Bab 3

1302 Words
Kirana masih berdiri terpaku di tengah ruang tamu beberapa menit setelah Nek Farah dan Om Juna melangkah keluar. Keheningan rumah itu kembali datang. Ketika ia baru saja hendak membalikkan badan untuk kembali ke lantai atas, suara langkah kaki bergema dari arah koridor samping. Bara, asisten pribadi Argantara, masuk ke dalam ruangan. "Nyonya ...." sapa Bara ramah. Ia membungkuk hormat. Kirana hanya tersenyum tipis. Ia diam, menunggu kalimat selanjutnya. "Tuan Arga meminta Anda untuk berdiam diri di kamar dan intropeksi diri" lanjut Bara. "Baik," jawab Kirana singkat. Ia tidak membantah. Setelah Bara pergi meninggalkan ruangan, Kirana melangkah pelan menuju kamarnya. Hari berlalu dengan sangat lambat. Dunia yang biasanya terasa ringan bagi Kirana, kini berubah menjadi mencekam sejak ia melangkah masuk ke dalam lingkaran setan milik Argantara Julian Utomo. Senja perlahan naik, melukis langit dengan warna orange kemerahan yang perlahan memudar menjadi kelabu pekat. Bulan akhirnya muncul, menggantikan tugas matahari untuk menyinari bumi dengan cahaya peraknya. Suasana malam yang sunyi itu mendadak berubah tegang di balkon lantai dua. Jendela besar di kamar Kirana terbuka sedikit, cukup untuk membiarkan angin malam yang dingin masuk. Namun, bukan angin yang keluar, melainkan sosok ramping yang bergerak dengan kelincahan. Kirana melompat dari jendela balkon. Dengan gerakan yang terlatih dan tanpa rasa takut, ia mendarat di dahan pohon besar yang menjuntai tepat di sisi bangunan. Ia merosot turun dengan gesit, kulit tangannya yang halus sedikit tergores kulit pohon yang kasar, namun ia tak peduli. Kirana melarikan diri. Malam ini, ia bukan lagi 'Karina' yang anggun, penurut, dan rapuh. Gadis itu keluar dengan setelan kasual serba hitam serta sebuah topi yang menutupi sebagian wajahnya. Gadis itu sadar betul ia masih membutuhkan perlindungan Arga untuk menghancurkan musuhnya, namun saat ini, ia masih membutuhkan banyak informasi dari luar—dan tentu saja, sedikit hiburan untuk menjaga kewarasannya agar tidak benar-benar menjadi gila seperti Arga. Begitu kakinya menapak tanah, Kirana menoleh ke arah jendela besar kamar Arga yang berada di atasnya. Sebuah senyum sinis muncul di wajahnya yang cantik. "Intropeksi ya? Hehehe," tawanya terdengar rendah dan meremehkan. Ia menertawakan Arga yang mengira bisa mengurungnya begitu saja. Tempat Kirana berdiri sebenarnya masih terjangkau oleh CCTV milik Arga, tetapi gadis itu terlalu pintar. Ia sudah mempelajari celah-celah buta dari kamera-kamera itu selama seharian penuh. Dengan gerakan yang diperhitungkan, ia menyelinap di balik bayangan pepohonan hingga mencapai pagar belakang yang jarang dipantau. Ia mengeluarkan ponselnya dari saku celana. Mencari sebuah nomor dengan cepat, dan panggilan itu terhubung hampir seketika. "Aku tunggu di Bar Orion malam ini. Jangan terlambat." ***** Suasana Bar Orion tampak ramai. Dentuman musik yang rendah bergetar hingga ke lantai marmer, beradu dengan suara tawa dan denting gelas dari para pengunjung yang ingin melupakan masalah hidup mereka. Semua orang bergembira dengan gelas wine dan botol bir di tangan masing-masing. Di sudut ruangan yang agak tersembunyi, sebuah meja bundar telah diisi oleh tiga orang. Mereka tampak mencolok namun secara bersamaan berusaha untuk tidak menarik perhatian. "Sulang!" ucap mereka serempak sembari mengadu gelas wine yang berisi cairan merah pekat. Kirana menyesap sedikit wine miliknya, merasakan sensasi hangat yang membakar tenggorokannya dan memberikan rasa rileks sesaat. Ia meletakkan gelas itu kembali dengan perlahan, matanya menyapu seisi bar dengan waspada. "Kak Kirana? Kamu beneran serius dengan rencana gila ini?" tanya seorang pria bernama Wili. Wajahnya yang muda tampak cemas saat menatap Kirana yang kini tampak berbeda dengan topi hitamnya. "Iya, benar. Kamu tahu kan Arga itu semenyeramkan apa? Kamu tidak takut dia bakal menghabisimu?" timpal Anne, teman perempuannya yang berambut pendek, ikut menimpali dengan nada khawatir. Kirana hanya tersenyum miring, senyum yang mengandung arti gelap. Ia bertopang dagu, menatap kedua temannya itu dengan pandangan yang tenang, bahkan terkesan dingin. "Apakah mati semenakutkan itu?" tanyanya santai. Nada suaranya datar, meremehkan seolah kematian hanyalah tidur panjang yang tak berarti. Anne sedikit tersentak, ia hampir lupa dengan siapa dia bicara saat ini. "Oh ya, aku lupa. Kau kan bukan Karina ya. Di lingkaran iblismu itu saja, semua orang yang menginginkan kamu mati malah tewas duluan. Hahaha!" Anne berseru sembari tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana meskipun ia tahu Kirana sedang berada di ambang bahaya. Ia teringat bagaimana Kirana selalu bisa meloloskan diri dari situasi mustahil di masa lalu. Kirana tidak ikut tertawa. Ia menjeda kalimatnya sebentar, mengalihkan pandangannya pada cairan wine di dalam gelasnya. "Aku tahu Arga memang segila itu, tapi..." Kirana menatap Anne dan Wili bergantian dengan sorot mata yang tajam. "Kalau bisa bersama dia, balas dendamku akan jauh lebih mudah! Dengan kekuasaan Julian Utomo di belakangku, keluarga Zein tidak ada yang bisa lolos! Mereka harus membayar setiap tetes air mata dan darah Kak Karina." Suaranya rendah namun menusuk, penuh dengan kebencian. "Kak Kirana, aku baru teringat sesuatu. Ada satu informasi penting yang masuk ke jaringanku," ucap Wili setelah terdiam sejenak, wajahnya berubah sangat serius. "Yang aku dengar, orang-orang keluarga Zein sekarang sedang mencari keberadaanmu." Kirana sedikit menyipitkan matanya, "Kamu tahu siapa mereka?" Wili menggeleng lemah, "Yang aku tahu, mereka menyewa orang-orang paling berpengaruh di lingkaran hitam. Orang-orang yang tidak mengenal ampun jika sudah menemukan targetnya." Kirana manggut-manggut, seolah sedang menyusun strategi baru di kepalanya. Seringai tipis muncul di bibirnya. "Biarkan saja. Semakin mereka mencariku, semakin dalam mereka menggali lubang kuburan mereka sendiri." Sementara Kirana tengah merencanakan langkah selanjutnya di Bar Orion, di sudut kegelapan malam lain. Argantara Julian Utomo tengah berurusan dengan bagian lain dari keluarga Zein. "Aku tidak tahu keberadaan Kirana di mana, Tuan," ucap seorang pria tua dengan suara tertahan, nyaris tercekik. Di bawah kaki Argantara, pria tua bernama Pak Syam itu bersimpuh dengan tubuh gemetar hebat. Ruangan yang gelap dan itu seolah menjadi saksi bisu betapa tidak berdayanya Pak Syam di hadapan sang pewaris tunggal keluarga Utomo. Arga bukanlah lawan yang sepadan. "Tolong Tuan.... Tolong lepaskan aku," lirih Pak Syam, suaranya semakin merendah. Pak Syam bukanlah orang sembarangan. Ia adalah tangan kanan keluarga Zein, pria yang selama puluhan tahun dipercaya untuk memimpin semua sektor bisnis dan rahasia kotor keluarga tersebut. Mendengar rintihan Pak Syam yang memilukan justru membuat hati Arga merasa kesal. Tanpa ekspresi, Arga mendekatkan batang rokok yang masih menyala di tangannya. Dengan gerakan yang sangat santai, ia menyundutkan bara merah itu tepat ke tengah telapak tangan Pak Syam yang terbuka. "Argghh!" Jerit kepanasan Pak Syam pecah, memenuhi sudut-sudut ruangan yang gelap. Aroma kulit yang terbakar mulai tercium, namun Arga tetap diam membisu. Ia justru sedikit memiringkan kepalanya, seolah sedang menikmati penderitaan yang baru saja ia ciptakan sebagai hiburan malamnya. "A-aku benar-benar tidak tahu, Tuan," ucap Pak Syam lagi, napasnya tersengal menahan perih yang luar biasa di tangannya. "Aku tidak akan memaksamu untuk berterus terang saat ini," suara Arga akhirnya keluar, rendah dan sangat tenang, namun justru ketenangan itulah yang membuat bulu kuduk berdiri. "Aku hanya ingin tahu satu alasan sederhana. Kenapa Kirana... kenapa gadis itu dikirim masuk ke dalam lingkaran iblis keluarga Zein?" Pak Syam ragu untuk menjawab. Keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Ia tahu membocorkan rahasia ini berarti mengkhianati keluarga Zein, tetapi menatap mata Arga saat ini berarti ia sedang mengundang maut. "I-itu...." Pak Syam menelan ludah dengan susah payah. "Itu karena dia digunakan untuk membantu pengobatan Nona Anya. Kirana memang hanya anak angkat keluarga Zein, dia... dia hanya alat. Apa sebenarnya tujuan Tuan Arga mencarinya?" tanya Pak Syam dengan sisa keberaniannya. "Urusan Tuan Arga bukan urusan Anda!" hardik Bara cepat, suaranya menggelegar memotong kalimat Pak Syam. Bara yang berdiri di sudut ruangan tahu betul bahwa pertanyaan Pak Syam sudah melewati batas kesabaran Arga. Ia tidak ingin melihat Arga melakukan hal yang lebih gila lagi malam ini. Pak Syam tersentak, lalu segera menunduk dalam-dalam, menyadari bahwa ia baru saja melakukan kesalahan karena terlalu lamcang. Arga yang duduk di kursi hanya tersenyum miring. Tatapannya mendadak kosong, menerawang jauh menembus kegelapan ruangan, kembali ke sebuah memori yang selama dua tahun ini terkunci rapat di sudut kepalanya yang paling dalam. "Ya... Aku memang ingin membalas dendam," gumam Arga hampir tak terdengar. "Balas dendam soal kejadian malam itu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD