Entahlah, seperti keheningan senja ini, seperti kebisuan sudut-sudut apartemen yang kini seolah-olah menatap iba, aku masih merenungi sekian dari rangkaian peristiwa yang terjadi dalam hidup ini. Apakah ini Tuhan sedang bercanda padaku ataukah aku yang memilih untuk membuat segalanya menjadi lebih rumit.
Sebenarnya aku bisa kembali ke rumah kapanpun aku mau, namun, sungguh aku ingin tahu apa saja yang dilakukan suamiku selama aku tidak ada. Apakah ia akan menjaga kehormatan dirinya dan nama baikku ataukah ia semakin rusak dan merusak segalanya.
Tring ...
Ponsel berbunyi dan seperti biasa, Mia selalu mengghubungi tiap akhir hari, menjelang malam.
"Halo, ya, apa perkembangan hari ini," jawabku.
"Anu, Bu, Eleanor mengajukan lamaran kerja ke korporasi, tak tanggung-tanggung ia langsung menemui Pak Wakil direktur dan meminta posisi sebagai Manager keuangan."
Aku langsung terbelalak mendengar penuturan Mia dari seberang sana. Tak kusangka wanita satu itu sangat nekat dalam mengejar suamiku dan mewujudkan ambisinya.
"Lalu apa jawaban Pak Bastian?" Lanjutku.
"Pak Bastian bilang dia akan menimbangnya. Lalu, wanita itu menunjukkan surat rekomendasi dari general manager yang mau tak mau membuat Pak Bastian makin bingung bagaimana harus menolaknya."
"Katakan, bahwa kita tak membutuhkan manager sekarang," kataku cepat.
"Sebenarnya kondisi perusahaan Memang membutuhkan manager baru, Bu, karena semakin ke sini, perusahaan kita semakin sibuk, pekerja semakin banyak, regulasi keuangan harus di handle satu orang yang punya kompetensi, kebetulan Eleanor juga seorang akuntan yang handal, ia punya basic yang cocok untuk mengolah keuangan, secara administrasi, ia memenuhi semua syarat karena dia cukup berprestasi di perusahaan sebelumnya."
Mendengar hal itu membuat tenggorokanmu semakin kering dan amarahku tiba-tiba memuncak.
"Namun, posisi itu bukan untuk Eleanor, dia tidak pantas duduk di perusahaanku, aku tak setuju."
"Staf dan beberapa Dewan direksi yang merupakan sahabat dekat Pak Randy juga tak masalah dengan itu,Bu. Mereka sudah setuju, tinggal menunggu Pak Bastian," imbuh Mia.
"Aku gak setuju Mia, aku akan hancurkan Randy dan kekasihnya itu!" Aku meradang.
"Pak Bastian bisa berada di posisi yag sulit jika dia sendiri berada di pihak yabg bersebrangan, lagipula menolak orang yang berkompeten dan pantas adalah hal yang bisa memalukan Bu," ucapnya hati-hati.
"Aku akan memberinya pelajaran."
"Begini, Bu. Mari kita pisahkan urusan pribadi Ibu dengan urusan bisnis, kita lihat apa dia memang memajukan atau tidak, jika terbukti kedatangannya membuat keadaan perusaahaan semakin terperosok, maka pak Bastian akan langsung memecatnya."
"Entahlah, Mia, aku bingung," jawabku galau.
"Yang membuat semuanya rumit, karena ibu memilih untuk bersembunyi dan pura-pura mati, jadi mau tak mau Ibu tidak boleh gegabah saat ini, jika Ibu ketahuan memalsukan kematian dalam waktu dekat ini, maka akan terjadi kehebohan dan kita semua akan malu."
"Iya, benar juga," ujarku lesu.
"Sebaiknya biarkan dulu dia, karena kita pun tidak dalam posisi bagus untuk menolaknya, jika dia membuat kekacauan aku dan pak Bastian tak akan tinggal diam."
"Baik aku percaya padamu, Mia."
"Terima kasih Bu."
"Tetap laporkan kegiatan mereka padaku," pintaku.
"Siap, Bu."
Kututup telepon dengan hati yang sudah 'ketar-ketir' rasanya. Aku gemas pada mereka namun aku tak mampu menunjukkan diriku sekarang.
Wajahku yang terluka bekas pecahan kaca, ukuran tubuhku yang kian melar karena obat hormon, dan kondidi fisikku yang tiba-tiba membaik lalu kembali lemah membuatku mau tak mau harus diam di sini sembari menahan kelakuan mereka.
**
Malam bergulir merangkak larut ketika aku melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul sepuluh kurang lima belas menit. Kuraih kunci mobil milikku yang baru dibelikan Mia dari rekening pribadi yang kusembunyikan.
Kuraih cardigan dan segera turun ke basement apartement kemudian berkendara menuju pusat kota ke sebuah klinik dokter langganan ku.
Ia dokter ahli kecantikan dan pakar kesehatan khusus menangani masalah kesehatan wanita. Jadi, aku akan menemui Dokter Budi Santoso dokter yang telah menjadi langganan ku selama bertahun-tahun untuk merawat diri dan wajah.
Sesampainya di depan klinik tersebut, kuparkirkan mobil sedikit jauh, Kukenakan masker dan segera menuju ruang praktek utama di mana ia bekerja untungnya klinik ini belum ditutup, aku merasa beruntung.
Suasana klinik yang lengang membuatku sedikit lega, untuk berjalan dengan leluasa.
"Ibu mencari siapa?" Seseorang bertanya dan langsung saja kutolehka wajah padanya yang rupanya salah petugas kebersihan.
"Aku mencari dokter Budi," jawabku.
"Ia sudah pulang Bu."
"Saya langganan tetap sekaligus kawannya, boleh saya minta alamat beliau?"
"Ibu tidak memiliki alamat pak Budi?
"Ada, tapi hilang."
"Oh baik." ia menuju meja informasi lalu menuliskan alamat pada secarik kertas.
"Ini Bu," katanya.
"Terima kasih ya."
Segera kutinggalkan tempat itu dan menuju alamat yang tertera di kertas itu.
**
Tok .. tok ....
Kuketok pintu rumah itu dengan jantung yabg bertalu-talu. Aku merasa ... Mudah-mudahan ia mau menerimaku sebagai tamu malam ini.
"Siapa?" Dari balik pintu terdengar suara.
"Saya."
Panel kayu sedikit terbuka dan ketika ia melihatku, Sontak saja ia terkejut bukan main dan buru-buru menutup pintu.
Namun sigap juga kutahan pintu itu dengan tannganku.
"Tunggu Pak,". Kataku.
"Ja-jangan ganggu saya," katanya.
"Saya bukan hantu, Pak."
"Tapi kamu sudah mati," jawabnya dengan nada gemetar.
"Tidak Pak saya masih hidup."
"Tidak mungkin."
"Sungguh."
Ia perlahan membuka pintu namun dengan ekspresi masih tegang dan shocknya ia segera mundur untuk menjauhiku.
"Pak saya bukan setan, saya ke sini minta tolong pada Bapak Dokter."
"Mi-minta tolong apa?" Ia semakin gelagapan.
"Boleh. Tapi jangan dekat saya," katanya sambil menjaga jarak dan memundurkan diri ke dinding.
Jujur aku ingin tertawa namun karena menghargainya rasa geli dalam perutku hanya kukulum di bibir saja.
"Apa yang kamu mau?" Lanjutnya.
"Ubah saya, Pak."
Seketika ia oleng dan langsung jatuh terduduk di lantai.
Next ya. Jangan lupa vote dan ulasannya. ❤️❤️