Arsakha masih bergeming ketika Ula Windur menatapnya sembari mengatakan hal yang membuatnya tertegun. Tak lama berselang setelah ular itu memberi penghormatan kepada Arsakha, perlahan dia menghilang di antara kabut yang datang secara tiba-tiba. Arshaka terkesiap dari lamunannya. Ia merasa pertemuannya dengan Ula Windur adalah sesuatu di luar nalar. Karena siluman ular itu bisa berbicara seakan-akan seperti manusia. Memiliki perasaan dan kehidupan yang sama seperti manusia. Arsakha yang kembali teringat akan tanggung jawabnya kepada Ki Rana Purwa untuk melanjutkan babat alas, membuatnya semangat kembali setelah dua malam ini hampir putus asa. Arsakha berniat untuk merawat burung Elang hitam yang saat ini bertengger pada pundaknya. Dia kembali menatap burung Elang yang semalam sudah menolon

