40 | Ketakutan Yang Jadi Kenyataan

1435 Words

Terang sudah sekarang. Pandu tidak sedang di toilet bandara saat waktu itu Vania mengangkat teleponku serta rambut Pandu basah bukan karena keringat, melainkan baru selesai keramas setelah melewati malam panjang yang panas bersama Vania. Juga, kartu pengampunan sialan yang sempat membuatku terharu lantaran semudah itu Pandu menerimaku kembali setelah meninggalkannya lantaran mentalku sedang terguncang. Padahal sebenarnya Pandu hanya sedang mempersiapkan diri untuk ledakan bom ini. Aneh sekali. Apa mungkin karena belum lama ini aku mengalami puncak kesedihan yaitu saat anakku meninggal, sehingga kesedihan ini tidak ada apa-apanya. Aku sama sekali tidak bisa mengeluarkan air mata di saat seharusnya aku merayakan sakit hati memikirkan fakta bahwa suamiku tidur dengan perempuan lain. Ah, tida

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD