- 38 -

1885 Words
Firda mengerjapkan matanya perlahan lahan, mencoba untuk sepenuhnya membuka mata, untuk melihat suasana sekitarnya. Gadis itu mengembuskan napasnya pelan, berusaha untuk membiasaka diri dengan keadaannya saat itu. Hingga mata itu berhasil terbuka, ia mendapati langit langit ruangan yang berwarna putih. Lalu matanya memutar untuk melihat ke bagian lainnya, ia juga mendapati nuansa putih lainnya yang memenuhi ruangan ini. Ruangan yang hening dan tidak ada suara sama sekali, sebagai bagian dari sekolah yang amat di kenalinya, saking Firda sering sekali berkunjung ke tempat ini saat sekolah. UKS. Firda mengenali tempat ini. Kini dirinya berbaring di salah satu bilik uks, di atas ranjang yang tersedia, akibat pingsan tadi. Kondisinya saat ini benar benar lemah, bahkan bergerak saja terasa sulit. Firda kembali meringis, ia membenci kenapa penyakit ini enggan pergi sesegera mungkin. Atau jika memang tidak sembuh, mengapa ia tidak cepat mati saja sekalian, agar segalanya bisa menjadi lebih mudah. Mata cewek itu kembali menyapu sekeliling, lalu menemukan seseorang duduk kursi plastik di samping ranjang yang di tempatinya. Dilihatnya punggung Rocky – satu satunya teman yang ia miliki saat ini – menegak saat Firda sadar. Cowok itu segera tersenyum untuk menyambut Firda, dan tampak sigap apa bila Firda mengatakan butuh sesuatu. Rocky ini, merupakan alasan hubungan pertemanan Firda dan Nida menjadi renggang. Firda tidak bisa mengelak kebaikan Rocky, bukan karena ia menikmatinya. Tapi sejak Nida enggan berteman lagi dengannya, segalanya menjadi sulit. Firda kesulitan melakukan banyak hal sendirian karena fisiknya yang lemah, sehingga ia membutuhkan bantuan dari orang di sekitarnya. Di sekolah ini, yang bisa membantunya setelah Nida pergi, ya hanyalah Rocky. Untuk itu lah Firda tidak membantah setiap Rocky berada di dekatnya, karena memang ia membutuhkannya. Firda juga ingin melakukan segalanya sendiri, tanpa bantuan siapa pun. Namun, nyatanya ia tidak bisa begitu. Segalanya terlalu sulit untuk dilakukan sendiri, bahkan untuk sekadar bertahan di upacara yang hanya sebentar saja Firda tidak mampu. Meski ia tahu Rocky memang menyukainya dan pernah terang terangan mengatakan saat Nida menyatakan perasaannya, tapi Firda sama sekali tidak menanggapi perasaan Rocky. Mereka hanya berteman sewajarnya, seperti anak anak lain. Toh, Firda juga mana sempat sih menjalani hubungan yang normal layaknya remaja, ketika dirinya malah di sibukkan dengan penyakit yang menyiksanya terus menerus ini. Alhasil, Firda hanya mampu fokus dengan penyakitnya saja, tanpa memikirkan hal hal yang lain, yang biasa dinikmati remaja remaja seusianya. Ia hanya bisa melihat mereka berlarian, pergi ke mall, nongkrong di kafe, main saat pulang sekolah, dengan perasaan iri, sebab ia tidak pernah bisa melakukan hal tersebut. Jika memaksa, yang kerepotan tak hanya dirinya. Seperti yang disebutkan tadi, ada Thella dan Ayahnya yang pasti akan heboh karena anaknya terluka. "Rocky? Kok kamu di sini? Gak masuk kelas?" tanya Firda dengan suaranya yang lemah dan terdengar pelan. Gadis itu berusaha untuk mengerakkan dirinya, tapi ketika sadar bahwa kepalanya terlalu sakit, sehingga membuat gerakan lain malah membuatnya semakin sakit kepala, alhasil Firda kembali pada posisinya agar bisa berbaring dengan nyaman. Mata sendunya kini menatap Rocky yang ada di sampingnya itu, tampak sabar menunggunya hingga tersadar, bahkan kemungkinan besar meninggalkan jam pelajaran demi menemaninya di tempat ini agar tidak sendirian saat sadar nanti. Entah Firda harus bersyukur karena ada yang mengurusnya, atau prihatin karena Rocky jadi tidak mengikut jam pelajaran. "Keadaan kamu gimana? Udah baikan?" Rocky tidak segera membalas pertanyaan Firda, ia lebih dulu menanyakan perihal kondisi gadis itu yang masih tampak lemah. Beruntung uks nya ini memiliki dokter, hingga ada alat infus, sehingga Firda bisa diisi oleh cairan infus saat ini. Meski wajahnya masih pucat, tapi lebih terlihat segar di banding saat pingsan tadi. Namun, Rocky berusaha untuk tetap memastikan kondisi yang di rasakan cewek itu. Yang mana Firda lebih merasakan tentang kesakitannya itu. “Aku udah izin sama guru yang ngajar, kamu tenang aja, gak ada agenda presentasi atau ulangan kok.” Kata Rocky yang baru menyahuti pertanyaan Firda yang tadi, tentang mengapa dirinya tidak masuk kelas. Ia sudah sempat izin dengan guru yang mengajar di kelasnya, dengan alasan untuk menemani Firda yang pingsan tadi. “Tapi kamu jadi absen dong?” Firda berbicara lagi, tampak menyesal karena sudah menjadi alasan Rocky untuk tidak masuk kelas sehingga tidak mengikuti jam pelajaran saat ini, karena harus menunggu Firda. Lihat kan, penyakitnya semakin membuat banyak orang terlibat dan merasa kesulitan. Meski hal itu merupakan tanda bahwa mereka menyayangi Firda, tapi jika seperti ini terus kan Firda yang jadi tidak enak. Ia juga ingin berguna untuk orang lain, tidak hanya merepotkan semua orang terus. “Gak papa kok. Yang penting kamu istirahat aja. Tadi pagi udah sarapan apa belum?” Rocky tersenyum lembut untuk menenangkan Firda, seraya mengusap puncak kepala gadis itu agar merasa lebih tenang. Ia terbiasa memberikan perhatian semacam ini pada Firda, ia menayayangi gadis ini dengan sepenuh hati, meski Firda lebih senang menganggapnya sebagai teman. Namun, Rocky tidak memoermasalahkan hal tersebut dan menikmatinya. Yang terpenting ia tetap bisa berinteraksi dengan Firda seperti ini, dan bisa menemani gadis itu melewati masa masa sulitnya. Rocky tidak merasa kerepotan sama sekali. Firda mengangguk untuk menjawab pertanyaan Rocky tadi. “Udah makan tadi pagi di rumah.” Jawab Firda, memberikan jawaban secara langsung. Ia berusaha terlihat kondisinya sudah lebih membaik di banding sebelumnya agar Rocky tidak perlu terlalu khawatir terhadapnya. “Aku udah mendingan nih, tapi kayaknya mau pulang ke rumah aja deh biar bisa istirahat.” Kata Firda yang merasa perlu untuk istirahat lebih lanjut dan tidak bisa mengikuti jam pelajaran berikutnya yang mana nanti malah membuat kondisinya semakin parah hingga satu kelas heboh karena dirinya yang pingsan lagi. Firda memang selalu merepotkan semua orang, hal tersebut membuatnya semakin merasa tidak enak dengan orang orang yang ada di sekelilingnya, yang mana harus kerepotan karenanya. Memang sebaiknya dengan kondisi seperti ini, Firda lebih baik melakukan home schooling atau sekolah dari rumah, sehingga membuatnya tidak perlu kesulitan atau merasa kelelahan karena ke sekolah ini. Tapi sayangnya, uang yang di dapatkan ayahnya sudah tersita untuk pengobatan dirinya, jika Firda memaksakan diri untuk home schooling yang ada dirinya malah semakin menyiksa orang tuanya karena menginginkan hal yang macam macam. Masih beruntung ayahnya tidak tumbang karena harus bekerja siang malam demi mendapatkan uang untuk biaya pengobatan Firda yang jumlahnya tidak bisa dikatakan sedikit. Ia yakin pasti ayahnya mencoba segala macam pekerjaan demi bisa mendapatkan uang yang banyak. “Yaudah, aku anter pulang naik taksi ya.” Ucapan Rocky bukan penawaran, tapi pernyataan, yang mana cowok itu memang akan mengantarkan Firda pulang ke rumahnya selagi jam pelajaran sekolah ini masih berlangsung. Entah sudah berapa banyak hari yang ia terlewat karena ia harus izin karena penyakitnya ini, Firda sudah tak mampu mengjitungnya lagi saking banyaknya. Beruntung ia masih bisa naik kelas, meski absensinya sangat buruk, di tambah lagi nilai sekolahnya juga tidak baik baik amat. Firda hanya mengikuti setiap arahan guru yang memberikannya tugas, dan mengerjakannya tanpa tahu tugas yang dikerjakan mendapatkan nilai sempurna atau tidak. “Makasih ya, Rocky. Makasih bayak karena kamu selalu nolongin aku.” Kata Firda, mengucapkan terima kasih yang tulus pada Rocky yang memang selalu membantunya di saat dirinya susah. Firda jelas sangat mersa terbantu dengan kehadiran Rocky. Dari mulai menemaninya saat jam jam istirahat, atau pun mengantarkannya pulang sekolah. Setidaknya ia bersyukur, apa pun alasan Rocky mendekatinya, tapi Rocky merupakan cowok yang baik dan tidak berbuat macam macam. Cowok itu juga tidak pernah menuntut apa pun darinya dan melakukan segalanya dengan tulus. Untuk itu Firda juga tidak dapat mengabaikannya begitu saja. Sebisa mungkin ia berusaha bersikap ramah terhadap Rocky yang sudah banyak membantunya. “Iya, sama sama, Firda.” Balas Rocky seraya membantu Firda untuk bangun dari tempat tidurnya, agar bisa bergegas pulang ke rumah dan beristirahat sejenak di rumahnya itu, agar esok bisa lebih bugar dan melanjutkan aktivitas seperti biasanya. “Yuk, pelan pelan.” Kata Rocky seraya menuntuk Firda untuk berjalan ke luar UKS, dengan di papah cowok itu, dengan tangan Firda yang disangga oleh bahu Rocky, agar tubuh yang masih lemah itu tidak limbung dan terjatuh lagi. Dengan hati hati Rocky memapah tubuh lemah Firda untuk berjalan menyusuri koridor, untuk mencapai ke arah luar dan mencari taksi, berikutnya ia akan ke ruang guru terlebih dahulu untuk meminta izin karena Firda yang harus pulang. Namun, dalam perjalanan menuju ke luar gerbang sekolah, mereka berpapasan dengan segerombol anak cewek yang amat dikenali Rocky, yang terkenal biang onar. Bukan biang onar sekolah, tapi biang onar dalam mengusik hidup Firda. Karena salah satu dari cewek itu yang mendeklarasikan bahwa ia memusuhi Firda, dan mengajak semua orang untuk ikut memusuhi Firda, membuat orang orang percaya dan muak melihat Firda yang tampak sok lemah. Entah apa keuntungan cewek itu setiap kali menghina dan mencibir Firda, segitu puasnya kah batinnya melihat orang menderita? Rocky tidak mengerti sama sekali dengan jalan pikiran cewek tersebut, karena itu lah Rocky tidak pernah menyukainya. Berdiri di hadapan mereka, karena gerombolan tersebut menghentikan sekaligus menghalangi langkahnya, Nida dan teman temannya tampak memandang sinis ke arah Nida dan Rocky yang berjalan sambil memapah gadis itu. Tatapan Nida terlihat sekali ada kilat amarah yang membuatnya ingin mendorong Firda jika saja tidak ada Rocky di sana. Nida muak setengah mati, melihat Firda dan Rocky yang semakin dekat seolah tidak pernah memikirkannya. Firda benar benar sukses mencuri perhatian cowok itu, karena meminta untuk dikasihani dengan penyakitnya itu. Sedangkan Nida, terlihat terlalu sempurna untuk didekati, atau terlihat sombong dan tidak ramah, serta segudang sifat buruk yang ditangkap Rocky, yang bahkan tidak mau repot repot mengenalnya lebih jauh dan hanya mengecapnya dari luar saja. "Duh sakit sakitan mulu ya, Perasaan mau mati aja repot banget sih?!" Ucap cewek itu kasar yang tak lain adalah Nida dan teman-temannya. Dengan tatapan sinis dan wajah yang sangat menyiratkan bahwa cewek itu tidak menyukai pemandangan di depannya, Nida bahkan sampai memutar bola matanya pertanda muak melihat aksi Rocky dan Firda yang tidak malu malu berangkulan seperti itu. Meski memang konteksnya Rocky menolong Firda, tapi tetap saja, satu dunia juga tau kalo Rocky menyukai Firda. Yang bodoh itu Firda, masa iya gak paham, tapi mau mau aja. Padahal jelas jelas Rocky cowok yang disukai Nida. Tapi Firda tampak nyaman nyaman aja dan gak merasa gak enak sama sekali. Nida benar benar tidak habis pikir, Firda itu punya perasaan atau enggak. Salah satu teman Nida tampak menyetujui ucapan cewek itu. Ia mengangguk, sebagai tanda menyetujui ucapan Nida. "Iya, Rocky lo ngapain si deket-deket dia, nanti ketularan luh." Kata temannya yang bernama Syila. Yang berdiri di sebelah Nida sambil menggandeng cewek itu. Tipikal genk cewek cewek yang selalu berdekatan biar dikira keren, dan berjalan ramean. Rocky tidak pernah menyukai mereka, apalagi Nida. Saat cewek itu terang terangan dan dengan pedenya menyatakan perasaan terhadapnya, saat itulah Rocky menolaknya. Nida benar benar terlalu percaya diri, ia mengira bahwa Rocky sering memperhatikannya. Cewek itu bahkan membantah saat Rocky menolaknya, dan mengatakan bahwa ia yakin sekali Rocky menyukainya. Maka saat itu juga, akhirnya Rocky mengatakan bahwa yang ia sukai adalah Firda, temannya Nida, yang sering bersama cewek itu, bukannya Nida. Nida jelas tidak terima, gadis itu marah besar, hingga marah dengan Firda detik itu juga. Sejak saat itu, Rocky tidak pernah menyukai sikap Nida yang kasar dan arogan, bagaimana mungkin cewek seperti itu ingin disukai olehnya, bahkan emosi Nida saja tidak stabil. Terlebih ketika berikutnya Nida memusuhi Firda, dan membuat gadis yang disukainya menjadi kesulitan karena ulah Nida itu. Akhirnya Rocky bisa masuk ke dalam hidup Firda, menjadi teman cewek itu, dan yang selalu berdiri di sisinya apa bila Firda dalam kesulitan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD