"Berikan berkasnya," pintaku sambil mengulurkan tangan. "Ini dia," ucap wanita yang sudah melepas blazernya, menyisakan manset bagian dalam yah membentuk lekuk tubuh langsingnya. Sebenarnya aku tak nyaman melihat pemandangan itu. Kutundukkan diri dan mata untuk menjaga perasaan Imelda. "Ah, terima kasih Pak." Mia tersenyum lalu mengambil kembali berkas yang sudah kutanda tangani. Dia memeriksanya dan nampak puas, lalu duduk di sofa sambil memperhatikan bayi kami. "Anak Ibu Imelda nampak tampan sekali, dia terlihat menggemaskan saat tertidur pulas seperti itu," gumamnya sambil membelai pipi anak kami. "Akhirnya punya anak juga, aku lega, itu adalah anugerah yang sangat-sangat aku syukuri," balas istriku sambil melirik mesra padaku. "Syukurlah Bu, karena beberapa orang masih galau mena

