Bagi orang dengan gengsi selangit seperti Pandu, melihatnya berlutut di depan orang lain tentu saja jadi pemandangan baru. Ada dua kemungkinan mengapa Pandu sampai berlutut, yakni memohon maaf atau memohon diberi kesempatan ke dua. Aku tidak yakin yang mana. Seolah ingin memberi aku ruang dan waktu berdua saja dengan Pandu, Ibu bilang akan pergi ke rumah Bulek Elmi, maka kini tinggal aku dan Pandu berdua di ruang tamu rumahku. “Apa kabar, Nin?” Pandu memulai, sekaligus memecah keheningan di antara kami. Aneh sekali mendengar pertanyaan itu dari keluar dari bibirnya ketika biasaya kami saling memastikan sendiri keadaan kami. “Baik,” balasku. Bagaimana? Apa kami sudah terdengar cukup asing?. “Kamu?” “Baik,” jawab Pandu tersenyum kecil. Tentu saja, jawaban apa yang diharapkan dari perta

