Bab 1

1034 Words
Prolog: Sebulan lalu... Lampu pijar di ruangan lembab itu menyapa indera penciumanku. Menyisakan sosok yang sekarat di dalam dekapanku. Aku akhirnya menemukan kakak kembarku, Karina. Namun, pertemuan yang seharusnya penuh air mata bahagia ini berubah menjadi mimpi buruk. "Kirana... pakai... pakai gelang ini," bisik Karina. Suaranya serak, nyaris hilang tertelan sunyinya kegelapan. "Kamu bisa... keluar dari sini menggunakan identitasku." Darah segar terus mengalir dari sudut bibirnya, membasahi gaun putihnya. Aku mendekapnya lebih erat, mengabaikan rasa perih di hatiku. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang semakin melemah di bawah telapak tanganku. "Kak Karin! Kamu pasti bisa bertahan. Kita akan keluar dari sini bersama-sama!" teriakku histeris. Air mataku jatuh tanpa mampu aku kendalikan. Uhukkk! Uhukk! Tubuh Karina tersentak. Darah segar kembali muncrat keluar dari mulutnya, mengenai pipiku. Rasanya hangat, namun seketika mendinginkan seluruh jiwaku. "A-aku sudah tidak kuat lagi... Kirana," napasnya tersengal, pendek dan berat. Mata indahnya yang dulu bersinar kini mulai kehilangan cahaya. "Kalau kamu berhasil keluar dari penjara biadab ini... To-long.... tolong balaskan dendamku—" Karina tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya. Kepalanya terkulai lemas di pundakku. Ia tewas... Tewas dalam pelukanku sendiri karena kekejaman orang-orang yang seharusnya melindunginya. Dia dijebak oleh keluarga angkat kami, dan berakhir secara tragis. Kini, identitasnya ada padaku. Aku menatap jasad Karina untuk terakhir kalinya, mencium keningnya, lalu memasang gelang pemberiannya ke pergelanganku sendiri. Mulai saat ini, Kirana yang malang sudah mati bersama kakaknya. Yang tersisa hanyalah Karina yang akan menuntut balas. Aku harus mencari pelindung yang paling berkuasa di kota ini. Ya, pria itu... Argantara Julian Utomo. Pewaris paling gila yang pernah ada. Kabar yang aku dengar, semua wanita yang dijodohkan dengannya berakhir di rumah sakit jiwa dan berujung bunuh diri. Apakah aku bisa bertahan dengannya? ***** Satu Bulan Kemudian.... Kamar mewah itu tampak lengang, hanya terdengar deru mesin pendingin ruangan yang bekerja. Udara di sana terasa sejuk, namun suasana bagi Kirana tetap terasa menyesakkan, seolah oksigen di ruangan itu telah disedot habis oleh kehadiran sosok pria di sana. Kirana berdiri diam di dekat jendela besar yang menampilkan kerlip lampu kota Jakarta yang sibuk. Dengan gaun putih tulang yang menampilkan lekuk tubuhnya dengan sempurna, ia tampak begitu menawan. ​"Tuan Arga," sapa Kirana dengan suara lembut namun tegas saat mendapati pria incarannya baru saja muncul dari kamar mandi. ​Langkah kaki pria itu terhenti. Tubuh Argantara yang atletis hanya berbalut handuk putih di bagian bawah pinggangnya. Tetesan air sisa mandi masih mengalir di otot-otot dadanya yang bidang, dibiarkan terbuka tanpa sehelai benang pun. ​Arga sama sekali tidak membalas sapaan ramah itu. Ia terus berjalan dengan langkah lebar dan angkuh, mengabaika Kirana seolah gadis itu hanyalah pajangan. Namun, tepat saat ia berada di samping Kirana, gerakannya berubah seketika. Dengan tiba-tiba, pria itu mencengkeram lengan Kirana dengan kuat dan mengunci tubuh gadis itu ke tembok di belakangnya. ​Punggung Kirana membentur permukaan keras tembok kamar yang dingin. Belum sempat ia mengatur napas karena terkejut, Arga sudah merunduk, mengunci ruang geraknya. Tanpa peringatan, pria itu menyambar bibir Kirana, mencuri sebuah ciuman yang brutal, kasar, dan tanpa perasaan. Kirana bisa merasakan hembusan napas yang panas dan aroma maskulin dari sabun yang pria itu kenakan. ​Meskipun jantungnya berdegup kencang hingga terasa ingin melompat keluar, Kirana memaksa dirinya untuk tetap diam. Ia telah bersumpah untuk membuang harga dirinya demi mencapai tujuan besarnya. Jika ciuman ini adalah harga yang harus dibayar untuk masuk ke dalam hidup seorang Argantara Julian Utomo, maka ia akan memberikannya tanpa sisa. ​"Lepas bajumu!" perintah Arga. Suaranya rendah, serak, dan berbahaya, berbisik tepat di telinga Kirana hingga membuat bulu kuduk gadis itu meremang. ​Sorot matanya yang gelap menunjukkan bahwa ia tidak sedang bermain-main atau sekadar menggoda. Ada nada merendahkan dalam perintah itu, seolah Kirana hanyalah barang dagangan yang baru saja ia beli. ​Dengan tangan yang sedikit gemetar namun tetap berusaha menunjukkan ketenangan, Kirana menurunkan outer transparan yang menutupi gaun malamnya. Kain halus itu merosot perlahan, melewati bahunya, sedikit turun. Hal itu cukup untuk menunjukkan belahan dadaa rendah yang mengekspos kulit putih mulusnya. ​Namun, sebelum Kirana bisa melepaskan seluruh outernya, Arga kembali bergerak lebih agresif. Jemarinya yang panjang dan kasar mencengkeram kuat bahu Kirana, memberikan tekanan yang cukup menyakitkan sebelum perlahan naik hingga melingkar di leher jenjang gadis itu. Arga menekan leher Kirana dengan tenaga yang cukup membuat gadis itu mulai kesulitan menghirup oksigen. ​"Keluargamu telah menjualmu padaku. Kamu tahu akibatnya jika bermain-main denganku, kan?" Arga berbisik, wajahnya hanya berjarak beberapa senti, membuat Kirana bisa melihat kilat kegilaan di matanya. Senyumnya miring, tampak begitu mengintimidasi. "Artinya... MATI!" Tekanan di leher Kirana semakin menguat bersamaan dengan kalimat lanjutan yang Arga lontarkan. ​"T-tapi Tuan... jika pernikahan kita batal... aku juga akan tetap mati di tangan mereka. Tolong... Tuan—" lirih Kirana di sela sisa napasnya, suaranya terdengar serak. ​Mendengar jawaban yang tak terduga itu, Arga justru tertawa kecil. Tawa yang terdengar sangat dingin, hampa, dan jauh dari kesan bahagia. Ia melepaskan cengkeramannya secara mendadak, membuat Kirana terhuyung dan terbatuk kecil sambil menghirup udara sebanyak mungkin untuk memenuhi paru-parunya. Arga menatap lekat manik mata Kirana, mencari tantangan dibalik binar lembut mata gadis di hadapannya. ​"Baiklah. Baru kali ini aku menemukan wanita yang benar-benar berani mati sepertimu. Ingin tetap lanjut? Ayo, tunjukkan kemampuanmu!" Arga menantang, menyilangkan tangan di depan dadanya yang bidang, menunggu reaksi Kirana selanjutnya. ​Kirana tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Ia melangkah maju dengan anggun, menghapus jarak yang baru saja tercipta. Dengan gerakan yang berani dan menggoda, ia berjinjit dan membalas mencium bibir Arga terlebih dahulu. Sebuah ciuman yang singkat namun penuh dengan pesan tersembunyi. ​Arga membalas ciuman itu dengan kasar selama beberapa detik, sebelum akhirnya ia menyentak diri menjauh dengan ekspresi dingin. Ia mengambil selembar tisu dari atas meja di dekatnya, lalu dengan sengaja mengelap bibir Kirana dengan lembut. ​"Kalau kamu memang ingin aku permainkan, tetaplah tinggal di sini. Kebetulan aku juga butuh boneka baru yang menarik saat ini," ucap Argantara dingin, suaranya kembali datar seolah tak terjadi apa pun sebelumnya. ​Kirana berdiri mematung. Ia menyentuh lehernya yang terasa perih dan panas, jejak kemerahan masih terlihat jelas disana. Benar apa yang dikatakan orang-orang, pria itu bukan sekadar manusia, dia adalah psikop*t yang tak punya perasaan. ​Ini memang rencananya. Namun ia tak pernah menyangka Argantara akan segila ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD