Pemakaman

808 Words
Mia masih terpana mendengar permintaanku padanya, mungkin dia tak percaya apa yang dia dengar, bahwa aku memintanya untuk memberi tahu suamiku bahwa aku telah meninggal. "Bu, Ibu direktur jangan melantur, fokus dulu pada kesembuhan Ibu, sungguh suatu keajaiban bisa menemukan ibu dalam keadaan hidup," ujarnya dengan nada prihatin. "Suamiku belum datang hingga saat ini," tanyaku. "Iya, Bu, sejak semalam saya mengubunginya namun Pak Randy tak kunjung mengaktifkan ponselnya." "Ya Tuhan apakah dia sama sekali tdak mengkhawatirkanku atau minimal ia tak mencariku? Tega sekali dia." Aku membatin sembari menahan kesedihan. "Siapa saja yang sudah mengetahui masalah kecelakaan saya, Mia," sambungku bertanya. "Baru saya dan Pak Bastian," jawabnya. "Rahasiakan ini dari semua orang." "Tapi kenapa Bu, apa yang Anda rencanakan, jika ibu meninggal, tentu kondisi perusaahan akan mendadak tidak stabil, keadaan akan terguncang bahkan juga berpengaruh terhadap saham." "Saya akan handle semuanya dari jauh," imbuhku, "kamu jangan khawatir, lakukan seperti yang saya minta." "Saya pasti akan lakukan yang Ibu inginkan, namun saya ingin tahu alasannya, lagi pula memalsukan kematian adalah perkara yang tidak mudah Bu." "Yang pertama, rahasiakan semuanya dari semua orang, yang kedua panggil Pak Bastian, saya ingin dia mengurus pada pengacara, dan kuasa hukum perusahaan saya untuk membuatkan surat wasiat yang isinya menyerahkan tanggung jawab perusahaan pada pak Bastian sementara waktu, sedangkan Pak Randy masih di posisinya semula sebagai GM perusahaan, semua poin poin penting yang menyangkut kebijakan dan keputusan bisa diambil alih oleh pak Bastian. Dan kamu Mia, sebagai tangan kanan saya.Kamu juga bertugas mengawasi tiap gerak gerik suami saya." "Tentang upacara pemakaman? Akan janggal kalo upacara tidak diadakan Bu, apakah ibu akan pura pura jadi jenazah yang harus dikuburkan?" "Kau bisa urus pemulasaran jenazah terlantar, minta seseorang yang punya koneksi dengan hal ini, bayar mereka berapa pun!" "Nanti Pak Randy pasti ingin memastikan kondisi Ibu," ujarnya ragu. "Cari jenazah yang sudah hangus atau hancur wajahnya akibat kecelakaan," jawabku. "Astaga, Bu." Mia benar benar pias mendengar perintahku. * Surat menyurat dari Pak Bastian sudah kutanda-tangani, surat kuasa menangani perusahaan, kuasa pengelolaan keuangan hingga detail-detailnya kuserahkan pada beliau. Serta beberapa urusan yang terkait denganku segera kuselesaikan, agar nanti tidak menimbulkan kejanggalan. Keesokan harinya adalah hari yang direncanakan untuk pemakamanku. Aku sejak pagi telah meninggalkan rumah sakit dan kini memantau dari mobil lain dengan supir pribadi perusahaan. Terlihat iringan mobil Mas Randy dan beberapa keluargaku dan keluarganya datang untuk menjemput peti mati berisi aku yang palsu. Beberapa dari mereka terlihat sedih dan beberapa yang lain terlihat biasa biasa saja. Suamiku terlihat juga biasa-biasa saja, malah sempat tersenyum ke beberapa petugas medis. Apakah dia tidak sedih? Terlihat ia menelepon seseorang dengan nada yang dia pelankan, mulut sedikit ditutupi dan jaraknya sengaja menjauh dari orang banyak. Siapa yang dia hubungi. Di rumah, di tempat jenazah disemayamkan aku ada di sana menyimak tingkah laku suami dan beberapaa orang yang kucurigai mendukungnya, aku menyamarkan penampilan dengan baju gamis panjang dan jilbab yang menjuntai serta cadar, kuambil tempat duduk paling jauh yang tersamar dengan pohon mangga. Mas Randy terlihat begitu sedih ketika keluargaku menyalaminya untuk berbela sungkawa namun beberapa saat kemudian ia terlihat tersenyum dengan beberapa temannya. Sebuah mobil memasuki pekarangan, dan menyela di antara para pelayat, aku heran mobil siapa yang masuk hingga ke depan pintu utama, padahal mobil mobil lain tidak seperti itu. Ketika pintu Alphard tersebut terbuka lebar seorang wanita dengan gamis berwarna tosca, kerudung simple di kepala serta kacamata hitam turun, tahulah aku jika itu Eleanor. Tapi apa yang dia lakukan di sini? Apakah dia kan ikut berkabung atau hendak merayakan kemenangannya atas takdir, kematianku bisa jadi berupa batu loncatan untuk mereka melanjutkan hubungan dan menguasai perusahaan. Untungnya aku telah memilih Pak Bastian untuk menangani korporasi maka setelah ini, Jika mereka sungguh serakah, aku akan menyimak dari jauh sepak terjang mereka di Subroto grup. Lalu baru akan kutentukan langkahku. Tring .... [Ibu, ini Mia, beberapa anggota polisi dan tim investigasi mengangkat mobil ibu dari sungai, dan mereka melakukan penyelidikan, Ibu pasti akan terkejut tahu jika ini kemungkinan kecelakaan yang direkayasa] [Maksudmu ... Seseorang ingin aku celaka?] [Bisa jadi, kita harus ke kantor polisi] [Baik, tunggu pemakaman selesai ya] [Siap,Bu] * Mobil iring-iringan jenazah memasuki Al-Jannah memorial garden, pemakaman khusus kelas atas dengan lokasi di atas bukit yang hijau dengan beberapa fasilitas penunjang yang membuat lokasi pemakaman ini dihargai sangat mahal. Sekelas pemakaman artis dan pejabat terkenal Setelah beberapa ucapan bela sungkawa dan permintaan maaf atas nama keluarga, peti mati itu diturunkan ke liang lahat kemudian beberapa orang bekerja menutup kembali lubang. Setelah proses penguburan selesai, suamiku mendekat, menyentuh nisan tersebut pelan, lalu menaburkan bunga, sesaat kemudian ia terlihat menunduk sedih. Eleanor datang menghampiri dan duduk di samping suamiku bersimpuh ia menyentuh bahu Mas Randy lalu detik kemudian tangan laknatnya menyeka air mata suamiku yang meleleh. Sedang Mas Randy diam saja di perlakukan seperti itu tanpa menimbang rasa malu terhadap keluarga dan kolegaku. Luar biasa, aktingnya, dari kejauhan aku ingin muntah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD