"Lo semua pada bisa diem kagak? Atau nanti gue laporin nih kalian mau bolos." Ancam Rocky yang sudah tahu melihat Nida dan teman-temannya yang jam pelajaran malah berada di luar kelas, beramai ramai pula, tampak tidak mengikuti jam pelajaran sama sekali. Tapi mereka tampak tidak merasa bersalah dan malah terlihat cekikikan saat mendengar Rocky bersuara. Seolah apa yang dikatakan Rocky hanya sekadar lelucon yang menggelitik perutnya, padahal Rocky mengucapkannya dengan wajah garang dan marah sekali terhadap Nida dan teman temannya yang berbicara asal dan sembarangan itu. Tapi berbicara dengan Nida memang sulit, jika diladeni nanti malah semakin tak berujung, sebab cewek itu tidak pernah mau kalah. Pun dengan teman temannya yang memiliki sifat tak jauh berbeda, mereka benar benar cocok berteman. Tidak seperti saat Nida dan Firda berteman, seperti malaikat yang berteman dengan iblis, sangat tidak sinkron.
Nida berdecak pelan mendengar ucapan Rocky yang mengancam tadi, tapi cewek itu segera tersenyum manis seraya akan berbicara dengan Rocky, berusaha untuk tidak terlihat memedulikan ucapan Rocky yang begitu tersirat membencinya. "Ihh bebeph Rocky ngeri dehh, yaudah lah gue cabut duluan yah, bye My Lovely Rocky, bye Firda, gue doain deh cepet MATI." Kata Nida dan langsung pergi. Mengajak teman temannya untuk pergi bersamanya, yang segera diikuti teman temannya untuk berjalan mengikuti Nida sambil mencibir ke arah Firda dan Rocky. Bahkan tatapan mereka seolah mengintimidasi Firda, meski tidak mengatakan apa pun dan jelas sekali mentertawakan kejadian Firda yang pingsan tadi. Mereka pasti puas karena prediksi mereka benar bahwa Firda tidak akan kuat bertahan upacara sampai selesai dan malah berakhir tumbang.
"Bener-bener deh tuh si Nida klo ngomong!" geram Rocky sambil melirik ke arah Nida yang sudah berlalu dengan wajah kesal, tangannya bahkan terkepal, seolah gemas ingin menghajar Nida detik itu juga karena sikapnya yang seperti itu. Rocky benar benar benci setengah mati dengan sikap Nida, rasanya ingin sekali mengancam Nida agar tidak mengganggu Firda lagi dan fokus saja pada kehidupan merek amasing masing, seolah tidak ada yang bisa diurusi saja dalam hidup Nida. Hingga kerjaan cewek itu hanya mengganggunya saja, seolah hal tersebut merupakan kesenangan tersendiri bagi Nida dan teman temannya yang tidak ada puas puasnya mengerjai Nida, baik dalam segi ucapan atau pun tindakan, seolah tidak ada lelahnya saja.
"Udah biarin aja nanti juga dia capek sendiri." Ucap Firda yang mash saja sabar. “Yuk, lanjut aja.” Kata Firda lagi, berusaha menenangkan Rocky yang tampak kesal dengan sikap Nida. Cewek itu pun segera mengajak Rocky untuk melanjutkan langkah mereka menuju ke luar gerbang untuk mencari taksi dan mengantarkan Firda pulang. Meski sakit hati dengan setiap ucapa Nida dan teman temannya, tapi Firda selalu berusaha untuk sabar dan tidak di perpanjang. Sebab dalam lubuk hatinya, ia masih menganggap bahwa Nida adalah temannya seperti sebelumnya. Mungkin Nida masih kesal terhadapnya, ia akan menerima itu dan menanti sampai Nida bisa memafkannya dan mereka bisa berteman lagi seperti dulu.
