Nida terlihat berbaris bersama teman teman gengnya, padahal dulu Nida tidak main dengan mereka, tapi setelah tidak berteman lagi dengan Firda, Nida jadi ikut main dengan genk sekolahnya yang terkenal itu. Firda hanya mengembuskan napas pelan karena menerima sikap Nida yang masih marah terhadapnya. Ia menerimanya dengan lapang d**a, karena tidak memiliki energi juga untuk melawan. Alhasil Nida hanya menunduk saja dan enggan untuk menjawab ucapan Nida.
“Udah mau mati, bisu juga.” Nida kembali berbicara, menyindir Firda yang tidak menyahuti ucapannya sama sekali. Gadis itu tampak muak sekali dengan sosok yang berdiri di sebelahnya, yang bersikap sok lemah tak berdaya agar dikasihani, padahal memanfaatkan orang lain agar mau kasihan terhadapnya. dulu Nida termasuk salah satu orang yang sempat mengasihani Firda, karena sikapnya yang sok baik. Hingga akhirnya mata hatinya dibukakan dan bisa melihat kebusukan yang dilakukan Firda. Yang malah merebut cowok yang ia suka, tanpa permisi. Padahal Firda bersikap seolah olah mendukungnya, tapi malah menusuknya dari belakang tanpa ampun. Seolah tidak punya dosa, bahkan Firda tetap berhubungan dengan Rocky, tidak peduli semarah apa Nida kala itu. Benar benar tidak tahu diri kan cewek itu.
“Udah lah, Da. Gak usah disenggol orang kayak gitu, tar lo senggol dikit, dia mati, lo yang disalahin. Dasar penyakitan.” Suara dari teman Nida yang lain turut memojoki Firda yang sejak tadi hanya diam, ucapan ucapan yang tidak memiliki perasaan itu terus dilontarkan, seolah telingan Firda sudah kebas sekali dengan ucapan ucapan mereka. Ucapan teman Nida itu tentu tak jauh berbeda dari Nida yang sama kejamnya, dan hanya berusaha untuk membuatnya marah dan mengamuk. Namun, Firda tidak akan terpancing.
Upacara pun segera di mulai, para siswa mulai hening dan fokus untuk melakukan upacara. Suara dari para petugas upacara terdengar lantang, berteriak memenuhi satu lapangan. Meski tadi banyak siswa yang protes, nyatanya saat upacara di mulai, tidak ada yang berani bersuara karena guru piket tampak siaga memeriksa setiap barisan, untuk menyeret anak anak yang berbicara saat upacara untuk berbaris di depan. Karena itu lah para siswa mematuhi aturan tersebut karena tidak ada yang mau dipermalukan dengan berbaris di depan kelas, di hadapan seluruh siswa SMP tersebut. Mereka masih ingin berdiri dengan tenang di tempatnya masing masing, tidak perlu ditarik sampai ke depan lapangan.
Sekitar sepuluh menit lamanya Firda berhasil untuk bertahan mengikuti upacara. Gadis itu masih mampu berdiri hingga di detik ini, tapi ia mati matian berusaha untuk tetap tegak dan bertahan hingga upacara berakhir. Sayangnya, fisik Firda benar benar tidak sekuat itu. Beberapa menit setelahnya Firda mulai merasakan kondisinya semakin tidak baik, gadis itu mulai resah, bergerak berkali kali untuk mengusap keringat dingin yang mulai keluar. Belum lagi pandangannya yang sudah mulai berkunang kunang, tidak bisa fokus untuk melihat apa yang ada di hadapannya. Kepala Firda terasa sakit luar biasa. Napasnya pun terputus putus.
Firda menyerah, cewek itu bersiap untuk berjalan ke belakang, menghampiri petugas PMR agar membawanya ke UKS. Namun, gerakannya disadari oleh salah satu teman Nida yang berbaris tak jauh darinya.
Firda dapat mendengar Auryn berdecak saat melihat gerakan Firda. Dengan suara berbisik – berusaha agar tidak membuat keributan dan tidak di hampiri guru piker – Auryn berkata. “Udah mulai mau mati ya? Sok sok an ikut upacara, ternyata gak kuat juga.” Kata Auryn yang melihat gerakan Firda yang mulai menyerah dan ingin pergi dari tempatnya. Nada suaranya terdengar mencemooh Firda, seolah mentertawakan cewek itu karena kelemahannya. Mereka bahkan tak repot repot memperhalus bahasanya, entah sudah berapa ratus kali mereka menyumpahi agar Firda mati, terang terangan langsung di depannya.
Terdengar juga suara dari teman teman Nida yang lain, tampak terkekeh melihat kondisi Firda yang sudah semakin pucat. Mereka justru tampak bahagia melihat Firda tak berdaya. Menunjukkan bahwa gadis itu memang selemah itu, bahkan bertahan saat upacara saja tidak mampu.
Firda menarik napasnya panjang panjang. Ia dapat mendengar seluruhnya, untuk itu ia berusaha untuk bertahan di tempat ini meski kepalanya sudah sakit sekali. Ia tidak akan membiarkan Nida dan teman temannya mentertawakan kelemahannya, untuk itu ia berusaha untuk bertahan sebisa mungkin. Dalam hatinya, Firda memanjatkan doa sebanyak banyaknya agar dirinya tidak akan tumbang saat ini, agar dirinya mampu menyelesaikan upacara ini. Firda meremat tangannya, merasakan keringat dingin yang sudah menjalar di sekujur tangannya. Namun, gadis itu tetap memaksakan dirinya karena enggan mendengarkan tawa dari teman teman Nida yang selalu meremehkannya. Kali ini saja, ia ingin membuktikan bahwa dirinya tidak selemah itu.
Naasnya, ternyata memang kondisi tubuhnya tidak mampu lagi bertahan. Kepalanya dihantam rasa sakit luar biasa, pandangannya tak lagi berkunang kunang, justru kini terasa hitam seluruhnya, keringat dingin sudah membanjiri seluruh tubuhnya, dengan wajah yang pucat pasi. Hidungnya pun mulai mengeluarkan darah, yang tidak lagi disadari Firda karena separuh kesadarannya terasa sudah hilang entah ke mana. Napasnya sudah mulai putus putus, hingga di detik berikutnya, gadis itu tumbang. Firda pingsan, ia terjatuh di lapangan, dengan hidung yang sudah mengeluarkan darah dan wajah yang begitu pucat. Dalam sisa kesadarannya, ia dapat mendengar suara suara di sekelilingnya yang menjerit karena terkejut ada orang yang pingsan.
“ADA YANG PINGSAN! PMR WOY! CEPETAN DI SINI!”
Dalam ramainya suara suara tersebut, ia menangkap satu suara yang berseru dengan panik dan mencoba memanggil PMR yang ada di samping lapangan itu. Firda dapat mengenali suara tersebut. Itu suara Nida. Rupanya Nida masih panik saat mendapati dirinya pingsan. Suara itu terdengar refleks, seolah cewek itu tidak menyadari bahwa beberapa menit yang lalu, Nida mencibir dirinya, seolah membencinya setengah mati. Namun, nyatanya cewek itu masih memedulikannya sedemikian rupa. Meski Nida tidak pernah menunjukan itu terang terangan, karena tertutup amarah yang tak berkesudahan, tapi dalam lubuh hati kecilnya yang terdalam cewek itu masih peduli dengan Firda.
Seluruh suara kini mendadak lenyap. Firda sepenuhnya tidak sadarkan diri. Ia tidak kuat lagi menahan rasa sakit yang menderanya hingga tak kunjung usai itu. Firda memasrahkan dirinya pada Tuhan terkait kondisi ke depannya seperti apa. Namun, kejadian ini membuat Firda merenungi keputusannya yang gegabah tadi. Seharusnya Firda tidak perlu memaksakan diri untuk membuktikan kepada siapa pun, seharusnya ia tidak terpancing dengan ucapan Nida dan teman temannya. Sebab memang begini adanya, Firda memang lemah dan tak dapat melakukan apa pun seperti remaja biasa. Ia harus lebih banyak istirahat. Firda harusnya menerima keadaannya saja, bukan malah menantangnya seperti tadi. Akibat emosi yang tidak stabil tadi, sikap Firda justru malah membuat banyak orang semakin khawatir tentang keadaannya. Terutama Thella, yang pasti akan dikabari tentang kondisinya yang pingsan seperti ini.
Dalam ketidak sadarannya, Firda justru dilanda penyesalan. Lagi lagi ia akan menyusahkan kakaknya, padahal sebentar saja Firda ingin membiarkan kakaknya yang juga masih tergolong remaja, dapat menikmati kehidupannya. Tidak di ganggu oleh kondisinya terus menerus, seumur hidup Thella seolah dihantui oleh kondisi Firda yang selalu menyusahkan, sehingga membuat Thella tidak terlalu aktif dalam menikmati kesehariannya sendiri. Firda tidak mau Thella mengetahui hal ini. Firda tidak mau membuat Thella khawatir terus menerus.
Ia sudah berdoa ribuan kali, agar penyakit ini segera di sembuhkan. Bukan semata karena Firda yang tidak sanggup lagi menghadapinya. Bukan. Ia sudah terlalu terbiasa dengan penyakit ini, hingga rasa sakitnya sudah seperti menjadi makanan sehari hari yang biasa ia telan, Firda tidak apa merasakan kesakitan ini. Namun, ia hanya tidak ingin membuat orang orang di sekelilingnya semakin terbebani hingga terhambat dalam melakukan aktivitasnya karena harus mengurus Firda yang merepotkan ini. Namun, entah sudah berapa ribu kali, gadis itu memanjatkan satu satunya doa yang ia minta, berupa kesembuhannya saja, tapi penyakitnya bukan sembuh malah justtru semakin memburuk.
Apa doa Firda tidak pernah sampai kepadaNya? Apa kah ada yang salah dengan isi doanya? Apa kah doanya merepotkan orang lain? Kan tidak. Doa nya demi kelancaran kehidupan seluruh orang yang ada di sekelilingnya, agar tidak lagi merasa repot dan kesulitan karena mengurus Firda. Ia ingin baik Thella atau pun ayahnya juga bisa hidup normal, tidak terbebani lagi dengan penyakitnya atau pun biaya berobatnya yang luar biasa mahal. Betapa ayahnya bekerja keras untuk memenuhi pengobatannya ini. Padahal dulu, ekonomi keluarganya tidak separah ini, karena banyaknya biaya yang di butuhkan unuk pengobatan Firda, segalanya menjadi sulit. Firda hanya lah beban keluarga yang tidak bisa di andalkan sama sekali.
***