Masih gamang memikirkan apa yang harus aku lakukan pada Mas Randy, apakah aku harus meninggalkannya atau aku harus bagaimana?
Jujur bukan perceraian ujung yang aku inginkan dari rumah tanggaku, aku masih mencintainya namun terlampau perih jiwa ini tersakiti. Aku sungguh merindukan semua sisi indah tentangnya, pengabdian dan kesetiaan yang kubangun selama ini dihancurkan dengan mudah, ibarat perselingkuhannya adalah palu godam yang memukul kaca hingga luluh lantak berkeping-keping.
**
Aku telah siap mengenakan pakaian kantor dan sedang memakai sepatu ketika ia menghampiri dan duduk di sebelahku, sofa khusus wardrobe kamar utama.
"Bantu aku mengenakan dasi," pintanya.
Aku segera bangkit dan memasangkan dasi merah di kerah kemejanya sedang suamiku menatap lekat sambil sesekali tersenyum.
"Bagaimana penampilanku Sayang?" tanyanya
"Bagus."
"Sayang ...." Ia merangkulku dari belakang seusai aku mengenakan dasinya, pantulan kami di cermin meja rias terlihat indah meski kenyataan sebenarnya, membuatku menyesal sendiri.
"Ada apa, Mas," tanyaku sambil meraih kotak perhiasan mengenakan anting-anting.
"Izinkan aku, mengelola perusahaan seperti semula, Sayang. Aku janji, aku akan bekerja sebaik mungkin." Ia berkata sambil mencium bahuku.
"Maksudmu bagaimana, Mas?"
"Biarkan aku mengambil kebijakan seperti dulu, biarkan aku sendiri yang membuat keputusan terkait hal hal penting."
"Ada dewan direksi, ada aku sebagai direktur, ada Pak Bastian sebagai wakil direktur, semua punya tugas masing-masing.".
.
"Tapi ... aku suamimu, orang terdekat denganku, aku jamin tidak akan menjerumuskan bisnismu ke dalam kerugian, Sayang," bujuknya lembut.
Kutepis pelukannya sekali lagi lalu meraih sepatu dan tas sambil berkata, "aku tunggu di bawah, Mas, kita sarapan bersama."
"Imel, tapi aku belum selesai bicara," bantahnya.
"Aku tidak ingin bicara lagi."
"Imel, kalo ada apa-apa ... aku ingin semunya tetap aman di tangan yang tepat." Nada bicaranya meninggi.
"Memangnya apa yang akan terjadi?"
Hening seketika.
"Sudahlah, fokus saja pada tugas Mas sebagai general manager, jika tiba waktunya Mas juga akan dipromosikan," kataku pelan lalu keluar dan menuruni anak tangga.
*
Suamiku terlihat tidak senang karena aku tidak meluluskan permintaannya untuk mengbil alih dan memberinya wewenang penuh.
Terbukti sepanjang waktu sarapan ia hanya diam saja tidak banyak bicara.
"Kita berangkat bareng?" tanyaku.
"Gak usah. Aku ada urusan," jawabnya dengan ketus.
Kekanak-kanakan sekali.
"Jika kamu tidak mengizinkan aku mengambil kebijakan lagi, sebaiknya aku menjadi staf biasa atau bila perlu aku resign," cetusnya dengan nada kecewa.
"Gak masalah, terserah Mas saja."
Sontak ia terperanjat dan terkejut bukan main mendengar jawabanku yang cuek dan dingin saja.
"Kamu gak merasa rugi, aku termasuk pegawai yang kompeten di bidangku," sanggahnya.
"Ya, kalo keinginan Mas mau resign, ya terserah, perusahaan tidak meminta karyawan untuk bekerja dengan terpaksa."
Ia membuang napas kasar mendengar ucapanku yang tak kalah ketus darinya.
"Memangnya kamu punya kandidat tepat untuk menggantikan aku?" desaknya lagi.
"Banyak, termasuk Mia."
"Mia ...," desisnya menggeleng tak suka.
"Tapi kurasa ia kurang mumpuni," tolaknya.
"Jadi siapa? setidaknya aku tahu Mia tak akan mengkhianantiku.
Mendengar itu Mas Randy langsung terbatuk-batuk hingga panik meraih tissu dan menyeka bibirnya.
"Baik, sampai jumpa di kantor,"katanya sambil meraih tasnya lalu berlalu dari hadapanku.
Tidak ada kecup mesra di pipi, rangkulan hangat, dan kata-kata lembut menenangkan. Sekarang, segala yang terjadi di rumah ini hanya tentang bisnis dan perputaran uang saja.
**
Siang pukul 11:23
Ketukan pintu terdengar di ruanganku dan segera kupersilakan yang mengetuk untuk masuk.
"Ya, Mia, ada apa?"
"Ini Bu, ada pemberitahuan dari loby utama jika Ibu memiliki tamu," jawab asisten pribadiku itu.
"Siapa? Kurasa aku tak punya janji hari ini, Mia."
"Namun, wanita itu memaksa," lanjut Mia.
"Memaksa?"
"Iya, namanya ... Sebentar," Mia terlihat membuka kertas kecil yang dia bawa, "Eleanor, Bu."
Tanpa menjawab Mia aku segera bangkit, keluar ruangan, menuju loby utama menuruni tangga dan mencarinya, wanita itu, wanita simpanan suamiku.
"Apa yang dia lakukan di sini? Apa dia akan membuat kekacauan?" batinku.
"Apa maksudmu mencariku di kantor ini?" cecarku seketika ketika aku menemukannya duduk santai di sofa sudut ruang loby utama yang berdekatan dengan dinding kaca yang menghubungkan pemandangan di depan sana.
"Ah, Fransiska Imelda Subroto, kamu sesumbar sekali, ya?" jawabnya dengan nada tenang dan elegan sekali. Duduk santai dengan kacamata merk Dior bertengger di wajahnya.
"Jangan basa basi, langsung saja, apa maumu?" Aku berbicara sambil berdiri saja, aku enggan untuk duduk semeja dengannya.
"Lepaskan Mas Randy," katanya sambil melepas kaca mata yang ia kenakan.
"Maksudmu, lepaskan bagaimana?"
"Imelda, pernikahan uang kamu jalani ini hanya formalitas saja, kan?"
"Aku gak ngerti, jangan bertele-tele!" sentakku.
"Baik, aku akan bicara gamblang, kalo kamu gak bisa melahirkan putra buat Mas Randy maka aku dengan senang hati akan mengandung anaknya," jawabnya dengan senyum lebar.
"Kurasa kau benar-benar gila, sebab jika wanita yang masih waras akan berfikir dua kali untuk datang ke perusaan milik seorang wanita lalu meminta suaminya, sepertinya kamu ingin dikeroyok security."
"Kurasa kamu pun akan berfikir dua kali untuk menganiaya calon istri suamimu, di perusahaanku, karyawanmu akan melihat semua itu, sayang sekali wanita hebat sepertimu, mandul dan tidak bahagia, hehehe," katanya sambil menyeringai sinis.
Plak!
Kutampar wajahnya hingga anting-antingnya terlepas dan jatuh meluncur keras di ubin marmer kantorku.
"Keterlaluan," desisku.
"Kamu begitu putus asa kan, hingga hanya mampu memukul orang lain, kamu tahu kan, kamu sudah tidak bisa lagi mempertahankan dia," ejeknya sambil memegangi wajahnya yang memerah oleh gambar tanganku.
"Kamu bisa keluar sendiri atau kupanggil security untuk mengantarmu keluar."
"Akan kutunjukkan pada mas Randy kekejianmu," ancamnya.
"Silakan." Aku aku tak acuh saja sambil berlalu.
"Aku tak peduli, Suamiku sudah tak berharga bagiku." Begitu batinku.