Naura benar-benar terkejut saat mendengar penuturan dokter di depannya. Katanya dia baru saja meminum obat penggugur kandungan. Naura ingat betul dia tidak punya niat bahkan stok obat seperti itu. Sampai s**u dari Ibunya membuat Naura benar-benar tidak bisa berpikir.
"Syukurlah, suami Anda cepat bergerak. Kandungan Ibu benar-benar lemah, tolong jaga makan dan minumnya. Jangan sampai kecolongan begini, atau jangan-jangan Ibu yang berniat menggugurkannya?"
Naura menggeleng lemah. "Tidak, Dok. Saya tidak berniat untuk itu. Terima kasih, Dokter."
"Kalau begitu Ibu bisa pulang dengan vitamin yang saya suruh beli di apotek. Atau mau dirawat untuk beberapa hari?"
"Pulang saja, Dok. Saya akan menebus vitamin juga obatnya."
"Kalau begitu, Ibu tunggu di sini saja. Suami Ibu saya suruh menebus vitaminnya di apotek sebelah. Ibu beruntung punya suami yang sayang sekali dengan Ibu."
Naura tersenyum pahit. Mendengar kata suami membuatnya dia berpikir kesekian kalinya. Menyadarkan diri bahwa dia belum menikah. Dia gadis kotor yang hamil duluan. Tidak lama saat kepergian dokter, Gerald datang dengan satu bungkus plastik di tangannya.
Naura hanya diam saat melihat tatapan Gerald yang sudah lain. Gerald duduk di hadapan Naura, mengusap lembut rambut Naura. "Saya boleh patah hati, Nau?" katanya dengan tatapan sayu juga suara serak.
"Maafkan saya, Pak. Saya sudah berbohong kepada kantor. Saya mencemarkan nama kantor. Bapak pasti malu punya karyawan seperti saya. Saya akan resign Pak," kata Naura panjang lebar. Padahal, ini impiannya. Bekerja di kantor besar milik Pranoto. Namun, kenapa ada saja halangannya? Sekarang atasannya sudah tahu kondisinya. Memalukan!
"Sekali lagi saya boleh patah hati, Naura?" tanya Gerald.
"Pak—"
"Saya pikir saya bisa mendapatkan kamu. Ternyata saya terlambat. Kamu sudah begini, artinya kamu ada seseorang untuk diajak menikah dan melangsungkan hidup. Aku sangat menyesal karena terlambat mengenalmu Naura," potong Gerald.
"Tidak ada yang mau menikah dengan gadis yang hamil duluan, Pak. Tidak ada," kata Naura.
"Lantas, orang yang harus bertanggung jawab itu di mana?"
"Dia sudah menikah, Pak. Bukan dengan saya, tapi dengan orang lain. Dia tidak tahu keadaan saya. Miris sekali ya." Naura menertawakan kehancuran dirinya sendiri.
"Kamu berniat bunuh diri karena ini?" tanya Gerald.
"Semua orang akan melakukan hal sama jika berada di posisi saya, Pak. Karena Bapak sekarang tahu, Bapak gak perlu memecat saya karena saya sadar untuk resign duluan."
"Ayo ke rumahmu, Naura." Naura langsung merubah ekspresi wajahnya saat Gerald berkata lain.
"Ke rumah untuk apa, Pak? Orang tua saya sudah tahu tentang ini semuanya. Bapak jangan menambah kesulitan saya."
"Saya yang akan menikahimu."
***
Ayah dan Ibu Naura sangat terkejut mendapati Naura dalam keadaan baik-baik saja. Justru anak itu datang bersama laki-laki.
Kini semua orang duduk di ruang tamu. Awalnya saling diam, sebelum Naura membuka suara. Naura membiarkan pelupuk matanya dipenuhi air. Gadis itu bertanya, "Ibu taruh obat penggugur di s**u Naura? Kenapa Bu? Naura hampir celaka, Bu. Naura kesakitan. Beruntung Tuhan masih baik sama Naura dan bayi ini."
"Jadi bayi sialan itu masih di dalam perut kamu?" tanya Ayahnya dingin.
"Yah, sebegitu gak pedulinya ayah sama anak gadis Ayah? Naura benar-benar hancur Yah. Harusnya Ayah dukung Naura."
"Saya gak mau peduli dengan anak yang sudah membuat malu keluarga. Lagi pula kenapa kamu mempertahankan anak haram itu?!" Ayahnya mulai tidak sabar. Emosi hingga suaranya meninggi.
Naura hanya menangis tergugu. Sampai Gerald akhirnya angkat bicara. "Maaf, Pak. Saya lancang, tapi di dunia ini tidak ada anak yang membawa sial apalagi dikatai anak haram. Bapak harus ubah pemikiran buruk itu," kata Gerald.
"Kamu siapa masuk ke rumah dan menantang saya?"
"Saya Gerald, Pak. Atasan Naura, yang membawa Naura ke rumah sakit saat Naura kesakitan. Bersyukur Naura dan bayinya tidak apa-apa."
"Bagus ya Naura. Sekarang bos kamu tahu. Apa kamu tidak malu? Dasar anak kurang ajar!" Ayahnya ingin menampar Naura, tetapi ditahan oleh Gerald.
"Tidak membenarkan memarahi anak dengan pukulan."
"Jangan ikut campur. Sekarang kamu di rumah saya, tidak peduli bagaimana jabatan kamu. Keluar, saya mengusirmu!" teriaknya pada Gerald.
"Saya yang akan bertanggung jawab soal kehamilan Naura. Saya siap menikahi Naura, Pak, Bu. Saya mencintai Naura!"
***
"Pak, harusnya Bapak tidak perlu melakukan hal ini karena kasihan dengan saya," kata Naura saat keduanya kini tinggal berdua di ruang tamu. Ayah Ibunya sudah setuju dengan penawaran Gerald yang ingin menikahi putrinya.
"Siapa yang bilang kalau menikah denganmu itu sebatas kasihan? Tidak ada Naura. Apa saya di mata mu itu hanya sebuah permainan?"
"Bukan begitu, Pak. Maaf jika menyinggung, tapi saya tidak sempurna. Bapak bisa mendapatkan wanita yang lain di luaran sana. Yang masih bersih belum ternodai," balas Naura.
Gerald menangkap wajah Naura, lalu berujar, "Nau, kamu berhasil membuat saya jantung saya berdebar lain saat di jembatan itu. Dan sekarang saya yakin, saya mencintai kamu. Bukan sebab kasihan, apalagi berniat membedakan."
"Saya merasa tidak cocok bersanding dengan Bapak. Bagaimana dengan semua orang nanti? Mereka tidak akan menerima saya, Pak."
"Saya akan bilang kepada orang tua saya sudah menghamili mu, selesai bukan? Jangan memikirkan hal lain, Nau. Saya mencintai juga mencintai kekuranganmu. Dan saya harap, cinta saya terbalas dengan segala kekurangan saya."
Segala ucapan dari Gerald benar-benar seperti panah yang berhasil menembus hati Naura. Ucapannya begitu lembut dan penuh kehangatan. Begitu tulus hingga Naura tidak bisa berkata apa-apa lagi. Mencari seperti Gerald di mana?
"Percayakan pada saya Naura. Saya akan membahagiakan kamu. Saya juga menyayangi dan menjaga bayi ini bersama-sama," kata Gerald.
Tapi ini darah daging dari kakakmu sendiri Gerald! Ingin sekali Naura bersuara seperti itu. Namun, dia tidak ingin memberitahunya.
"Istirahat, saya akan pulang dan bicara dengan orang rumah. Tolong pikirkan baik-baik, saya serius lihat ketulusan saya, Nau."
***
Tamparan begitu keras dari Pranoto membuat Gerald menahan panas di pipinya. Dia memberi tahu pada papa dan mamanya jika dia sudah menghamili seorang gadis.
"Apa yang kamu pikirkan Gerald! Kamu mau membuat nama baik keluarga kita hancur iya?!" murka Pranoto.
"Gerald akan bertanggung jawab, Pa."
"Tanpa kamu bilang, Papa juga menginginkan itu. Jangan sampai orang-orang tahu. Nikahi dia. Papa kecewa sama sikap kamu yang tidak dewasa. Kamu baru naik jabatan sebagai CEO, tapi berleha-leha seperti ini. Bikin Papa pusing! Setelah kakak kamu, sekarang kamu juga ikut-ikutan."
"Maafkan Gerald, Pa." Papanya pergi. Sementara Mamanya hanya bisa menangis. Gerald tidak bisa melihat Mamanya menangis, dia memeluk Mamanya. Meminta maaf dalam hati sudah membohongi mereka.
'Maafkan Gerald karena sudah berbohong, Ma. Jika tidak begini, Gerald tidak bisa memiliki Naura.'