“Aku bisa tidur disini, tidak perlu repot-repot untuk mengurusku,” tolakku halus ketika pria itu telah membereskan bekas makanku. Aku bahkan menundukan kepalaku, aku menolak untuk melihat kearah Elvern sekarang. Tapi bukan Elvern jika tidak sama-sama keras kepala. Dia melakukan apapun yang dia inginkan terhadapku. Termasuk menggendongku menuju ke sebuah ruangan dengan pintu berwarna putih cerah. Sebetulnya aku masih tidak enak hati dengan beberapa percakapan yang telah terjadi diantara kami, sekaligus semakin malu karena pria ini menjadi pria yang super baik terhadapku. Semua hal yang dia lakukan terus terang membuat aku sedikit terbebani. Aku tidak pernah melakukan apapun yang bisa dibilang baik padanya. Aku sudah mendorongnya pergi untuk menjauh bahkan aku melakukan semua hal yang aku bi

