Obat Penggugur Kandungan

1028 Words
Ayah Naura yang sejak tadi diam saja langsung menghampiri Naura. Menampar Naura dengan begitu keras hingga sudut bibirnya mengeluarkan darah. Ayahnya bersungut-sungut, begitu marah. "Gugurkan sekarang!" suruhnya. "Yah, Naura gak mau tambah dosa. Tolong dengerin Naura kali ini." "Ayah sama Ibu selalu dengerin kamu Naura. Gugurkan kandungan itu!" "Naura tetap tidak mau, Yah," kukuhnya serasa memeluk erat perutnya. Air mata begitu deras membanjiri pipinya. Meski terlihat begitu tersiksa, Ayah Ibunya sudah tidak peduli. Mereka terlewat malu dan kecewa. "Jangan anggap saya dan istri saya orang tuamu lagi!" Ayahnya membawa pergi Ibunya masuk kamar dengan debaran pintu yang kuat sampai membuat Naura tersentak. Naura sebelum menutup pintu rumahnya, melihat sekeliling, ini tidak buruk. Tetangganya tidak sedang duduk beramai-ramai. Kalau iya, habislah Naura dan keluarga akan menjadi gunjingan. Naura ingat betul bagaimana tahun lalu ada janda yang hamil tanpa menikah lagi, diusir dari sini bahkan hingga kini namanya tetap jelek dan menjadi kambing hitam untuk anak-anak gadis mereka. Seperti, 'Jangan seperti janda tidak tahu diri itu!' Naura mengunci diri di kamar. Meluruhkan tubuhnya menyatu dengan shower. Mengguyurkan air yang begitu dingin, sampai gadis itu menggigil. "Sagara, aku harus bagaimana? Aku tidak kuat berjuang sendiri, Gara." Naura menunduk, memeluk lututnya sendiri. Wajah Sagara memenuhi pikirannya. Naura bergelung dengan selimutnya setelah begitu kedinginan dan pucat memenuhi wajahnya. Badannya langsung panas, dan Naura hanya bisa menahan pusing. Sampai malam begini, biasanya jika Naura di kamar, Ayah atau Ibunya akan memanggilnya untuk mengajak makan. Namun, tidak dengan sekarang. Rasanya Naura benar-benar seperti orang asing yang dimusuhi. Naura tidak tahu lagi selain menangisi dirinya yang sangat malang. Ponsel di nakas membuat Naura terbangun. Dia menatap nomor tidak dikenal di layar ponselnya. Naura mengangkat panggilan telepon itu. "Halo, siapa ya?" tanya Naura. Suara dehaman dari sana membuat Naura tahu bahwa itu seorang laki-laki. "Halo?" panggil Naura lagi. 'Naura, kamu sudah merasa enakan?' Naura menjauhkan ponselnya dari telinga. Mengingat jelas pernah mendengar suara ini. Naura ingat, ini suara Gerald CEO nya sendiri. Dari mana Pak Gerald mendapatkan nomornya? Meski Naura menerima pertemanan waktu itu, tapi Naura tidak tahu jika Gerald akan ada hubungannya dengan Sagara juga CEO baru di perusahaannya. "Pak Gerald. Dapat nomor saya dari mana, Pak?" tanya Naura. 'Oh, saya minta kepada Ayumi. Ngomong-ngomong, jangan panggil saya Pak di luar jam kantor seperti ini. Saya menelpon mu hanya ingin tahu kabarmu saja.' "Tidak enak, Pak. Meski di luar jam kerja, tapi saya adalah bawahan. Maaf sebelumnya jika lancang. Bapak perhatian ke semua orang atau hanya ke saya saja? Maksud saya-" 'Hanya denganmu. Saya menyukaimu. Kamu mau tahu tentang sikap saya yang begini kan? Saya jujur, tertarik dengan mu.' Naura mendengar bagaimana suara tulus Gerald menyentuh hatinya. Astaga ada apa dengan dirinya yang terlibat dengan orang-orang seperti Gerald juga Sagara? Setelah dengan Sagara, apa Gerald juga akan sama? Maksudnya, Gerald akan mencoba memasuki hatinya? 'Terlalu singkat ya, Nau? Tapi bagaimana, saya juga tidak bisa melarang hati saya atas ketertarikan ini. Kamu tidak nyaman pasti, tapi saya juga tidak bisa untuk diam saja.' Gerald bersuara lagi saat Naura diam dengan segala pikiran runyam nya. 'Sudah hanya itu, Nau. Saya tutup ya. Jangan lupa sembuh. Selamat malam dan jangan begadang.' Naura belum menjawabnya, tetapi Gerald sudah mematikan. Naura menghela napas, kini benar-benar menjadi rumit. Kenapa hidupnya justru terlibat dengan Sagara dan Gerald! *** "Susu." Naura yang baru saja membuka pintu bersiap untuk ke kantor langsung disuguhi pemandangan Ibunya membawa segelas s**u untuknya. Naura ingat betul sikap Ibunya semalam. Namun, kenapa sekarang berbeda begini. "Bu—" "Habiskan. Ibu mau ke pasar." Ibunya langsung pergi begitu saja. Naura tidak mau Ibunya kecewa karena tidak menerima s**u yang dibuat susah untuknya. Tanpa menaruh curiga, Naura meminumnya hingga habis. Harusnya Naura curiga. s**u itu sudah diberikan obat penggugur kandungan yang efeknya akan terjadi beberapa jam kemudian untuk tidak ketahuan langsung oleh Naura. Ini inisiatif Ayahnya yang sudah memesan dari bidan ilegal. Naura sampai di kantor sedikit pagi. Masih ada beberapa orang yang belum datang termasuk Lila. Naura menaruh tas kerjanya, dan ingin duduk. Ayumi datang dari dalam, langsung berdiri sambil menatap Naura tidak suka. "Kamu mau kerja atau selalu izin dengan alasan sakit terus?" tanyanya tanpa basa-basi dengan tatapan sedikit menusuk. "Maaf, Bu Ayumi. Saya bukan berasalan untuk bohong. Memang benar badan saya sedang tidak sehat. Saya minta maaf atas banyak izinnya." "Satu lagi. Kamu niat ke kantor untuk bekerja atau mencari perhatian dari CEO?" Naura mengerutkan keningnya bingung, lalu bertanya, "Mencari perhatian maksudnya bagaimana Bu?" "Memang saya tidak tahu, kedekatan kamu dengan Pak Gerald? Kamu hanya bawahan Naura. Jangan bermimpi untuk dekat kedua kalinya dengan CEO. Saya hanya menegaskan bukan melarang ingat itu. Sekarang, pergi ke gudang. Ada pekerjaan untuk kamu." Naura membuang napas panjang. Kemudian mengangkat senyumnya. "Baik, Bu. Saya akan lebih profesional lagi." *** "Nau." Naura yang tengah mengangkat barang-barang dari gudang langsung berhenti saat Gerald datang dan memanggilnya. "Iya, Pak? Ada yang harus saya lakukan?" tanya Naura. "Sudah jam istirahat. Saya mau mengajak kamu makan siang. Jangan menolak." "Tap—" "Yang mengajak kamu CEO, Naura. Siapa yang akan marah jika pekerjaan mu belum selesai? Ini waktu istirahat semua orang dibebaskan berhenti aktifitas," potong Gerald. Naura tidak bisa menolak. Gerald mengajaknya makan di sebuah restoran. Beberapa saat setelah makanan yang dipesan datang—spaghetti— tiba-tiba saja ada yang aneh di dalam perut Naura. Seperti ada paku yang menancap di sana. Naura menahan perih yang datang saat Gerald menatapnya. "Dimakan. Masa hanya saya yang makan," kata Gerald. "Iya, Pak." Di sisi lain, Ibunya dan Ayahnya sedang bertengkar di rumah. Ayahnya membentak ibunya. "Ibu takut Naura kenapa-kenapa, Yah. Bagaimana jika Naura dalam bahaya karena pengaruh obat ilegal itu?" Ibunya menangis tersedu-sedu. "Biarkan saja. Anak itu bukan lagi anakku. Aku tidak mau menganggapnya." "Yah, sadar. Semarah-marahnya Ibu, tapi Ibu nggak tega melakukan hal itu seperti kemarin. Ibu juga gak sampai hati memberi s**u tadi pagi. Ibu seperti ibu yang jahat!" "Ayah cuma gak mau keluarga kita celaka karena ada anak aib itu! Mungkin obat itu sudah bereaksi. Kita hanya tunggu kabar." Ayahnya memang begitu kecewa dan benar-benar tidak peduli. Bahkan saat Naura merasakan sakit yang teramat sakit, dia tidak bisa menahannya. Air mata Naura jatuh hingga Gerald menyadarinya. "Astaga, Nau. Kenapa?!" "Pak, sakit." Naura bersuara lemah, sambil memegangi perutnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD