bc

ZAHRA (Luka dalam Penantian)

book_age18+
18
FOLLOW
1K
READ
love-triangle
BE
time-travel
age gap
opposites attract
city
office/work place
love at the first sight
like
intro-logo
Blurb

Bagi Zahra, dunia laki-laki adalah labirin penuh ancaman. Dibalik kesibukannya menjadi seorang mahasiswi akuntansi ia didekati oleh Rama. Rama menawarkan janji yang terdengar seperti puisi : sebuah pernikahan setelah Zahra lulus, tepat pada hitungan dua kali tahun kabisat. Zahra membencinya dan menganggap semua itu hanyalah bualan virtual, sampai suatu hari pertemuaan mereka di dunia nyata untuk kedua kalinya. Sosok rama yang matang, maskulin, dan sempurna meruntuhkan pertahanan Zahra. Namun setelah pertemuan itu Rama berubah menjadi sedingin es, lalu menghilang dan berpaling pada wanita lain, meninggalkan zahra dalam pusaran tanya dan luka baru yang menyayat. Apakah janji tahun kabisat itu memang sejak awal hanyalah sebuah sandiwara ? dan mampukah Zahra menyembuhkan hatinya sendiri saat logika memaksa membenci, namun hati terlanjur jatuh cinta pada pandangan yang salah ?. “Adakalanya  kehilangan adalah cara semesta menyelamatkanmu dari cerita yang tidak akan pernah berakhir bahagia.”

chap-preview
Free preview
BAB 1: SISA RASA DI PENGHUJUNG MALAM
​"Ada detak yang lebih sunyi dari jam dinding, ada tatap yang lebih bicara dari kata-kata. Di antara pekatnya kopi dan manisnya gula aren, takdir seringkali menyelinap tanpa permisi, mengetuk pintu hati yang sedang sibuk mengejar mimpi." ​Lampu neon di sudut jalan mulai berkedip malas, seolah-olah ia pun merasakan kelelahan yang sama dengan penduduk kota yang sudah terlelap. Namun, bagi Zahra, malam justru adalah panggung utamanya. Di balik mesin espreso yang masih mengeluarkan sisa-sisa uap hangat, ia berdiri dengan bahu yang sedikit tegang. Aroma kopi yang tajam bercampur dengan harum pembersih lantai menjadi parfum kesehariannya. ​Jam dinding di kafe kecil itu menunjukkan pukul 23.45. Pelanggan terakhir baru saja melangkah keluar, meninggalkan denting lonceng pintu yang perlahan menghilang ditelan sunyi. Zahra menghela napas panjang. Ia melepas celemeknya, melipatnya dengan rapi, dan meletakkannya di loker kecil. Baginya, setiap lipatan celemek adalah tanda bahwa satu hari perjuangan telah berhasil ia lalui. Bekerja part-time dari pukul enam sore hingga tengah malam bukanlah perkara mudah bagi seorang mahasiswi, namun tekad Zahra jauh lebih keras daripada rasa kantuk yang seringkali menyerang di tengah kuliah pagi. ​Tepat saat jarum jam menyatu di angka dua belas, Zahra merogoh saku celananya. Ponselnya bergetar. Sebuah notifikasi w******p muncul di layar yang redup. ​Tiara: "Zahra, aku di depan kosanmu ya. Mau balikin buku Akuntansi Biaya 1 yang kemarin kupinjam. Maaf ya malam-malam, soalnya besok aku harus kumpul tugas pagi-pagi sekali." ​Zahra tersenyum tipis. Tiara adalah sahabat yang tahu betul betapa padatnya jadwal Zahra. Ia tahu Zahra tidak akan berada di kos sebelum tengah malam. Di sela-sela kesibukan itu, terselip rasa syukur karena memiliki teman yang memahami ritme hidupnya yang tidak biasa. ​"Alea, aku duluan ya," pamit Zahra kepada rekan kerjanya yang sedang membersihkan meja bar. ​Alea mendongak, menyodorkan dua cup minuman dingin yang masih berembun. "Eh, tunggu! Ini bawa saja. Boba gula aren spesial buatmu dan temanmu. Tadi aku buat lebih, daripada mubazir." ​"Wah, terima kasih banyak, Alea! Kamu penyelamat dahagaku malam ini," ujar Zahra tulus. Ia menerima kantong plastik berisi dua minuman segar itu. Dinginnya gelas plastik tersebut seolah merambat ke telapak tangannya, memberi sedikit kesegaran di tengah udara malam yang lembap. ​Zahra bergegas keluar. Jarak kosnya hanya sekitar 300 meter, namun di waktu sedini ini, setiap langkah terasa lebih panjang. Ia berjalan cepat, kakinya yang terbungkus sepatu kets melangkah lincah di atas trotoar. Pikirannya terbagi antara materi akuntansi yang harus ia tinjau ulang dan rasa tidak enak karena membiarkan Tiara menunggu. ​Sesampainya di gerbang kos, ia melihat siluet seseorang di ruang tunggu. Namun, ada yang berbeda. Tiara tidak sendirian. ​"Tiara! Maaf ya menunggu lama," seru Zahra sambil mengatur napas. ​Tiara bangkit dari kursi kayu di ruang tunggu, tersenyum lebar. "Santai, Ra. Aku juga baru sampai. Oh iya, ini bukumu. Terima kasih banyak ya, kalau nggak ada catatanmu, mungkin aku sudah menyerah di bab process costing." ​Zahra menyodorkan dua minuman boba yang dibawanya. "Ini kebetulan ada minuman dari Alea. Tadinya kupikir buat kita berdua, tapi..." Zahra menggantung kalimatnya saat menyadari sosok laki-laki yang berdiri di samping Tiara. ​"Oh, kenalin, ini Rama. Sepupuku," Tiara memperkenalkan laki-laki itu. "Dia lagi main ke sini. Rama, ini Zahra." ​Suasana mendadak menjadi canggung. Ruang tunggu yang hanya diterangi lampu kuning temaram itu terasa lebih sempit. Zahra memberikan kedua minuman itu kepada Tiara. "Eh, kalau gitu buat kalian saja. Aku bisa minum air putih di dalam." ​"Eh, jangan gitu, Ra! Kan ini buat kamu satu," protes Tiara. ​"Nggak apa-apa, Tiara. Rama kan tamu, jauh-jauh ke sini. Diminum ya," tolak Zahra halus dengan senyum ramah yang tulus. ​Akhirnya, mereka duduk bertiga. Tiara membuka bukunya, wajahnya tampak gusar. "Ra, jujur ada beberapa bagian di bab ini yang aku benar-benar blank. Bisa tolong jelaskan sebentar tidak? Sebentar saja sebelum aku pulang." ​Zahra mengangguk. Meski lelah, ia tidak bisa menolak permintaan sahabatnya. Ia mulai membuka lembar demi lembar buku akuntansi yang penuh dengan coretan angka. Dengan sabar, Zahra mulai menjelaskan konsep biaya overhead dan alokasi biaya. Suaranya lembut namun tegas, mengalir di antara sunyinya malam. ​Di sisi lain meja, Rama duduk diam. Ia memegang cup boba gula aren yang diberikan Zahra. Sedotan pertama masuk ke mulutnya, menyebarkan rasa manis karamel yang pas dan tekstur boba yang kenyal. Namun, lidahnya bukan satu-satunya yang mencecap rasa. Matanya, tanpa bisa dicegah, mulai tertuju pada sosok di depannya. ​Rama berasal dari kota yang jauh, sekitar tujuh jam perjalanan dari tempat Zahra menempuh pendidikan. Di kotanya, ia jarang menemukan suasana sesunyi ini namun terasa begitu hidup. Ia memperhatikan bagaimana cara Zahra menyelipkan rambut di belakang telinga saat menunduk menatap buku. Ia mengamati bagaimana cara bibir Zahra bergerak saat menjelaskan rumus-rumus rumit seolah itu adalah sebuah puisi yang indah. ​Zahra sangat fokus. Baginya, akuntansi adalah presisi, dan ia ingin Tiara memahaminya. Ia tidak menyadari bahwa di balik cup minuman itu, Rama sedang mencuri-curi pandang. Ada binar kagum di mata Rama—kekaguman pada seorang wanita yang tetap terlihat bersinar meski baru saja menyelesaikan shift kerja enam jam yang melelahkan. ​Setiap kali Zahra tersenyum karena Tiara akhirnya mengerti sebuah poin, jantung Rama seolah ikut berdegup sedikit lebih kencang. Senyum itu sederhana, namun di mata Rama, itu adalah pemandangan paling menenangkan yang ia temui sepanjang perjalanannya ke kota ini. ​Waktu merambat tanpa permisi hingga jarum jam menunjukkan pukul satu dini hari. ​"Ya ampun, sudah jam satu!" Tiara menepuk dahinya. "Ra, maaf banget ya, aku malah menyita waktu istirahatmu. Tapi beneran, sekarang aku jadi paham. Makasih banyak ya!" ​"Sama-sama, Tiara. Sukses ya buat tugasnya besok," jawab Zahra sambil merapikan bukunya. ​Tiara mengajak Rama untuk segera beranjak. "Ayo, Ram. Kita pulang. Kasihan Zahra harus tidur." ​Rama berdiri, memberikan anggukan sopan kepada Zahra. "Terima kasih buat minumannya, Zahra. Bobanya enak sekali." ​"Sama-sama, Rama," sahut Zahra singkat, masih dengan keramahan yang sama. ​Mereka berjalan menuju motor yang diparkir di depan. Rama menyalakan mesin motor, suaranya membelah keheningan jalanan. Tiara naik ke boncengan. Saat motor mulai bergerak perlahan meninggalkan area kos, Rama tidak tahan untuk tidak bertanya. ​"Tiara," suara Rama sedikit meninggi agar terdengar di balik helm. "Siapa tadi nama lengkap temanmu itu?" ​Tiara sedikit condong ke depan. "Namanya Zahra Febriani. Kenapa? Terpesona ya?" goda Tiara. "Dia aslinya dari kota sebelah, sekitar dua jam dari sini. Dia hebat, lho. Kuliah sambil kerja di kafe tempat dia beli minuman tadi. Mungkin malah minuman yang kamu minum tadi itu buatan dia sendiri." ​Rama terdiam, namun tangannya yang memegang setir motor terasa lebih mantap. Ia membayangkan Zahra di balik meja bar, meracik minuman dengan ketelitian yang sama saat ia menjelaskan materi akuntansi. ​Di bawah naungan langit malam dan embus angin yang dingin, Rama menyimpan satu nama di dalam kepalanya. Zahra Febriani. Sebuah nama yang malam ini terasa semanis gula aren yang baru saja ia habiskan, meninggalkan sisa rasa yang tak ingin ia lupakan begitu saja. ​Sementara itu, di dalam kamarnya, Zahra baru saja meletakkan tasnya. Ia tidak tahu bahwa malam ini, ia bukan hanya membantu seorang teman menyelesaikan tugas, tetapi juga tanpa sengaja telah menuliskan bab pertama dalam ingatan seseorang yang baru saja ia temui. "Malam tidak pernah benar-benar gelap bagi mereka yang membawa cahaya di dalam dirinya. Dan kadang, pertemuan singkat di ruang tunggu yang sunyi adalah cara semesta mengatakan bahwa perjalanan baru saja dimulai—tanpa aba-aba, hanya lewat segelas manisnya kenangan."

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
20.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
237.2K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
195.5K
bc

TERNODA

read
203.7K
bc

Kali kedua

read
222.7K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1.4K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
23.5K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook