"Ada apa aish? Mengapa tiba tiba kau mengetuk pintu di tengah malam?" tanyanya sambil mendekatiku. "Tidak tahu." Ah, bodoh sekali aku, mengapa aku harus menjawab tidak tahu, huh! "Mengapa wajah dan rambut itu tergerai tanpa jilbab, kau sangat cantik, sehingga aku khawatir akan merindukanmu," bisiknya. "Suasana malam ini sepi dan syahdu, seharusnya kuhabiskan kesedihan ini dengan seseorang yang kucintai tapi sudahlah," ujarnya dengan senyum yang kuyakin dibungkus luka. "Aku ... hanya ingin memastikan kau baik baik saja, Mas, maaf," jawabku yang tiba tiba malu pada diri sendiri. Aku memang rindu dan ingin b******a dengannya, tapi aku masih malu pada Tuhan. Aku hendak pergi. "Terima kasih Aish, kau yang terbaik," ucapnya sambil menyentuh pipi bawahku. Hangat tangannya menjalari dan bena

