167

1238 Words

Melihat Mas Irsyad terkapar pingsan aku segera mengambil koper dan surat-surat yang kuperlukan untuk mengajukan gugatan cerai, lalu aku segera mengajak anak anakku pergi. "Ayo Zahra, Raihan," ucapku. "Aku bagaimana Bunda?" tanya Aisyah dengan wajah takut, sebenarnya tak manusiawi dan berperasaan meninggalkan bocah itu dengan keadaan ayahnya yang pingsan tapi aku harus bagaimana lagi. Kuhampiri Gadis itu lalu memeluknya dan merangkul bahunya sambil menatap matanya. "Dengar Nak, ayah dan Bunda tidak bisa disatukan lagi, jadi bunda harus pergi! Ayah akan bangun dan baik baik saja." "Terus ayah kenapa, a-apakah ayah mati?" tanyanya pelan. "Tidak Nak, tidak mati, dia hanya pingsan, akan sadar sebentar lagi," balasku pelan. "A-aku ta-takut, Bunda." "Telponlah ibumu, dia akan membantu

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD