- 34 -

1545 Words
Saat membuka salah satu aplikasi pesan yang paling banyak memuat notifikasi itu, baru lah Riza dapat melihat dari mana datangnya pesan beruntun yang tiada henti mengirimkannya pesan itu. Seketika nama Thella terpampang paling atas sebagai pengirim pesan terakhir di ponselnya, dan masih terus masuk pesan lainnya yang lebih baru. Riza masih memandangi pesan tersebut, tentang betapa khawatirnya Thella akan kondisinya yang dikabarkan tidak masuk sekolah karena sakit, Thella berkali kali menanyakan keadaannya apakah sakitnya cukup parah sampai Riza memutuskan untuk tidak masuk ke kelas. Thella sangat mengkhawatirkannya, hingga selain pesan, Thella juga melakukan panggilan yang menjadi panggilan tak terjawab karena ponsel Riza yang tadi mati. Tak lama setelahnya, mungkin karena di ujung sana Thella melihat aplikasi milik Riza sedang online, seketika ponsel Riza bordering untuk panggilan masuk yang mana panggilan itu berasal dari Thella. Riza seketika melotot, melihat nama itu terpampang di ponselnya, berikut dengan foto profil Thella yang menampakkan wajah cewek itu yang terngah tersenyum ke kamera. Karena sudah tertangkap sedang online oleh Thella, mau tidak mau akhirnya Riza mengangkat panggilan tersebut karena tidak mau Thella bertanya macam macam, atau menganggap dirinya yang menjauhi mereka berdua. Riza tetap harus bersikap wajar di hadapan Dirgan dan Thella. Ia tidak boleh terlihat seperti menghindar, menjauh, dan sebagainya. “Halo, Thel?” sapa Riza dengan suara yang terdengar bindeng karena memang dirinya benar benar sedang sakit, bukan hanya pura pura. Tapi tidak perlu di perjelas kan jika penyebab Riza sakit karena hujan hujanan sendirian dan enggan untuk segera membilas diri pasca kehujanan. Biarkan orang orang tahunya dirinya sakit aja. Masalah penyebabnya karena apa itu urusan belakangan. Tapi kepala Riza memang benar benar pusing rasanya, ia sudah minum obat sakit kepala juga sejak kemarin tapi tak kunjung sembuh. Mungkin ia harus benar benar istirahat dengan cukup agar sakitnya tidak semakin parah, meski yang paling parah sakit adalah hatinya sih. “Za! Ya ampun! Lo susah banget ya dari tadi di telponin! Lo sakit apaan? Kok sampe gak masuk gini? Kenapa gak bilang bilang? Tau tau sekertaris kelas bilang lo sakit. Keadaan lo sekarang gimana?” rentetan pertanyaan itu di ajukan Thella seketika saat Riza baru berbicara sekadar menyapa. Suara Thella terdengar heboh di ujung sana, terdengar sangat mengkhawatirkannya. Ucapan Thella memang benar, bahwa Thella nyaris ratusan kali menghubunginya, tapi tidak tersambung karena ponselnya kehabisan daya. Tapi yang membuat Riza tersentuh adalah, betapa Thella memperhatikannya sampai segininya. Padahal kan Thella sudah punya pacar. Kenapa Thella masih bersikap seperti ini terhadapnya? “Tau, Za! Gue kira lo kecelakaan sampe tiba tiba gak masuk gini!” suara Dirgan kemudian turut terdengar. Yang membuat senyum Riza seketika luntur karena menyadari satu hal. Panggilan ini di loud speaker, sehingga Dirgan dapat mendengarnya juga. Benar, mereka kan kini sepasang kekasih. Pasti Dirgan ingin mengetahui isi pembicaraannya kan. Pikiran Riza mulai kusut dan tidak dapat berpikiran baik, padahal bisa saja Dirgan juga khawatir dengannya hingga ingin mendengar kabarnya sekaligus, lagi pula kan memang pada dasarnya mereka sahabatan. Tapi ya namanya juga sedang patah hati, serasa dunia runtuh, hingga membuat Riza menjadi berpikiran buruk pada hal hal yang lain. Seolah hanya dirinya yang paling menderita. Riza mengembuskan napasnya pelan, lalu mengatur posisi duduknya untuk bisa bersandar pada dashboard tempat tidurnya. “Enggak kok, Cuma demam biasa. Hape gue tadi low, ini baru di charges. Paling minum bodreksin juga mendingan, emang alesan aja sih buat bolos hehe. Mager nih hari senin.” Riza menyahut dengan santai, berusaha agar dua temannya itu tidak perlu khawatir, sebab jika sampai mereka khawatir dan Riza mengatakan sakit parah berupa demam tinggi sekali serta flu parah, yang ada mereka berdua malah ingin menjenguknya sepulang sekolah nanti. Kan jadi sia sia Riza beralasan tidak masuk sekolah kalo pada akhirnya tetap bertemu dengan mereka berdua. “Beneran? Suara lo aja bindeng loh ini! Lo beneran sakit kan?” Suara Thella kembali terdengar mencecar Riza, karena tidak percaya bahwa Riza hanya sakit untuk alasan saja. Ia menangkap dengan jelas suara Riza yang berbeda dari biasanya, menandakan cowok itu memang sedang flu hingga suaranya berubah. Lalu disusul juga suara Riza yang terbatuk, membuat Thella semakin heboh dengan keadaan Riza. “Duh! Lo sakit beneran kan, Za? Pokonya gue sama Dirgan balik sekolah mau jenguk lo!” kata Thella dengan nada memaksa, karena mendengar suara batuk Riza tadi yang meyakinkan dirinya bahwa Riza memang benar benar sedang sakit. “Duh jangan! Gue mau ke dokter, jam segitu jadwal dokter praktek langganan gue. Gak usah jenguk, Thel. Beneran. Asli ini Cuma demam biasa, gak yang kayak gimana gimana kok. Ada nyokap gue juga, nanti gue ke dokter sama nyokap soalnya.” Kata Riza berusaha menghalangi Thella dan Dirgan mendatangi rumahnya untuk menjenguk, ya bisa kacau dong kalo seperti itu, sama saja percuma. Memikirkan mereka datang berdua sambil bergandengan tangan saja, bukan bikin sembuh, yang ada bikin sakit Riza semakin parah. Sebisa mungkin Riza mencegah agar Thella dan Dirgan tidak sampai berkunjung ke rumahnya, ia melontarkan alasan apa saja asalkan dua orang itu tidak akan menjenguknya ke sini. “Beneran?” Thella bertanya lagi untuk memastikan, ia masih tidak percaya dengan ucapan Riza, ia benar benar khawatir akan kondisi Riza saat itu. “Iya, beneran, Thel. Duh lagian nanti lo berdua jenguk, ketemu nyokap gue deh. Nyokap gue galak!” kata Riza lagi, berusaha mengingatkan Thella perihal ibunya yang pernah bertemu Thella serta bersikap tidak begitu ramah. Thella berdecak, akhirnya ia mengalah. “Iya juga sih. Yaudah deh, cepet sembuh ya, Za. Semoga besok bisa masuk sekolah.” Kata Thella akhirnya, yang menyerah untuk memaksa agar diizinkan menjenguk Riza. Meski perasaannya saat ini begitu khawatir perihal kondisi Riza itu. “Iya, Za. Cepet sembuh ya. Sepi nih kelas gak ada lo. Katanya mau ditraktir pajak jadian, malah lo nya sakit.” Suara Dirgan ikut terdengar untuk memberikan ucapan get well soon padanya, yang diiringi dengan mengingatkan soal pajak jadian untuk Riza atas resminya hubungan mereka berdua. Padahal, tidak perlu diingatkan saja Riza sudah cukup sedih. Ini lagi pake dibahas. “Iya, iya. Thanks loh ya, jadi pada khawatir gini .. eh iya, kok lo berdua nelpon gue? Emang gak ada guru?” tanya Riza yang baru menyadari bahwa saat ini kan jam pelajaran di sekolahnya, tapi mereka berdua malah menelpon Riza dengan suara yang heboh, tidak mungkin kan mereka berdua niat banget keluar kelas – dan berdua pula – hanya untuk menelpon Riza? “Iya, gak ada guru nih jam pelajaran pertama. Kalo ada guru ya gak bakal gue nelpon lo dong, Za!” sahut Thella menjelaskan kondisi kelasnya saat ini, yang mana guru di jam pelajaran pertama malah tidak masuk. Membuat suasana kelas seketika ramai karena tidak ada guru, dan bebas melakukan apa pun. Thella pun menjadi leluasa sejak tadi mencoba menghubungi Riza yang akhirnya baru tersambung saat ini. Setelah panggilan entah keberapa puluh kali, akhirnya terhubung juga dengan Riza. “Oh, oke deh, Thel. Udah ya, gue mau istirahat nih.” Kata Riza lagi, berusaha mengakhiri percakapan mereka pagi itu karena Riza yang mau melanjutkan tidur lagi. Bukan berarti Riza tidak menyukai mendengar suara Thella, sama sekali bukan. Tapi ia kan tengah menghindari mereka berdua untuk dua hari ini, jika harus mendengar suara mereka berdua yang beriringan, sama saja dong. Usahanya berasa sia sia. “Iya iya. Selamat istirahat, Za. Makan yang bener, gak usah banyak tingkah!” kata Thella dengan nada mengomel untuk mengingatkan Riza perihal pola makannya itu. Cewek itu tampak masih gemas dengan kondisi kesehatan Riza yang tidak ingin diganggu gugat seharian ini. Padahal Thella ingin sekali memastikan kondisi Riza yang dikatakan sakit itu. “Iya, Thella. Iyaa. Byee!” sapa Riza sebagai penutup dalam percakapannya di telepon itu, lalu ia pun memutuskan sambungan hingga tak terdengar lagi suara dari ujung sana. Selepas teleponnya mati, Riza hanya menghembuskan napas berat. Thella segitu memperhatikannya, mengapa ia tidak bisa bersama Thella? Apa iya, Thella hanya menganggapnya sebatas sahabat? Perhatian itu ... ya memang wajar sih, Thella memang sering begitu saat memberikan perhatian terhadapnya. sejak dulu Thella memang begitu, memang dasar saja perasaan Riza sedang kacau jadi berpikiran yang aneh aneh padahal hanya sebatas diberikan perhatian kecil. Riza meletakan ponselnya pada meja untuk diisi daya, ia segera merebahkan dirinya lagi untuk melanjutkan tidur. Ia bahkan enggan memainkan ponsel, karena nanti akan melihat Dirgan memposting perihal jadiannya itu. Untung Thella tidak terlalu aktif di sosial media, maksudnya Thella memang tidak suka memposting hal hal kecil di sosial medianya. Tapi jika untuk melihat lihat ya Thella melakukannya juga agar tidak ketinggalan berita yang up to date. Riza kembali mengurung dirinya di balik selimut tebal, melakukan hal untuk menangkan dirinya sendiri dari rasa ketakutan saat bertemu Dirgan dan Thella. Ia takut lepas kontrol, lepas kendali, atau apa pun lah itu, yang mana malah menunjukan ketidaksukaannya dengan hubungan mereka berdua sebab Riza juga menginginkan Thella. Cowok itu mulai menarik napasnya secara perlahan, menariknya dalam dalam, lalu secara perlahan pula ia keluarkan. Dilakukannya hal tersebut terus menerus, untuk menenangkan suasana hatinya. Riza sampai berpikir, apakah ia harus ikut yoga saja untuk menenangkan jiwanya ini pasca patah hati? Ah benar! Sepertinya Riza memang harus mengikuti kelas yoga, dari pada ia menjadi gila seperti ini. Tapi dirinya sedang sakit sekarang, tapi yoga itu kan olahraga cewek, yang ada nanti Riza diketawain orang orang jika ikut kelas yoga dengan status sebagai cowok seorang diri. Baiklah, Riza tidak akan menggali kuburannya sendiri untuk ke sekian kali.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD