Keesokan hari, sekitar pukul tujuh malam, usai suamiku kembali dari pekerjaannya di kota. Kami salat magrib berjamaah dan menikmati makan malam. "Mari kita ke rumah Hamdan," ucapnya ketika aku membereskan piring ke wastafel. Dia pun ikut membantu ku mengangkut piring-piring itu ke tempat cuci piring dan membersihkan meja. "Ngapain?" "Membicarakan harta harta yang dia inginkan," balas suamiku pelan, tapi nadanya tegas. "Lagi dia tidak membahasnya kurasa aku pun tidak perlu ikut membahasnya." "Tapi pria itu bisa mengungkit kapanpun dan membuat ketenangan kita terusikkan. Lebih baik kita selesaikan dari awal sehingga tidak ada lagi peluang untuk menuntut, sehingga aku dan kamu pun bahagia dengan cita-cita dan program hidup kita." "Mas Hamdan tentu akan merasa bahwa kamu yang menghasut

