POV Pandu “Tunggu … Nindy … Nin …,” aku berteriak sambil mengejar bus yang melaju lambat keluar dari lapangan terminal, sembari memukul-mukul badan bus yang hanya membuat telapak tanganku sakit. Dari dalam bus, Nindy melihatku, tapi sedetik kemudian dia membuang muka dan bus malah melaju lebih cepat. “Enggak, tunggu Nin, tunggu sebentar.” Aku mempercepat gerak kakiku, masih belum menyerah menghentikan bus ini. Aku sungguh tidak ingin mencegah Nindy pergi, aku hanya ingin menunjukkan sesuatu padanya. Aku baru berhenti berlari saat aku tersandung kakiku sendiri dan jatuh di tersungkur di tengah-tengah lapangan terminal yang sepi. Aku membalik tubuhnya jadi terlentang, menatap langit yang telah meredup sembari menormalkan deru napasku yang memburu. Cukup lama aku berada di posisi ini hin

