*
Lantunan adzan mengalun indah dan menyadarkanku dari tidur, kusibak selimut lalu bangkit perlahan mengusap wajah dengan kedua belah tangan lalu membaca doa, semoga hari ini bisa kulalui dengan mudah.
Kulirik suamiku masih terlelap dengan pulas, memandangnya tidur membuatku gamang, entah kenapa tiba-tiba ada rasa hampa dan rindu yang bergelayut tanpa tahu pada siapa semua rasa itu akan berlabuh.
Maka aku segera bangkit menuju kamar mandi membuka keran air lalu mulai membasuh anggota wudhu, kemudian kuhamparkan sajadah, bersujud memohon ampun pada Yang Kuasa.
"Ya Allah, telah begitu jauh hamba darimu, telah begitu banyak kelalaian yang hamba lakukan hingga lupa pada Hak-Mu sebagai Sang Pencipta alam raya, aku telah tersesat jauh ya Allah, hamba buta dan dibutakan kepentingan, ampunilah hamba ya Allah."
Begitu doa yang kupanjatkan sembari terus merafaljan istigfar dan menyebut nama Allah.
Kutumpahkan segala keluh kesah dan kesedihan, aku memohon petunjuk kemana arah rumah tangga ini akan bermuara, apakah kau harus bertahan pada cobaan atau memilih berpisah saja.
Mungkin aku terlihat tangguh padahal sesungguhnya aku juga punya sisi rapuh yang dimiliki wanita pada umumnya, hanya saja telah kering air mata ini untuk selalu menangis dan meratap pada ketidak-setiaan Mas Randy.
"Bagaimana bisa suamiku, yang aku cintai dan kubanggakan mengkhianantiku sejauh ini, aku masih tak percaya,Tuhan," bisikku pelan.
"Imel ... Imelda," panggil Mas Randy di pembaringan.
Aku segera bangkit dan menghampirinya. Melihatku mendekat mengggunakan mukena membuatnya terperangah seketika sembari mengucek-ucek matanya.
"Kamu shalat ...."
"Iya, Mas," jawabku lirih sambil duduk di sampingnya.
Ia beringsut mengikis jaraknya lalu merangkul pinggangku sambil membenamkan wajah di pangkuanku.
"Aku minta maaf, sudah menyakitimu dan menurutmu banyak, Sayang," katanya pelan.
Aku hanya mendesah lemah mendengar ucapannya.
"Tapi ... Tumben sekalia shalat," ujarnya.
"Aku masih seorang muslimah, Mas, masih ingat Tuhan. Lagipula sudah lama sekalia aku tak menjumpai Tuhan untuk memanjatkan doa, kurasa memang aku harus mendekatkan diri di antara peliknya hidup ini."
"Pelik bagaimana?" tanyanya.
"Ah, sudahlah, lupakan saja, ayo bangun karena kita harus ke kantor."
Ketika aku bangkit suamiku malah menarik pinggangku hingga aku terjatuh di sampingnya, ia tak melewatkan kesempatan untuk segera memelukku dan menciumi wajahku.
"Imel, aku rindu," bisiknya di telingaku sambil tangannya mulai bergerilya dibalik telekung yang aku kenakan.
"Maaf, Mas, aku lagi sakit perut dan punggung, lain kali saja ya," tolakku lembut seraya bangkit lalu melepas mukena dan menuju ke dapur untuk menyiapkan sarapan.
"Mandilah, aku akan siapkan sarapan kesukaanmu, Mas," suruhku.
"Kenapa ga nyuruh asisten aja yang masak, aku ingin bermanja denganmu," desahnya sambil menerawang ke langit-langit kamar.
"Mas tahu sendiri dari dulu aku lebih suka menyantap masakan sendiri," jawabku sambil beranjak meninggalkannya yang masih menggerutu kesal karena penolakanku.
Aku tahu sejatinya wanita muslimah yang beriman tak boleh menolak hasrat suaminya meski wanita itu telah naik di atas kendaraan dan hendak menuju medan perang.
Namun luka yang ia torehkan telah menimbulkan rasa sakit dan benci yang mendalam di dalam hatiku. Andai ia tak melakukan itu aku pasti akan melayaninya meski itu berkali-kali, walau aku dalam keadaan sakit.
Benar begitu, bukan?