“Iya! Tapi Nida itu sumpah, anaknya ngeselin banget. Aku rasanya pengen pites dia setiap liat dia, mana gayanya juga sok, berasa yang punya sekolahan. Kamu kenapa diem aja sih, Fir. Emang kamu gak kesel sama dia?” kata Rocky yang tampak berapi api, menjelaskan rasa kesalnya pada Nida, yang selalu mengganggu Firda di depan matanya tanpa repot repot sembunyi. Bahkan rasanya seluruh siswa di sekolaj sudah tau betapa Nida membenci Firda, dan selalu mengganggu cewek itu. Rocky saja sampai muak melihatnya dan ingin sekali melaporkan pada guru BK, karena itu sudah termasuk tindakan bullying. Sikap Nida benar benar keterlaluan dan layak untuk dilaporkan pada guru BK.
Firda hanya mengembuskan napasnya, melihat Rocky seperti ini malah membuatnya terpancing untuk teringat akan asal muasal sikap Nida yang seperti itu. Rocky terlihat jelas membencinya, hingga mengabaikan fakta tersebut. Maka, Firda berusaha untuk mengingatkan Rocky. “Jangan terlalu keras sama Nida.” Kata Firda seraya mengingatkan Rocky, bahwa ia juga tidak tega melihat Rocky yang sampai segitunya terhadap Nida. Firda mengenal Nida, betapa Nida itu kesepian dan membutuhkan perhatian dan sekelilingnya, yang tidak pernah di dapatkannya di rumah, karena rumahnya terasa hening, tidak ada siapa siapa kecuali kakaknya yang bahkan jarang ada di rumah. Firda saja sampai tidak mengenal siapa kakaknya Nida.
“Kamu kenapa sih belain dia terus?” protes Rocky yang tidak terima karena Firda yang terus membela Nida setiap kali Rocky mengeluh soal Nida. Firda benar benar terlalu baik hati dalam menyikapi Nida, yang justru malah membuat Nida semakin di atas angin karena Firda tidak pernah melawan.
“Nida itu temen aku, Ky.” Kata Firda seraya terus membela Nida, ia tidak akan pernah lupa bahwa Nida itu temannya, teman pertamanya saat memasuki sekolah ini. Meski kini sikap Nida seperti itu, tapi Nida itu aslinya baik, hanya karena rasa kecewa saja yang membuat Nida menjadi seperti ini. Firda dapat memahami dan menerimanya, dan siap menanti sampai Nida tidak marah lagi kepadanya.
“Tapi dia gak anggep kamu begitu, Firda!” Rocky masih bersikukuh dan tidak menyukai Firda yang terus menerus membela Nida, sebab baginya Nida itu tidak pantas untuk dibela. Sikap Nida itu sudah keterlaluan, kenapa sih Firda terus membelanya? Ia saja geram, masa Firda sebagai orang yang terus terusan di ganggu Nida tidak geram sama sekali, dan malah menganggap bahwa Nida adalah temannya. Terlihat sekali Nida tidak pernah menganggapnya begitu, Nida sudah punya teman teman lain yang sikapnya sama egois dan menyebalkan seperti dirinya. Mana mungkin dia masih mengingat Firda sebagai temannya. Firda memang terlalu berharap agar Nida kembali menjadi temannya, yang terasa sangat tidak mungkin jika melihat sikap Nida yang seperti itu.
“Kamu lupa, yang bikin aku gak bertemen lagi sama Nida itu apa?” akhirnya Firda melontarkan pertanyaan tersebut, yang sukses menampar Rocky dengan telak. Nida berusaha mengungkit hal yang membuatnya dengan Nida menjadi seperti sekarang, pada sosok yang memang membuat mereka menjadi seperti ini. Sekian waktu berlalu bisa saja membuat Rocky melupakan hal tersebut, tentang penyebab Nida menjadi seperti saat ini. Penyebab Nida menjauhi Firda, bahkan membenci Firda sampai segininya. Membuat jurang pemisah antara Nida dan Firda semakin lebar dan tidak terendung lagi. Yang mana semakin harinya, hubungan mereka semakin buruk karena rasa amarah yang terus muncul.
Rocky seketika terdiam saat mendengar ucapan Firda, cowok itu sampai menghentikan langkahnya saking terkejut dengan pertanyaan Firda barusan. Rocky menatap Firda sejenak, suara cewek itu terdengar lembut dan santai, tapi berhasil menohoknya dengan telak. Sebab, Rocky yang paling tahu, tentang jawaban tersebut. Tentang penyebab keretakan pertemanan Nida dan Firda saat ini, yang mana membuat Firda semakin menderita karena amarah Nida yang tak kunjung usai. Jawaban itu sangat jelas, sebab penyebabnya adalah dirinya. Rocky sampai luput menyadari hal tersebut karena terlarut dengan kedekatannya dengaan Firda. Padahal, asal muasal konfil Firda dan Nida adalah dirinya.
Benar. Semua ini bermula karena Rocky yang menolak Nida, lalu terang terangan mengatakan bahwa ia menyukai Firda di hadapan Nida. Firda yang tidak tahu apa apa, menjadi terseret dan menjadi korban amukan Nida yang tidak terima bahwa Rocky menolaknya, juga kenyataan bahwa Rocky tidak pernah menyukainya, serta pernyataan lantang bahwa Rocky malah menyukai sahabat Nida. Sejak hari itu lah, Nida memusuhi Firda, Nida membenci Firda, karena di anggap mengkhianatinya. Padahal, saat itu Firda tidak tahu apa apa. Firda hanya ikut terseret dalam perkara perasaan Nida dan Rocky yang mana turut melibatkannya.
Saat Rocky mendekati Firda, dan cewek itu bersikap ramah terhadapnya, yang mana hal tersebut jelas menguntungkan Rocky, saat itu lah Nida semakin membencinya. Jadi, rasa benci Nida itu disebabkan karena Rocky, dan Rocky lah yang menjadi tolak ukur seberapa bencinya Nida terhadap Firda. Dengan kedekatan mereka, berarti Nida akan semakin tersiksa yang mana semakin jauh dengan Nida. Firda semakin di benci oleh Nida. Semua ini jelas karena Rocky, jika saja Rocky tidak menyeret Firda waktu itu, mungkin Nida tidak akan semurka ini dan masih berteman baik dengan Firda, tapi sayangnya Rocky malah menyebutkan nama Nida dengan lantang yang membuat cewek itu membenci Firda mati matian hingga detik ini.
“Maafin aku, Fir. Ini semua gara gara aku.” Rocky menunduk, menyesali perkataannya sebelumnya, baru tersadar bahwa semua ini bermula karena kesalahannya. Seharusnya ia bisa lebih lembut pada Nida, tidak menolak cewek itu secara terang terangan hingga membuat Nida marah seperti itu. Serta tentu saja tidak menyeret Firda ke dalam masalahnya, yang malah membuat Firda semakin menderita. “Maafin aku ya, kalo aja aku gak nyeret nama kamu. Mungkin kamu sama Nida masih berteman,” kata Rocky lagi yang masih menyesali perbuatannya itu, dan malah berlindung di balik kekesalannya pada Nida, dengan menyalahkan cewek itu terus.
Firda mengangguk pelan, ia tidak mau memperpanjang permasalahan yang sudah terjadi itu. Ia hanya ingin agar Rocky tidak terlalu keras dengan Nida, dan mengingatkan cowok itu bahwa dirinya juga turut ikut andil dalam pembentukan karakter Nida saat ini. Nida tidak akan sampai seperti itu jika bukan karena Rocky, serta betapa Firda mengetahui sifat asli Nida itu baik, ia hanya di tutupi amarah yang tak kunjung mereda, sehingga membuatnya terus terusan membenci Firda sampai segininya. Namun hal tersebut terbukti bahwa Nida masih mempedulikannya, saat upacara tadi, Firda pingsan saja Nida masih berteriak panik dan memanggil PMR meski beberapa detik yang lalu cewek itu habis mencacinya. Namun jauh di lubuk hati Nida, ia masih memedulikan kondisi Firda sampai detik ini. Ucapan Nida hanya seoalah perlindungan dirinya saja, dalam menutupi sisi rapuh cewek itu.
***