Nomor ponsel Pandu sudah aku buka blokirnya sejak pembicaraanku dengan Ibu seminggu lalu, tapi aku belum menghubunginya seperti janjiku. Entah lah, seperti ada sesuatu yang menahanku. Antara rasa ragu, takut, sangsi, semuanya bercampur jadi satu. Selain itu, aku menunggu barangkali Pandu akan menghubungiku. Di sisi lain, Ibu tidak menagih. Ibu bahkan tidak bertanya apa-apa lagi ssetelah keesokan harinya aku kembali menjelaskan bahwa tidak adil jika menyalahkan Pandu seorang. Sebagai orang yang melahirkan aku, Ibu sempat menolak mengakui bahwa ada sisi diriku yang tercela. Menurut Ibu, tetap salah Pandu karena sebaga suami, dia tidak bisa mengemban tanggung jawabnya dalam membina pernikahan kami. Kami berdebat cukup lama setelah aku menjelaskan bahwa sebagai istri, aku pun punya tanggung

