*
"Aku makin gak ngerti, apa sebenarnya yang ada di benakmu Imel, apa yang kamu rencanakan, kamu merombak semuanya, dan kini kamu malah memangkas gajiku, meski aku suamimu perbuatan itu tidak adil dan tidak manusiawi," katanya sambil menghempaskan diri di sofa dekatku sambil memijit-mijit keningnya.
"Mas, kok, pulang-pulang marah, sih?" ucapku pura pura tidak tahu.
Ia menggeleng sambil mengacak rambutnya frustrasi, banyak hal yang mungkin tidak ia mengerti. Banyak hal yang tidak disadarinya sudah bocor padaku. Kini aku harus sabar dan menunggu, untuk melaju ke langkah berikutnya.
"Mas, mau makan?" tawarku.
"Gak aku gak selera."
"Aku bikinin kopi, mau?"
"Gak usah," jawabnya sambil masih menerawang dengan gamang.
"Kamu marah?" tanyaku pelan.
"Iya, tentu saja, ini tidak adil, lagi pula untuk apa kamu harus memangkas setengah gaji yang kurasa bagimu sangat kecil itu bahkan untuk biaya salon," tudingnya sambil menunjuk penampilan dan rambut baruku.
"Lho, aku berubah demi membahagiakan Mas," jawabku pura-pura polos.
"Halah, Imelda, makin kesini makin aku gak ngerti jalan pikiran kamu."
Itu yang aku inginkan, tak seorang pun yang bisa menebak apa yang aku pikirkan dan rencanakan.
Ia bangkit lalu melangkah menuju dapur mengambil segelas air sambil menggumam, "Untuk apa coba memotong rambut, berpenampilan seksi, toh aku juga udah tahu aslinya luar dan dalam."
"Meski begitu, penting juga untuk memberi suasana dan nuansa baru dalam hubungan kita."
"Hubungan ... Iya, ya, hubungan, pernikahan kita," desisnya sambil meneguk air.
"Mas Randy, Mas gak suka kalau istrimu terlihat cantik, Mas," tanyaku.
"Bukan gak suka, aku hanya merasa kamu bukan dirimu lagi," jawabnya gamang.
Memang bukan lagi!
"Oh ya, apa rencanamu besok?" Tanyanya tiba-tiba dengan antusias.
"Belum tahu," jawabku.
"Asistenmu belum mengirim jadwalmu untuk besok lewat email?"
"Aku belum periksa, Mas."
"Aku ingin kita piknik saja, kalo kamu gak sibuk," jawabnya sambil mulai menyendokkan makanan ke piringnya.
Wah, tumben sekali dia. Apa yang dia inginkan dibalik rencana mengajakku piknik?
"Memangnya kita mau ke mana?"
"Ke tempat yang indah, entah itu pegunungan, atau lokasi camping yang berdekatan dengan hutan pinus dan danau yag indah."
"Tapi kita sibuk ...."
"Kita butuh waktu berdua untuk bisa menghasilkan ... ehm, maksudku agar impian kita punya anak segera terealisasi."
Hmm, lagi-lagi seperti itu, selalu anak yang akan dia jadikan alasan untuk mendapatkan keinginannya, untuk menyalahkan atau untuk mengkambing-hitamkan.
"Bagaimana jika aku membatalkan saja program itu?'
"Apa?!"
Ia terpana mendengarku hingga tak sadar sendok terlepas dari tangannya dan berdentingan ke lantai.
"A-apa maksudmu, apakah kamu sudah menyerah?" tanyanya dengan mimik serius.
"Enggak, aku gak nyerah, aku hanya ingin membebaskan diriku dari tekanan pikiran sendiri, ingin lepas dan menikmati jiwa bebas, karena kurasa ... aku sudah terlalu banyak berjuang dan sakit demi bayi."
"Kita belum maksimal, Imelda," keluhnya tanpa melanjutkan lagi makannya..
"Belum memaksimalkan apanya, Mas? Aku sudah begitu lelah, aku kesakitan, aku lesu dan lemas karena pengaruh hormon, bisakah kamu membebaskanku dari obsesimu tentang bayi, apa tujuanmu?!" teriakku muak.
"Apa maksudmu mengatakan bahwa aku menginginkan anak demi tujuan terselubung," bantahnya tak kalah sengit. Bahkan saking kesalnya ia sampai bangun dari duduknya.
"Dengan cara kamu menekan dan memaksa, aku sudah stress dan depresi, Mas. terlebih lagi sejauh ini aku selalu gagal, pernahkah Mas memikirkan dampak emosional dari wanita yang belum kunjung hamil?"
Mataku mulai memanas dan tak tahan untuk tak menitikkan bulir bulir kekecewaanku.
"Aku hanya ingin kamu mendukungku, menyayangiku dan selalu ada di dekatku," lanjutku.
" ... ini terlalu berat untuk kutanggung karena posisiku adalah seorang istri, jika selama pernikahan pasangan belum kunjung memiliki bayi, maka sang istri yang pertama kali ditanyakan apa masalahnya?"
"Jangan terlalu mendramatisir Imelda," bentaknya.
"Kamu juga terlalu banyak menuntut," balasku.
"Wajar, aku suamimu."
"Tak pantas juga, lantaran aku belum memenuhi keinginanmu lalu kamu berbuat sekehendak hatimu ... Itu tidak adil."
"Apanya yang tidak adil? Aku bekerja dan Kembali ke rumah, lalu bekerja lagi dan seperti itu tiap hari, apa yang harus aku lakukan, apakah karena aku miskin dan tidak berguna kini kamu telah menjelma menjadi istri yang memiliki semua superioritas?"
Dia pikir, aku tak tahu perbuatannya, ia berkata dengan nada sedih seolah olah dia pria yag tidak bersalah dan terzholimi oleh tingkah istrinya, luar biasa aktingnya, Memuakkan.
Ingin ku'gaplok' kepalanya dengan loyang kaca berisi ayam panas itu, agar ia merasakan sedikit panasnya disakiti.
Menyebalkan, apa lagi yang ia rencanakan selain menjadikan bayi itu sebagai pewaris Subroto grup? Apakah murni demi buah cinta saja, alasan klasik!