"mengapa dia marah, Mas?" "Seperti yang kamu dengar," jawab suamiku menghela napasnya. "Aku tidak mendengar dengan jelas," balasku bersandiwara. "Dia minta uang jajan untuk Icha, aku pun lupa mengirimnya kemarin," jawab Mas Irsyad sembari merebahkan badan. "Kemarin bukannya dia datang, kenapa tidak langsung mengingatkan? apakah dia marah karena sikap kita waktu itu?" "Tidak tahu, tapi aku akan segera mengirimkan uangnya," jawab Mas Irsyad. "Berapa buang jajan Icha." "Sejuta seminggu." Ah, lumayan besar juga rupanya, tapi insya Allah kami masih bisa menanganinya. Mas Irsyad juga punya lestoran dan akupun juga punya tabungan jadi kita bisa saling meringankan tentang uang belanja anak-anak. "Aku akan dengan senang hati membantumu jika kau kesulitan Mas," ujarku dengan tulus. "Tidak,

