Sepulang kerja aku sempatkan untuk mampir ke toko kue dan roti, membelikan hadiah manis bagi istri termanis yang sedang sibuk di rumah mengurus putra kami. Aku tahu Imelda sangat kelelahan mengurusi balita montok yang bobot tubuh dan keinginan makannya semakin bertambah-tambah semakin hari. Istriku yang penyabar dan penuh perhatian itu tidak pernah terlihat mengeluh atau menunjukkan kelelahannya sama sekali. Mungkin secara agama aku adalah suami yang harus dihargai, tapi secara teknis Imelda lebih tinggi statusnya dalam hal materi dan kehormatan dibandingkan denganku. Dia istriku sekaligus bos dan atasanku. Dia yang menyetir segala kepentingan yang ada di perusahaan dan bagaimana cara kami mengelolanya, sementara dia sibuk sebagai seorang istri dan ibu yang berbahagia dengan putra pertam

