48 | Mati Bukan Hukuman

2352 Words

“Kenapa, Nin? Ada apa?” Ibu bertanya ketika aku masih berusaha mengatasi ketercenganganku. Aku hanya emberi Ibu isyarat agar menunggu, sementara aku masuk ke kamar untuk melanjutkan telepon dengan lebih tenang. Aku menarik napas panjang. Baiklah, Pandu memang positif Covid. Oke, maksudku itu bukan hal baik tapi aku yakin Pandu akan baik-baik saja, seperti dia biasanya. Pandu masih muda, tidak ada penyakit bawaan yang mengkawatirkan, semestinya tubuhnya bisa melawan virus tersebut sebagaimana virus flu biasa, bukan? Setidaknya, itu lah yang aku sugestikan ke diriku sendiri. Namun, sekedipan mata kemudian, aku diingatkan pada realita banwa banyak pula orang berusia muda dan sehat masuk dalam daftar pasien tak selamat. “Kondisnya gimana, Kak? Ada gejala, nggak?” tanyaku masih terus berus

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD