Bab 2

1332 Words
Pagi itu, kediaman megah milik Argantara Julian Utomo tampak sunyi. Cahaya matahari yang masuk melalui jendela besar tak mampu menghangatkan suasana dingin yang menyelimuti bangunan tersebut. Namun, samar-samar terdengar denting sendok yang beradu dengan piring dari lantai bawah. Tepatnya ruang makan. Ruangan itu hanya diisi oleh sebuah meja mahoni besar, dikelilingi oleh delapan kursi megah dengan ukiran. Di sana, di salah satu kursi utama, duduklah Argantara seorang diri. Pria itu tidak terlalu ambil pusing dengan keadaan yang ada. Perlahan, terdengar langkah kaki dari arah tangga. Kirana muncul. Ia masih mengenakan gaun malam yang ia pakai semalam. Rambutnya dibiarkan tergerai, menutupi jejak kemerahan di lehernya yang mungkin masih terasa perih akibat cengkeraman Arga. Sebuah senyum kecil yang dipaksakan terbit di wajahnya ketika ia menyadari bahwa Arga telah merasakan kehadirannya. Mata Arga yang tajam melirik sekilas tanpa menghentikan kegiatan makannya. Dengan satu gerakan tangan, ia memerintahkan Kirana untuk duduk di kursi yang berada tepat di sebelahnya. Gadis itu patuh, bergerak mendekat dengan langkah yang tenang meski detak jantungnya kembali berpacu liar. Begitu Kirana duduk manis, Arga melakukan sesuatu yang mengejutkan. Dengan gerakan kasar, ia menarik kursi yang diduduki Kirana agar mendekat ke arahnya. Sret! Suara gesekan kaki kursi dengan lantai marmer terdengar nyaring. Wajah Kirana seketika menegang. Sekarang, jarak mereka begitu dekat. Wajahnya berada persis di hadapan Arga yang dingin. Begitu dekat hingga Kirana bisa merasakan hembusan napas Arga yang panas di permukaan kulit wajahnya, membawa aroma yang kuat dan maskulin. "Bagaimana tidurmu? Nyenyak?" tanya Arga memulai pembicaraan. Suaranya terdengar datar, namun ada nada sindiran di balik kata-katanya. Kirana merasa pertanyaan Arga adalah sebuah tantangan tersembunyi. Ia tahu Arga tidak benar-benar peduli, pria ini hanya sedang berbasa-basi. Namun, Kirana bukan lagi gadis lemah yang bisa digertak dengan mudah. Ia yang memang memiliki adrenalin tinggi merasa tertantang. "Sangat nyenyak, Tuan," balas Kirana. Ia menatap langsung ke dalam iris mata Arga yang gelap, memberikan jawaban yang santai dan tenang. Arga tersentak. Pria itu merasa Kirana terlalu berani untuk tidak merasa terintimidasi di hadapannya. "Oh... begitu," Arga meletakkan sendoknya perlahan, menimbulkan bunyi denting yang bergema. "Tapi satu hal yang perlu kamu tahu. Tidur nyenyakmu tadi malam membuatku sangat tidak nyaman!" Suara Arga berubah menjadi rendah, berat, dan penuh dengan nada penghinaan. Ia seolah ingin menegaskan bahwa kehadiran Kirana di rumahnya adalah sebuah gangguan yang tidak diinginkan. Kirana tersenyum tipis, sebuah senyuman yang mengandung arti. Ia memalingkan wajahnya dari hadapan Arga yang terlalu mendominasi, menatap ke arah meja makan yang tertata rapi. Tangannya bergerak kecil di atas meja. "Kalau begitu, aku bisa berubah, kok," ucap Kirana pelan namun jelas. "Berubah?" tanya Arga, keningnya berkerut tidak mengerti. "Iya... Aku bisa berubah. Aku yang akan membuat Anda tertidur nyenyak. Bagaimana?" tantang Kirana dengan nada bicara sesantai mungkin. Argantara yang saat itu sedang mengalihkan kembali perhatiannya pada makanan di piringnya pun spontan menghentikan kegiatannya. Arga merasa tidak senang dengan pernyataan Kirana. Sorot matanya berubah menjadi tajam. Dengan gerakan cepat, pisau makan di tangan Arga kini telah berpindah posisi. Ujung pisau yang pipih dan dingin itu menyusuri pipi halus Kirana, turun perlahan melewati rahangnya, dan berakhir menekan lembut di bawah dagu gadis itu, memaksa Kirana untuk mendongak. "Membuatku tertidur nyenyak? Tidak gampang, loh. Kamu tahu resikonya sangat besar, kan?," bisik Arga dengan nada yang bisa membuat siapa pun merinding. Kirana hanya terdiam membatu. Dinginnya logam pipih itu terasa mengancam di kulit lehernya yang tipis. Dengan satu gerakan, ujung pisau itu mampu memutus kalung berlian yang melingkar di leher Kirana. Kalung mahal pemberian keluarga Zein itu jatuh terlepas ke lantai, hancur berkeping-keping. Kirana tersentak. Jantungnya bergetar tidak normal seolah ingin melompat dari tempatnya. Raut wajahnya tak lagi bisa menyembunyikan ketakutan, apalagi saat Arga membanting pisau itu ke atas meja mahoni hingga menimbulkan denting yang cukup nyaring dan mengerikan. Arga berdiri dengan kasar, tangannya berkacak di pinggang. Ia menatap Kirana dengan pandangan menghina. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, Arga berbalik dan berlalu pergi, meninggalkan ruang makan dengan langkah yang penuh amarah. "Sialan!" umpat Kirana kasar ketika sosok Arga telah menghilang di balik pintu utama. Napasnya tersengal, ia mencengkeram pinggiran meja mahoni. Amarah dan rasa takut bercampur aduk di dadanya. Tak lama setelah kepergian Arga, keheningan rumah itu kembali pecah. Kali ini oleh suara bel rumah yang berbunyi nyaring. Ting! Tong! Kirana bergegas menuju pintu depan. Ia tidak melihat satu pun pelayan yang muncul. Entah para pelayan di rumah ini memang sedang sibuk atau ini adalah cara Arga untuk menghinanya, membiarkan Kirana bertindak layaknya pelayan di rumahnya sendiri. Begitu pintu jati itu terbuka, sosok seorang wanita tua berusia sekitar 70 tahunan berdiri di sana. Meskipun rambutnya telah memutih, tubuhnya masih tampak segar dan penampilannya sangat elegan. Di belakangnya, berdiri seorang pria paruh baya yang sangat Kirana kenal. Wanita itu adalah Nek Farah, nenek dari Argantara. Sedangkan pria paruh baya di belakangnya adalah Om Juna—paman dari Karina dan Kirana, pria yang memimpin keluarga Zein yang biadab itu. Om Juna seketika terperangah ketika matanya menangkap sosok Kirana yang membukakan pintu. Gadis itu masih hidup?, batin Om Juna heran. Ia mengira bahwa yang berdiri di hadapannya adalah Karina. Kirana sendiri hanya tersenyum kecil. Ia sangat menikmati ekspresi keterkejutan dan ketakutan di wajah Om Juna. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia sedang mengumpat. Kenapa? Kau mengira aku adalah Karina yang sudah kau bunuh? Keluarga biadab! Tunggu saja pembalasanku, batin Kirana geram. Kirana tidak ingin mengambil pusing dengan Om Juna saat ini. Ia memilih untuk beralih pada Nek Farah. Ia menyalami tangan wanita tua itu dan membawanya masuk ke dalam rumah. Mereka duduk di ruang tamu. Nek Farah tampak begitu senang, wajahnya berseri-seri ketika mengetahui bahwa Karina palsu ada di rumah Argantara sepagi ini. Ini adalah bukti bahwa rencana perjodohan mereka berjalan sesuai keinginan keluarga. "Bagaimana keadaanmu, Sayang?" tanya Nek Farah dengan nada bicara yang penuh kasih sayang namun terasa palsu di telinga Kirana. "Aku baik-baik saja, Nek," jawab Kirana dengan nada santai, berusaha meniru karakter Karina yang lembut namun sedikit tertutup. Nek Farah tersenyum puas. Ia meraih tangan Kirana, membelainya perlahan. "Karina... Nenek hanya ingin memberitahu sebenarnya Arga itu menyukaimu. Hanya saja, cara dia menunjukkan rasa sayangnya memang sedikit berbeda dari pria kebanyakan. Dia sedikit keras, tapi hatinya baik. Nenek harap kamu bisa mengerti dia dan bersabar, ya," pinta Nek Farah dengan nada yang terkesan memaksa. Kirana hanya mengangguk kecil, meski ia ingin tertawa mendengar kata 'baik' disematkan pada pria yang baru saja menodongkan pisau ke lehernya. "Nenek akan segera mencari tanggal baik untuk pernikahan resmi kalian. Kita tidak ingin menunda-nunda lagi penyatuan dua keluarga besar ini," lanjut Nek Farah amtusias. Om Juna, yang sedari tadi terdiam sambil mencoba menenangkan diri, ikut menimpali. Pria menjijikkan itu memasang wajah bangga. "Om bangga padamu, Karina. Sejauh ini, kamulah satu-satunya wanita yang sanggup bertahan dan berhadapan langsung dengan Arga. Om harap kamu bisa secepatnya memberikan kami kabar gembira, mungkin seorang keturunan untuk meneruskan nama besar ini," ucap Om Juna dengan nada bicara yang membuat Kirana ingin meludahi wajahnya. "T-tapi... semalam kami berdua tidak melakukan apa pun. Tuan Arga... dia hanya memintaku tidur di kamarnya tanpa menyentuhku sedikit pun," ucapnya lirih, menambah kesan dramatis. Nek Farah tersenyum kikuk, merasa sedikit canggung. Ia segera berdiri, merasa niatnya untuk mengecek keadaan Karina palsu sudah terpenuhi. "Ya sudah, kalau begitu Nenek hanya ingin memastikan keadaanmu saja. Nenek pamit pulang dulu ya, masih banyak urusan yang harus diselesaikan," pamit Nek Farah canggung. Wanita tua itu berjalan lebih dulu meninggalkan ruang tamu, membiarkan Om Juna dan Kirana tertinggal berdua di sana selama beberapa detik. Om Juna ikut berdiri, ia mendekatkan wajahnya ke telinga Kirana dan membisikkan kata-kata yang membuat darah Kirana seketika mendidih. "Karina... dengarkan aku baik-baik. Kau harus secepatnya memikirkan cara untuk menaklukkan Arga seutuhnya. Jangan sampai dia berpaling. Ingat, posisi keluarga Zein bergantung pada pernikahan ini. Paham?" "Paham, Om," jawab Kirana sekenanya. Setelahnya Om Juna berlalu pergi mengikuti Nek Farah. Kirana masih mematung di tengah ruang tamu yang luas itu. Tangannya mengepal sangat kuat. Matanya menatap tajam ke arah pintu yang tertutup rapat. "Manusia munafik! Bisa-bisanya mereka memaksa Karina untuk menikah dengan pria psik*pat seperti Arga hanya demi nama keluarga!" desis Kirana tajam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD