Kubanting pintu ruanganku dengan keras sambil menahan emosi yang memburu, kuhampiri dispenser lalu menuangkan segelas air dan kuteguk segera.
"Sial sekali, ia sampai mencariku ke kantor, untung saja Eleanor tak membuat keributan di loby, kalo tidak semuanya bisa kacau, aku akan menjadi pusat perhatian, dan iitu akan berpengaruh besar pada nama perusahaan," batinku.
"Aku harap setelah pukulanku barusan, dia tak akan berani lagi untuk mendatangi tempat ini, dan mencariku, tidak tahu malu sekali dia."
Tok ... Tok ....
Tiba-tiba ketukan di pintu menyentakkan lamunanku. Mas Randy masuk sedetik kemudian dan langsung menghampiriku.
"Kudengar kau menemui seorang tamu dan menamparnya, apa yang terjadi?"
Wow, kilat, cepat sekali Mas Randy mengetahui semuanya.
"Siapa yang memberi-tahumu?"
"Uhm ...." Ia terlihat ragu.
"Suasana di loby sedang sepi karena saat ini adalah jam kerja, hanya petugas resepsionis dan bagian informasi saja, lantas dari mana kamu tahu, Apakah seseorang memberi tahu," cecarku.
"Ah, anu, aku melihatnya tadi dari lantai atas," katanya gelagapan.
"Berarti kau tahu siapa wanita yang aku tampar," desakku.
"Eng-enggak, aku gak kenal, siapa itu?" Ia pura-pura tidak tahu, inkonsisten.
"Aku juga gak tahu," jawabku.
"Apa yang dia inginkan?"
"Kami penasaran sekali, Mas, ada apa?" bentakku, "ini jam kerja, silakan lanjutkan tugas Mas, alih-alih datang dan bertanya hal yang tidak penting."
"Maaf, aku hanya ingin kamu mengendalikan diri,Sayang."
"Mengendalikan diri katamu?" Berani sekali dia memintaku mengendalikan diri.
"Sepertinya kamu kenal wanita itu, iya kan!"
"Tidak."
"Jangan bohong, Mas Randy!"
"Jangan berteriak, Imelda, meski ini kantormu,aku bisa malu, aku suamimu, jangan lupa itu." Ia mulai menekanku.
Mungkin aku akan terkesiap dengan teriakannya, tapi aku sudah muak untuk memberinya kehormatan seorang imam dan pemimpin keluarga.
"Kamu buru-buru mendatangiku untuk bertengkar?"
"Terserah kau saja Imelda!" Ia membanting pintu lalu menjauhiku.
Sial, mungkin wanita itu menelepon suamiku, kubayangkan jika ia menangis sesenggukan dan memohon perlindungan Mas Randy . Benar-benar licik, atau ... Mungkin saja ia sengaja datang untuk memancing kemarahanku lalu memberi tahu Mas Randy jika temperamenku begitu buruk.
Aku telah memkan umpan yang dia berikan, namun masa bodoh! Aku sudah muak.
Pukul 16:12
Waktu telah beranjak sore, ketika aku memutuskan untuk pulang dari kantor.
Kupacu mobil dengan kecepatan sedang di jalan tlayang yang dibawahnya pemandangan sungai membentang luas.
Tring ...
Ponselku berbunyi, kutekan tombol handsfree di kemudi dan pangilan langsung terhubung padaku.
"Halo," kataku.
"Mas Randy pasti marah banget mendengar kelakuanmu pada wanita yang dia cintai," katanya sesumbar.
"Oh ya, pede sekali kamu, jangan-jangan kami pun hanya pelampiasan suamiku," ejekku balik.
"Jangan kurang ajar, Imelda!" jeritnya di seberang sana.
"Yang lebih dulu menghubungi saya siapa?"
Tut ... Tut ... panggilan terputus.
Kuhempas setir dengan lengan sendiri, kesal dan gemas pada Eleanor, wanita yag telah mencuri suami da nmerenggut kebahagiaanku, ia bahkan menghapus senyum tulus dari bibirku untuk Mas Randy, Benci! Aku benci padanya!
Kuinjak pedal gas dengan cepat agar aku segera sampai dan beristirahat di rumah, namun ketika hendak mengurangi kecepatan karena ada sebuah mobil Van berisi anak-anak yang berkendara lambat tepat di depan Jaguarku, maka aku ingin melambatkan laju mobilku.
Namun Aku gagal, mobilku tetap terpacu pada kecepatan 70 KM per jam, suasana jalan tol yang semakin ramai dan menyempit mendekati ujung jembatan membuatku panik, kuinjak pedal rem sekuat tenaga, namun mobilku semakin melaju kencang, bahkan lebih kencang dari sebelumnya, aku harus melakukan sesuatu sebelum aku menabrak truk tangki bertuliskan Gas cair, dan meledakkan seluruh mobil yang berada di radius satu kilometer dari posisiku saat ini.
Kubanting stir hingga menabrak pembatas, mobilku melayang beberapa detik dan selanjutnya tercebur ke sungai yang kedalamannya sekitar sepuluh hingga 15 meter.
Aku sempat terkesiap lalu setelah kusadari aku kini tenggelam dan air perlahan merembes, aku panik, tapi berteriak bukan solusi, maka sekuat tenaga aku berusaha membuka pintu mobil.
Handle pintu macet dan terasa berat untuk dibuka karena tekanan air dan arus sungai.
Kini air itu menggenangi hingga ke lututku dan aku mulai panik.
"Ya Allah, Aku akan mati tenggelam," jeritku dalam hati.
Aku terus menggebrak-gebrak kaca mobil dengan keras, kubuka dashboard dan berusaha mencari apa aja yang bisa kugunakan untuk memecahkan kaca mobil ini.
Kutemukan sebuah kunci Inggris di dalam laci, dan segera saja kuhunjamkan ke jendela mobilku,
Prak ....
Air segera masuk dengan derasnya dan mendorongku semakin kuat sehingga aku kesulitan untuk keluar dari mobil ini. Kini mobil ini telah sepenuhnya terisi air dan aku mengambang setengah sadar di dalamnya, dalam keadaan mulai kehabisan napas dan tenaga akau hanya mampu menyebut nama Allah.
"Allah, Allah ampuni aku ya Allah, aku telah ridho pada ketentuanmu," bisikku sambil memasrahkan tubuh ini melayang lalu semuanya menggelap.
**
Tit ... Tit ...
Kubuka mata dengan sekuat tenaga, kusadari diriku kini berada di sebuah ruang dengann bunyi monitor dari ventilator, selang infus tertancap di lengan kiri, dan aku telah diselimuti rapi.
Ya, ini rumah sakit.
"Alhamdulillah, Bu, anda akhirnya sadar.". Mia tiba tiba datang dari balik pintu dan langsung menghambur ke brankarku.
"Aku ... Masih hidup, Mia?"
"Iya, Bu."
"Suamiku ... Dia sudah tahu,?"
"Kami sudah kabarkan tapi ponsel Pak Randy tidak aktif sejak kemarin," jawabnya.
"Katakan padanya, kalo.sayaeninggal dunia," pintaku.
"Apa?"
"Lakukan sesuai permintaan saya, Mia."