168

1179 Words

"Aisyah!" Ketukan dipintu menghentikanmu Isakan tangisku yah tersembunyi dari anak anak dan orang tuaku. Sepertinya itu suara Lili sepupuku anak Tante Yuli. "Ya ...?" "Wak Imam ingin bicara, segera keluar," ucapnya sambil menyebut nama ayahku. "Iya, baik," jawabku, sambil mengusap wajah lalu pergi ke wastafel untuk mencuci muka. Tak kusangka ketika sudah sampai di ruang tamu ternyata mas Hamdan sudah datang dan terlihat khawatir sekali kepada kami bertiga. "Aisyah, kamu baik baik saja?" tanyanya yang langsung bangun dan memegangi kedua bahuku. Aku sebenarnya merasa tidak enak dengan keluargaku karena orang yang memegang ku ini adalah suami orang tapi sepertinya Mas Hamdan tidak memperdulikan itu. "Aisyah benarkah insiden itu terulang lagi?" tanyanya dengan suara cemas. "Memangnya ak

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD