanya Riza sambil menyeruput teh manis hangat yang ada di meja tersebut, yang entah milik siapa. Cowok itu tampak santai meminum minuman tersebut, bahkan tanpa bertanya apa lagi repot repot ijin untuk minum teh manis hangat tersebut, seolah dirinya memang sudah terbiasa melakukan hal tersebut. Memang biasanya Riza suka asal mencomot makanan milik teman temannya karena sudah merasa akrab dengan mereka, sehingga bisa berbagi makanan satu sama lain seperti ini seolah tiada beban. Saat mendapatkan pelototan dari Thella yang sepertinya pemilik teh manis hangan tersebut, Riza hanya nengir menanggapi pelototan Thella yang segera menarik kembali teh manis hangat miliknya yang diminum asal oleh Riza tanpa meminta terlebih dahulu. "Ihh maen nyerobot ajadeh." Omel Thella yang tidak terima karena minumannya di ambil begitu saja, cewek itu bersikap seolah olah mengomel pada Riza yang tentu saja bercanda. Namun, dibalik semua itu, Thella lebih memilih untuk memperhatikan gerak gerik Riza. Memastikan bahwa cowok itu memang baik baik saja setelah membantunya jadian dengan Dirgan. Riza tampak ikut bahagia dengan kebahagiaan Dirgan yang ternyata mencintainya. Jadi, Riza memang benar mendukung Dirgan, dan sama sekali tidak sedih saat dirinya menjadi milik orang lain karena memang Riza tidak ada perasaan apa apa terhadapnya. Thella berusaha untuk tetap tersenyum saat menanggapi becandaan yang dilontarkan Dirgan dan Riza di hadapannya itu, agar terlihat seperti dirinya menikmati candaan itu. "Biarin lah gue aus." Kata Riza, menyahuti ucapan Thella yang tadi membahas masalah minumannya yang di minum begitu saja oleh Riza tanpa permisi. Cowok itu tampak tidak merasa bersalah sama sekali. Mengingat hal tersebut memang sering dilakukannya, serta Thella juga hanya sekadar iseng mengomentarinya, tanpa merasa marah atau kesal karena minumnya yang di ambil Riza. "Lo ngapain nyari Bu Elis?" Tanya Dirgan, mengingat ucapan Riza tadi yang menanyakan soal Bu Elis. Jarang sekali pagi pagi Riza menanyakan tentang guru tersebut. "Gak tau, kata anak-anak gue dicariin sama bu Elis, makanya gue mau ketemu bu Elis." Jelas Riza seraya mengangkat bahunya pertanda ia juga tidak tahu. “Minta surat dokter yang kemarin gue gak masuk kali,” tebak Riza asal, sekenanya saja. Sebab yang paling masuk akal adalah itu, sehingga ia menebak demikian, Bu Elis yang merupakan wali kelasnya mungkin ingin tahu alasan dirinya tidak masuk. Apakah benar benar sakit sesuai dengan yang ia izinkan kemarin, atau malah pura pura sakit.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD